Menghapus Noktah Hitam Poso

Siang itu, Selasa 23 Mei 2000, ribuan orang Kristen menyerbu Desa Tokorondo, Poso Pesisir, Sulteng. Serangan ini merupakan salah satu episode dalam rangkaian panjang konflik Poso yang bermula sejak 1998 saat RI dilanda euforia Reformasi.

Serangan serentak Pasukan Merah di sejumlah lokasi ini membuat pihak Muslim kalang kabut. Mereka tak sempat melakukan persiapan. Tokorondo pun terbakar. Ratusan Muslim meregang nyawa, yang selamat mengungsi ke tempat aman.

Baso M Tahir, warga Tokorondo yang selamat, geram dan marah. Lima anggota keluarganya—dua paman dan tiga sepupu—tewas jadi korban.

“Saya mengenali mereka lewat gigi dan sisa baju mereka yang hangus. Sebagian lagi saya kenali dari tulang kaki yang digantung di atas pohon,” tutur lelaki yang biasa disapa Ateng ini.

Kepala Desa Tokorondo A Jabir meminta pemuda dan pria dewasa bertahan semampu mereka, memberi kesempatan kepada wanita dan anak-anak untuk mengungsi ke tempat aman.

“Setelah bertahan sekitar setengah hari, kami pun mundur dan ikut mengungsi,” Ateng melanjutkan kisahnya.

Warga Tokorondo berjalan kaki sejauh 80 kilometer ke tempat pengungsian di wilayah Parigi Mutong. Satu bulan tinggal di tempat pengungsian, Ateng merasa tidak nyaman. Ia dan beberapa temannya pun berinisiatif kembali ke desa mereka.

Menumpang truk, polisi mereka berangkat ke Poso. Tokorondo yang mereka dapati hancur lebur, sebagian besar bangunan telah rata dengan tanah. Ateng kemudian mengurus kebunnya sambil berjaga-jaga jika ada serangan susulan. Tak lama kemudian, sejumlah warga lain datang menyusul.

Sumber: Riset Institut Titian Perdamaian (ITP)
Sumber: Riset Institut Titian Perdamaian (ITP)

Menjelang akhir 2000-an, Ateng mendapatkan formulir yang disebar sejumlah orang. Isinya berupa ajakan untuk mengikuti tadrib askari (latihan militer). Ateng dan 15 orang rekannya kemudian bergabung dalam latihan itu. Ia menjalani tadrib selama tiga bulan dengan berpindah-pindah tempat di gunung-gunung seputaran Poso.

Para pelatih tadrib, tutur Ateng, rata-rata orang Jawa bekas pejuang Moro (Filipina Selatan). Ia dan peserta lainnya mendapatkan latihan fisik, tembak-menembak, strategi penyerangan dan pertahanan, hingga siraman rohani.

Setelah dinyatakan lulus, ia mendapatkan jatah senjata api organik dan amunisi. Inilah yang mereka gunakan untuk membalas serangan yang dilakukan Pasukan Merah.

Ateng kemudian diangkat sebagai kepala pasukan wilayah Poso Pesisir. Sejak awal 2001, ia dan pasukannya mulai menyerang secara gerilya. Hal itu berlangsung beberapa lama. Namun, memasuki 2003, Ateng merasa lelah. Apalagi, kebunnya tak ada yang mengurus. Ia pun memutuskan berhenti berjuang.

Konflik komunal yang melanda Poso pada 1998, menurut sebagian pihak yang terlibat, terjadi karena pemerintah lamban mengantisipasi gejolak di masyarakat. Padahal, provokasi tentang bakal munculnya aksi saling serang semakin merebak. Maka, perang saudara pun pecah di kota berjuluk Sintuwu Maroso itu.

Sumber: Riset Institut Titian Perdamaian (ITP)
Sumber: Riset Institut Titian Perdamaian (ITP)

Jimmy Metusala, salah seorang mantan komandan Pasukan Merah, mengungkapkan, penyerangan yang dilakukan ke kantong-kantong komunitas Muslim bergantung pada situasi dan kondisi. “Bisa pagi, siang, atau malam hari. Tergantung pula pada kesiapan pasukan,” ujar pria 43 tahun itu.

Pasukan Jimmy dan pasukan Ateng bahkan kerap baku tembak di sejumlah lokasi pertempuran. Senjata yang digunakan, kata Jimmy, umumnya senjata api rakitan. Ada juga senjata tradisional, seperti panah, pedang, dan tombak.

Selain memimpin penyerangan, tugas Jimmy lainnya adalah mengoordinasi pemuda-pemuda Kristen untuk menjaga daerah mereka agar tidak diserang musuh. Ia juga memimpin evakuasi terhadap warga yang jadi korban serangan pasukan Muslim.

Jimmy menuturkan, banyak desa Muslim yang telah diserangnya. Dalam tiap kontak senjata, ia tak tahu berapa banyak korban yang berhasil dibunuh. “Korban dari pihak Muslim banyak. Korban dari pasukan Kristen juga banyak,” kata warga Lombogia, Poso Kota, itu.

Kini, Jimmy merasa menyesal. Ia mengakui, tindakan yang ia lakukan salah dan berdampak buruk bagi orang lain. “Pada saat konflik, kita tidak memedulikan nilai-nilai kemanusiaan. Targetnya membunuh atau dibunuh. Pada tahap ini, orang sudah kehilangan akal sehat,” ujarnya lirih.

Kondisi Poso saat ini mulai membaik. Jimmy pun bebas berhubungan dengan teman-temannya yang Muslim. Bahkan, ia dan Ateng kini jadi sahabat karib. Keduanya bertekad menghapus sisi kelam sejarah Kota Sintuwu Maroso yang mereka cintai. “Kami menjalin komunikasi dan berbagi informasi. Jika ada rumor atau isu kami juga saling klarifikasi,” katanya.

Jimmy berharap, ke depan tak ada lagi konflik di Poso. Menurutnya, banyak hal yang bisa dilakukan dalam menyelesaikan masalah tanpa menggunakan kekerasan. Bagi Ateng, ia hanya ingin pemerintah semakin aktif berperan dalam membangun komunikasi antarwarga. Komunitas Muslim dan Nasrani harus bisa bersatu kembali dan tak tersekat lagi.

Walau terlalu muluk, kata Ateng, ia bermimpi Poso bisa kembali seperti dulu di mana masyarakat Muslim dan Kristen kembali duduk berdampingan. Membangun rumah bersama, menggarap sawah bersama, hingga badero (menari tarian khas Poso) bersama.*

 

 

Posted in

Leave a comment