Kemenangan

Kata-kata menang atau kemenangan kian semarak menjelang berakhirnya bulan Ramadhan. Tak hanya tahun ini, namun pada tiap akhir Ramadhan. Seolah-olah para pelaku shaum itu akan menggapai kemenangan pada akhirnya. 

Namun yang jadi pertanyaan adalah menang terhadap apa, atau menang melawan siapa? Sebagian orang mengatakan, wajar jika kaum beriman menyambut indah dan semaraknya kemenangan Idul Fitri dengan suka cita, karena sebulan penuh mereka berpuasa. Sebulan penuh menahan nafsu dan angkara. Maka kemenangan Idul Fitri adalah sebuah harapan.

Benarkah esensi puasa di bulan Ramadhan hanya untuk menciptakan para pemenang? Bukannya menciptakan pribadi-pribadi takwa sebagaimana yang ditegaskan Allah, “…Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Manusia tidak berperang dengan hawa nafsunya hanya pada saat Ramadhan, tapi sepanjang jasadnya masih ditempeli ruh. Sepanjang nafasnya masih berembus. Peperangan melawan hawa nafsu adalah peperangan sepanjang hayat. Tidak dikotak-kotakkan oleh peredaran bulan atau pergantian masa.

Nafsu diciptakan tidak untuk diperangi tapi dikendalikan. Itulah mengapa al-Ghazali kerap mengatakan, orang-orang yang mampu mengekang hawa nafsunya ialah kebanyakan mereka yang menjauhi kesenangan duniawi. “Kesenangan duniawi itu racun yang membunuh, yang mengalir dalam urat,” tegasnya.

Sementara di sekitar kita, akhir Ramadhan bukan digeber dengan meningkatkan kualitas ibadah dan intensitas hubungan transenden dengan-Nya, namun dihiasi dengan asyiknya kunjungan ke pusat-pusat perbelanjaan. Sebuah aktifitas yang sangat bernuansa keduniawian. Bagaimana bisa menyebut diri berhasil memerangi hawa nafsu, sehingga layak meraih kemenangan.

Boro-boro meraih target takwa, yang dikhawatirkan justru kita menjadi pemenang dalam meraih rasa lapar dan dahaga semata. Takwa itulah sebenarnya target Ramadhan, bukan kemenangan. Takwa yang dalam terminologi Umar bin Khaththab, sampai pada tahap meninggalkan keraguan yang ada di hati. Keraguan akan selain Dia.

Mari mencoba memaksimalkan segala potensi Ramadhan untuk meraih takwa. Mari bertakwa kepada Allah semampu kita. Mudah-mudahan Allah SWT memberikan kemudahan.*

Posted in

Leave a comment