Bermula dari Pendidikan (1)

Taiwan tak memiliki sumber daya alam melimpah laiknya Indonesia, namun negara ini mampu menunjukkan diri sebagai salah satu negara industri terkemuka.

Secara geografis, Taiwan terletak di tengah mata rantai kepulauan yang membentang dari Jepang di utara dan Filipina di selatan. Negara pulau ini hanya berjarak 160 kilometer dari tenggara pantai Cina daratan. Taiwan adalah pintu masuk menuju kawasan Asia Timur.

Luas wilayah Taiwan hanya 36.193 kilometer persegi. Berdasarkan sensus 2012, populasi negeri ini tercatat sebanyak 23.31 juta jiwa. Dengan jumlah penduduk 644 jiwa per kilometer persegi, Taiwan dapat disebut sebagai salah satu kawasan padat di dunia.

Sepertiga daratan Taiwan terdiri dari pegunungan, yang membentang dari utara ke selatan. Sekitar 60 persen tanahnya terdiri dari hutan. Namun, sumber daya dan hasil hutan Taiwan kurang dieksploitasi karena terbatasnya akses dan minimnya perhatian pada sektor ini. Hanya 60 persen tanah di Taiwan yang dijadikan lahan garapan.

Diuntungkan cuaca subtropis, petani di negeri ini berhasil panen padi dan buah secara berkelanjutan sepanjang tahun. Walau begitu, produksi agrobisnis Taiwan hanya menyumbang 1,9  persen bagi pendapatan domestik bruto (PDB) pada 2012.

Taiwan memang memiliki cadangan batu bara, kapur, marmer, dolomit dan gas alam, namun jumlahnya tak terlalu signifikan. Karenanya, lebih dari 90 persen kebutuhan energi Taiwan diperoleh dari impor. Akibat pesatnya perkembangan industrialisasi, Taiwan lebih banyak mengandalkan bahan baku impor.

Namun demikian, Taiwan memiliki sumber daya yang cukup pada populasinya. Inilah yang disebut-sebut sebagai kunci keberhasilan pembangunan ekonomi negeri itu. “Sumber daya Taiwan adalah manusianya,” demikian slogan yang kerap didengungkan.

Selama enam dekade terakhir, Taiwan berhasil mencapai prestasi yang luar biasa karena pesatnya pertumbuhan ekonomi. Keberhasilan ini dicapai karena kombinasi dua elemen; upaya keras warganya dan strategi pengembangan ekonomi pemerintah. Taiwan pun dikenal dunia dengan sebutan “Taiwan Experience”.

Sepanjang 1952-2012, pendapatan per kapita Taiwan naik dari 213 dolar AS menjadi 20.386 dolar AS. Sementara PDB-nya meningkat dari 1,7 miliar dolar AS ke angka 473,3 miliar dolar AS. Di lain pihak, perdagangan luar negeri Taiwan meningkat dari 303 juta dolar AS menjadi 567 miliar dolar AS. Inilah yang menyebabkan Taiwan menduduki peringkat ke-17 negara eksportir terbesar dunia, dan peringkat ke-18 negara importir terbesar di dunia.

Seiring dengan perkembangan pembangunan selama enam dekade terakhir, Taiwan berhasil bertransformasi dari negara berbasis agrobisnis menjadi salah satu pemain kunci dalam industri teknologi informasi komunikasi (TIK).

Pada 2012, Taiwan termasuk dalam jajaran tiga besar penyuplai 35 macam produk industri. Negara ini juga termasuk penyuplai nomor satu untuk 20 macam produk teknologi, mulai dari laptop, PC tablets, cakram optik, hingga produk-produk berbasis nirkabel. Taiwan lantas dinobatkan sebagai salah satu pemain penting dalam mata rantai suplai teknologi global.

Kekuatan ekonomi Taiwan juga diraih berkat investasi langsung di negara-negara lain. Pada akhir 2012 misalnya, nilai investasi Taiwan di Cina daratan melonjak tajam hingga lebih dari 126,1 miliar dolar AS. Angka ini membuatnya menjadi salah satu investor asing terbesar di tanah Tiongkok.

Pada kurun waktu bersamaan, investasi Taiwan di negara-negara ASEAN juga merangkak naik hingga lebih dari  80,3 miliar dolar AS. Investasi Taiwan di Vietnam dan Thailand misalnya, merupakan tiga terbesar di antara negara-negara lain.

Raihan Taiwan yang menakjubkan di bidang ekonomi ini tak lepas dari peran Dewan Pengembangan Nasional (NDC), Institut Riset Ekonomi Taiwan (TIER), dan lembaga-lembaga pengembangan teknologi berbasis universitas. Masing-masing lembaga tersebut memberikan sumbangsih besar dalam mengarahkan pembangunan ekonomi Taiwan dengan memberikan sejumlah masukan, hasil riset, hingga implementasi kebijakan pembangunan.

Deputi Direktur Departemen Perencanaan NDC Mei-Chu Chen mengatakan, salah satu faktor penting yang membuat negaranya berhasil maju dalam industri dan teknologi adalah pendidikan. Selain membangun sistem pendidikan sendiri, Taiwan juga mengadopsi sistem pendidikan di sejumlah negara-negara maju.

“Kami juga mengirimkan para pelajar dan mahasiswa untuk menimba ilmu ke luar negeri melalui program beasiswa. Ketika selesai studi, mereka kembali ke Taiwan dan terlibat dalam pembangunan negara ini,” ujarnya.

Terkait peran NDC dalam pemerintahan Taiwan, Chen mengatakan lembaganya tak ubahnya kabinet kecil. Tugas resmi NDC adalah sebagai lembaga think tank bagi presiden dan premier (perdana menteri).

“Kami terlibat dalam perencanaan pembangunan nasional sekaligus mengarahkan pemerintah dalam mengimplementasikannya secara terukur sesuai target. Kami juga melakukan pengawasan dalam proses pelaksanaan program tersebut.”

Masukan yang diberikan NDC kepada presiden atau premier tersebut lantas akan diimplementasikan sesuai dengan bidang garapan. Apakah itu terkait dengan ekonomi, politik, sosial-budaya, dan lainnya. Di Indonesia, peran NDC lebih mirip dengan yang dilakukan Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).

Posted in

One response to “Bermula dari Pendidikan (1)”

  1. […] ECFA adalah perjanjian perdagangan preferensial antara pemerintah Tiongkok dan Taiwan yang bertujuan untuk mengurangi tarif dan hambatan perdagangan antara kedua belah pihak. Pakta yang ditandatangani pada 29 Juni 2010 di Chongqing, Cina ini dipandang sebagai perjanjian paling signifikan bagi kedua negara.* […]

    Like

Leave a comment