TIER
Selain NDC, peran TIER dalam pembangunan Taiwan juga tak bisa dianggap remeh. Institut yang didirikan pada 1 September 1976 oleh Dr Chen-Fu Koo ini termasuk lembaga think tank swasta independen pertama di Taiwan.
Tujuan utama lembaga ini adalah terlibat aktif dalam penelitian ekonomi domestik dan luar negeri. Lembaga ini juga memberikan konsultasi kepada pemerintah dan perusahaan serta mempromosikan pembangunan ekonomi Taiwan.
Saat ini, TIER telah berkembang pesat dan menghasilkan sejumlah penelitian penting bagi Taiwan. Selama 30 tahun terakhir, TIER berhasil membangun reputasi profesionalnya di antara lembaga think tank lainnya di Taiwan. Laporan penelitian, hasil riset industri, prediksi ekonomi, dan berbagai publikasi yang dihasilkan lembaga ini sangat diakui.
TIER juga aktif berpartisipasi dalam menangani urusan internasional yang memungkinkan lembaga ini mendapatkan pemahaman kuat tentang tren bisnis teranyar. Dengan pemahaman tersebut, TIER memberikan analisis dengan perspektif global serta merumuskan kebijakan alternatif yang optimal bagi dunia usaha dan pemerintah.
Selain itu, TIER melakukan upaya bersama dengan NDC dalam membantu program-program Kementerian Ekonomi Taiwan (MOEA). “Untuk itulah, menjelang KTT APEC 2014 mendatang, kami dilibatkan oleh Pemerintah Taiwan sebagai konsultan ekonomi,” kata Peneliti TIER, Dr Wayne Chen.
Jatuh bangun
Dengan sejumlah prestasi yang mengagumkan di bidang ekonomi, tak berarti perkembangan ekonomi Taiwan melulu melaju di jalur bebas hambatan. Ketika krisis ekonomi melanda kawasan pada paruh akhir 1990-an, Taiwan juga terkena imbas sebagaimana negara-negara Asia lainnya. Krisis tersebut menyebabkan perekonomian Taiwan yang mulanya melonjak jadi merosot.
“Harus kami akui, krisis tersebut menyebabkan perekonomian kami turun-naik. Ekspor produk kami, terutama peripherals (komputer dan perlengkapannya) jadi tersendat,” ujar Direktur Jenderal Departemen Informasi Internasional Kementerian Luar Negeri Taiwan, Manfred PT Peng.
Namun, kata Manfred, negaranya mampu bangkit dari keterpurukan sehingga menjadi salah satu negara industri yang diperhitungkan di dunia. “Sebagaimana diketahui, saat ini Taiwan termasuk negara yang unggul di bidang industri komputer dan teknologi informasi. Kami memproduksi komputer, chips, gadgets, smartphones (telepon pintar), hingga peralatan solar system (tenaga surya) berkualitas tinggi,” ungkapnya.
Dengan keunggulan di bidang industri teknologi tersebut, kata dia, Taiwan pun menjadi satu negara yang diperhitungkan di dunia. Oleh sebab itu, KTT APEC 2014 menjadi ajang penting bagi Taiwan untuk memperluas kerja sama di bidang ekonomi dengan negara-negara anggota lainnya terutama Cina. Sebab, sebagian besar tujuan ekspor produk Taiwan adalah ke Cina.
“Kami terus berupaya menjalin komunikasi yang intens dengan Cina, terutama yang terkait dengan pengembangan kerja sama ekonomi kedua negara.”
Kebijakan jangka panjang Taiwan agar berhasil dalam menjalin hubungan internasional dengan negara-negara lain terdapat dalam tiga hal mendasar. Pertama, Taiwan akan terus berupaya mewujudkan misinya dengan segala kemampuan yang ada. Kedua, mencari dukungan internasional. Ketiga, memelihara hubungan baik dengan Cina melalui the Cross-Straits Economic Cooperation Framework Agreement (Perjanjian Kerangka Kerja Sama Ekonomi Lintas Selat).
Masyarakat Ekonomi Digital
Organisasi internasional APEC beranggotakan 21 negara. Bagi Taiwan, organisasi ini sangat penting karena posisinya yang strategis sebagai tujuan ekspor. Sedikitnya, APEC menggelar pertemuan hingga 200 kali per tahun, skala besar maupun kecil. Tentu saja Taiwan tak ingin melewatkan kesempatan-kesempatan itu, baik untuk memperluas jaringan bisnis maupun mencari dukungan politik.
“Kami terus berpartisipasi dalam pertemuan-pertemuan APEC dan telah mengirimkan sekitar 500 utusan tiap tahunnya. Di Taiwan sendiri, kami menggelar workshop terkait APEC hingga 20 kali per tahun,” ujar Direktur Jenderal Departemen Organisasi Internasional Kementerian Luar Negeri Taiwan, Tom Chou.
Menurut Chou, workshop yang digelar itu sangat bermanfaat dalam memberikan pemahaman kepada warga terkait peran Taiwan di APEC. Agenda-agenda workshop 2014, kata dia, membahas soal reformasi ekonomi, pendidikan, dan pengembangan infrastruktur. “Tahun ini adalah masa yang penting untuk mengembangkan inovasi ekonomi agar posisi Taiwan semakin penting di mata negara-negara lain.”
Oleh sebab itu, Chou menegaskan, Taiwan ingin berperan lebih banyak lagi di bidang ekonomi dan investasi maupun politik. Tahun ini pula Taiwan menyempurnakan program Apec Digital Opportunity Center (ADOC) yang targetnya untuk menjembatani kebutuhan warga Taiwan dan komunitas APEC agar dapat berkiprah dalam dunia usaha berbasis teknologi.
Proyek ini pertama kali diinisiasi dalam Pertemuan Pemimpin APEC di Bangkok pada 2003. Tujuannya untuk membantu transformasi kesenjangan digital menjadi peluang digital di seluruh wilayah Asia-Pasifik.
Program ADOC memanfaatkan keunggulan industri teknologi dan pengalaman Taiwan dalam mengembangkan e-society (masyarakat melek internet) guna membantu negara anggota APEC dalam meng-upgrade kemampuan aplikasi teknologi mereka. Bagi Taiwan, proyek ADOC termasuk satu program paling signifikan dalam keterlibatannya di APEC sejauh ini.
Inisiatif ADOC menyasar tiga target utama. Yakni, meningkatkan visibilitas dan partisipasi Taiwan di dunia internasional, memperkuat hubungan dengan anggota APEC lainnya, serta mengembangkan peluang bisnis di kawasan APEC.
“Hingga kini, ADOC telah melibatkan lebih dari 630 ribu orang dari seluruh negara anggota APEC. Sasaran utama program ini adalah wanita, anak-anak, dan orang-orang yang kurang beruntung secara ekonomi,” beber Chou.
Bentuk programnya bermacam-macam. Mulai lokakarya, seminar, diskusi, hingga pelatihan berbasis teknologi informasi yang diharapkan dapat membuka peluang peningkatan pendapatan masyarakat.*

Leave a comment