TKW

Kasus Sumiati, TKW (Tenaga Kerja Wanita) asal Dompu, Nusa Tenggara Barat yang disiksa majikannya di Madinah, Arab Saudi, begitu mengguncang logika dan akal sehat.

Derita yang menimpa perempuan muda berusia 23 tahun ini menyeruak di sela-sela pelaksanaan ibadah haji. Saat umat Islam menunaikan perintah Allah, menyempurnakan rukun Islam yang kelima.

Apa yang menimpa Sumiati adalah satu di antara sekian tumpukan kasus kekerasan yang mencuat terhadap buruh migran Indonesia di negara kerajaan itu. Dengan sistem masyarakat yang serba tertutup, setitik noktah yang muncul dari balik pintu rumah mereka akan memantik reaksi besar.

Kekerasan terhadap perempuan—yang dianggap ‘budak’ oleh sebagian bangsa Arab—di Tanah Suci, akan mengembalikan benak orang ke tradisi jahiliyah masa silam. Sebuah era kelam pra-Islam, di mana Arab doyan menyakiti perempuan.

Kita tentu tak hendak menghakimi, apalagi menjustifikasi kasus yang dialami Sumiati sebagai warisan jahiliyah yang coba dilestarikan majikan yang menyiksanya. Hingga dengan mudahnya melakukan hal-hal ‘nyeleneh’ dalam memperlakukan pembantunya.

Dan orang-orang juga bebas berpendapat atau mendalihkan kekejian sang majikan sebagai urusan privat yang tak ada hubungannya dengan kultur masyarakat tertentu. Karena kekerasan dapat terjadi di mana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja. Sehingga tak adil rasanya menghipotesis bangsa anu barbar hanya karena kelakuan seorang warganya.

Anehnya, ketertutupan masyarakat Saudi dengan segala dinamikanya, termasuk bayang-bayang ‘peninggalan’ jahiliyah itu, tak jua mengurangi derasnya aliran TKW yang mengadu nasib ke sana. Bahkan menjadi semacam kebanggaan jika mereka berhasil menginjak Tanah Haram, dan kembali pulang kampung dengan riyal di tangan.

Dan kisah sukses ini akan terus menyebar ke seantero negeri, menjadi cerita berseri yang tak jelas kapan tamatnya. Kesuksesan seseorang di negeri seberang itu mengundang minat yang lain untuk mengadu peruntungan, hingga siklus ini berlangsung 25 tahun lebih.

Negeri ini kerap disebut bak ‘tetesan surga’, merujuk pada keroyalan Tuhan dalam melimpahkan segala karunia. Sayang anugerah yang melimpah ini belum mampu menenteramkan penduduknya. Pemerintahnya belum mampu menjamin kesejahteraan rakyat, hingga mereka terpaksa mengais rezeki di gurun sana.*

Posted in

Leave a comment