Presiden Mesir Husni Mubarak mempertahankan kekuasaan dengan tangan besi selama 30 tahun. Kediktatorannya bahkan disejajarkan dengan Fir’aun, penguasa Mesir kuno yang terkenal zalim dan menahbiskan diri sebagai tuhan.
Kekayaan pribadinya diperkirakan mencapai US $ 31 juta lebih. Namun kini popularitasnya di titik nadir. Kepercayaan rakyatnya pupus sudah, seiring dengan bergolaknya prahara yang melanda negeri.
Selama menikmati kekuasaan tanpa perlawanan, ia relatif mampu mempertahankan stabilitas negara sembari menjalin hubungan baik dengan Barat (AS) dan Israel. Namun kemesraan ini bukannya tanpa harga. Lawan-lawan politiknya mengeluhkan kemiskinan, korupsi dan kebrutalan negara.
Dilahirkan dengan nama Muhammad Husni Said Mubarak pada 1928 di sebuah desa di Delta Nil, ia ditakdirkan berkarier di angkatan bersenjata. Ia lulus dari Akademi Militer Mesir pada 1949. Usai perang Arab-Israel 1973, Mubarak dipromosikan menjadi marsekal angkatan udara. Dan pintu kekuasaan pun terbuka untuknya.
Mubarak menikah dengan Suzanne, putri seorang perawat dari Pontypridd, Wales, Inggris. Lelaki 82 tahun ini pun tak asing dengan risiko jabatan tinggi. Setidaknya, ia enam kali lolos dari upaya pembunuhan.
Sebagai pelayan setia Presiden Anwar Sadat, ia diangkat menjadi Wakil Presiden pada 1975 dan memainkan peran penting dalam memperkuat hubungan Mesir dengan Barat. Kariernya melejit sejak Oktober 1981 ketika mewarisi kursi kepresidenan usai wafatnya Sadat.
Didukung kondisi negara yang senantiasa darurat, Mubarak kerap melakukan penangkapan terhadap para penentangnya, terutama mereka yang dituding sebagai ekstremis Islam. Sejak mendapatkan kekuasaan, Mubarak memerintah dengan gaya militer. Dengan mudah ia menangkap dan menahan siapa pun yang dianggap membahayakan.
Di lain pihak, ia terus menjaga hubungan baik dengan AS juga Israel, walau mendapat kecaman. Bagi Mubarak, hubungan baik dengan AS dan Israel jauh lebih berharga ketimbang berempati terhadap persoalan Palestina, misalnya. Tak heran jika ia begitu dekat dengan sejumlah pemimpin Israel.
Sebagaimana tiap perjalanan yang membutuhkan perhentian, kekuasaan pun demikian adanya. Ia pasti berakhir di titik terujung. Cengkeraman Mubarak kian melemah, ia takkan mampu melawan sunnatullah yang dipergilirkan.*

Leave a comment