“There are no secrets that time does not reveal.” (Tiada rahasia yang tak terungkap oleh waktu).
Pada lembaran pembuka bukunya yang berjudul Legacy of Ashes: The History of The CIA, Tim Weiner mengutip kata-kata Jean Racine—dramawan dan penyair Prancis abad ke-17—dalam salah satu masterpiece-nya, Britannicus (1669).
Kutipan Weiner memang cocok dengan isi bukunya; seluk-beluk dunia misteri nan rahasia, dunia intelijen. Reporter The New York Times ini mengupas secara mendalam jeroan CIA, terutama borok-boroknya yang tertutupi selama puluhan tahun.
Mungkin wartawan peraih Pulitzer itu hendak menyampaikan sebuah pesan; kerja yang dimotivasi dan digerakkan dengan semangat misterius akan tetap terungkap. Hanya soal waktu saja!
Dan kini dunia dikagetkan dengan kemunculan Julian Assange dan WikiLeaks-nya. Lelaki tirus kelahiran Australia ini mengguncang jagad informasi global dengan membocorkan dokumen-dokumen berklasifikasi rahasia, terutama—dan lagi-lagi—yang terkait dengan AS.
Awal gebrakan WikiLeaks terjadi akhir Juli lalu dengan mengumbar dokumen rahasia perang Afghanistan bertajuk War Diary: Afghanistan War Logs di laman daringnya. Kebocoran ini membuat AS syok dan ‘kebakaran kumis’.
Tiga bulan kemudian WikiLeaks kembali menelanjangi keborokan perang Irak dengan bocoran dokumen War Diary: Iraq War Logs. Kali ini AS mulai kalang kabut dan kebakaran jenggot. Negara adi daya itu bersumpah akan menyeret Assange ke pengadilan.
Bukannya kapok, sebulan kemudian—tepatnya 28 November 2010—WikiLeaks membalas dengan membocorkan telegram-telegram rahasia sejumlah kedutaan besar AS di luar negeri. Dokumen berjudul Cablegate: 250.000 US Embassy Diplomatic Cables ini membuat AS kalap dan naik pitam. Assange diburu, situsnya diblokir.
John B Judis, editor senior New Republic, mengkategorikan aksi WikiLeaks sebagai pembocoran terbesar ketiga dalam sejarah diplomasi satu abad terakhir, setelah Vladimir Lenin dan Daniel Ellsberg.
Lenin membeberkan Perjanjian Sykes-Picot 1916; persekongkolan Inggris, Prancis dan Tsar Rusia yang membagi-bagi wilayah Timur Tengah yang dikuasai Turki. Ellsberg membocorkan dokumen Departemen Pertahanan AS pada 1971 yang berisi kebohongan perang Vietnam.
Assange dan WikiLeaks membuka episode terdahsyat ketiga dengan ‘tiupan peluitnya’. Cukup nyaringkah bunyinya hingga dapat merobek gendang telinga AS?*

Leave a comment