Senin 15 Juni 2015 menjadi hari yang bersejarah dari rangkaian panjang program pembangunan Rumah Sakit (RS) Indonesia di Jalur Gaza, Palestina.
Pada hari itulah, relawan MER-C di Jalur Gaza melakukan soft opening RS Indonesia. Pembangunan fisik RS telah rampung, proses pengadaan alat kesehatannya pun telah mencapai tahap akhir.
Salah satu proses penting dalam acara ini adalah penandatanganan MoU serah terima RS Indonesia. MER-C selaku inisiator pembangunan RS Indonesia, menyerahkan bangunan fisik RS Indonesia berikut seluruh alat kesehatan yang ada di dalamnya kepada rakyat Palestina.
Penandatanganan MOU dilakukan oleh Nur Ikhwan Abadi, salah satu relawan MER-C di Gaza selaku wakil dari rakyat Indonesia dan Dr Ashraf Abu Mahadi selaku Dirjen Hubungan Luar Negeri Kementerian Kesehatan, mewakili rakyat Palestina.
Bendera kedua negara tampak menghiasi area RS Indonesia sebagai tanda ikatan dan silaturahmi yang semakin erat antara kedua bangsa. Prosesi sederhana serah terima itu dihadiri oleh seluruh relawan Indonesia yang berjumlah 19 orang, para pejabat dan rakyat Gaza.
RS Indonesia akhirnya diputuskan untuk diserahterimakan dengan tujuan agar Kementerian Kesehatan Palestina bisa segera melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan. Dengan begitu, RS Indonesia bisa segera beroperasi.
Di antaranya mempersiapkan SDM lokal yang akan bertugas, mempersiapkan manajemen RS, dan mengadakan pelatihan-pelatihan bagi sumber daya manusia (SDM) yang akan mengoperasikan alat-alat medis tertentu.
Selanjutnya, sebagai acara puncak dari rangkaian ini, MER-C akan melakukan grand opening RS Indonesia. Yaitu, peresmian dan pembukaan RS yang rencananya akan dihadiri oleh delegasi dari Indonesia.
Sejumlah pejabat Indonesia, bahkan Presiden RI, Ketua DPR RI serta donatur RS Indonesia telah menyatakan kesediaannya untuk hadir pada acara ini.
“Kami berharap grand opening RS Indonesia bisa terlaksana dalam waktu dekat. Dan saat itu, RS Indonesia telah dapat beroperasi memberikan pelayanan kesehatan kepada rakyat Gaza yang membutuhkan,” ujar Presidium MER-C, Jose Rizal Jurnalis, dalam surat elektroniknya, akhir pekan lalu.
Diresmikan Presiden
Berbagai persiapan menuju momentum bersejarah grand opening RS Indonesia tengah dilakukan. Di antaranya audiensi dengan sejumlah pejabat pemerintahan untuk melaporkan perkembangan pembangunan RS Indonesia dan rencana grand opening.
Program ini mendapat apresiasi mendalam salah satunya dari Presiden RI. Tim MER-C berkesempatan bertemu dengan Presiden RI Joko Widodo di Istana Negara, Rabu 17 Juni 2015 lalu.
Saat menerima tim MER-C, Presiden Jokowi didampingi Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Wakil Menteri Luar Negeri AM Fachir, dan Tim Komunikasi Presiden Teten Masduki.
Mendengar pemaparan tentang RS Indonesia, Presiden Jokowi menyatakan keinginannya untuk memenuhi undangan MER-C ke Gaza untuk meresmikan rumah sakit tersebut. Presiden bahkan meminta pejabat yang mendampinginya untuk menyusun rencana kunjungan ke Jalur Gaza, Palestina.
Pratikno menyampaikan, Presiden sangat tertarik dengan pembangunan RS Indonesia di Gaza, yang merupakan RS terbesar di Gaza yang dibangun oleh masyarakat Indonesia. Pembangunan RS itu adalah sumbangan dari rakyat Indonesia.
“RS Indonesia di Gaza akan menjadi titik tambahan dari rencana kunjungan Presiden ke Timur Tengah yang sampai saat ini belum terjadwal. Sebab, perlu komunikasi dengan negara-negara di Timur Tengah yang sedang dijajaki oleh Kemenlu RI,” kata Pratikno.
Ia menambahkan, bagi Presiden yang menarik adalah pembangunan RS tersebut yang murni merupakan kontribusi masyarakat Indonesia. “Recehan yang dikumpulkan dari seluruh Indonesia tanpa dana dari pemerintah, tanpa dana dari masyarakat negara lain.”
Selain Presiden RI, Ketua DPR RI Setya Novanto juga mengapresiasi pendirian RS Indonesia. Ia juga menyambut baik menyambut baik rencana peresmian dan grand opening RS Indonesia dan berniat hadir pada acara ini.
Hal ini disampaikan Setya Novanto saat menerima audiensi tim MER-C pada Senin 20 April 2015 lalu, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta.
Di kesempatan lain, Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi, menyampaikan harapannya agar RS Indonesia yang merupakan pemberian dari masyarakat Indonesia untuk masyarakat Palestina bisa menjadi pemersatu faksi-faksi yang ada di Palestina.
Retno juga berpesan agar pemberian bantuan bagi rakyat Palestina itu jangan hanya kepada salah satu golongan atau kelompok.
Menanggapi hal ini, Ketua Divisi Konstruksi MER-C Idrus M Alatas mengatakan, dalam pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza selama ini, MER-C dan relawannya berusaha menjalin komunikasi dengan semua faksi yang ada di Palestina.
“Begitupun dengan penyaluran bantuan kemanusiaan yang ditujukan bagi semua kelompok yang membutuhkan. Tidak terbatas pada kelompok tertentu saja,” kata Idrus.
Terkait undangan untuk menghadiri grand opening RS Indonesia, Menteri Retno mengaku belum bisa mengonfirmasikan hal tersebut. Sebelum adanya kepastian untuk memasuki wilayah Gaza yang diblokade.
RS nan canggih
Dengan donasi dan kedermawanan yang luar biasa dari rakyat Indonesia khususnya menengah ke bawah, target Rp 40 miliar melalui kampanye Rp 20 ribu per orang untuk pembangunan fisik RS Indonesia, telah tercapai.
Demikian pula target Rp 65 miliar melalui kampanye Rp 50 ribu per orang untuk pengadaan alat kesehatan RS Indonesia, juga berhasil dicapai.
Bahkan, target dana alat kesehatan Rp 65 miliar tersebut tercapai hanya dalam jangka waktu tidak lebih dari dua bulan, yakni pada bulan Juni-Juli 2014 lalu.
Tim pengadaan alat kesehatan RS Indonesia ini diketuai oleh Ahyahudin Sodri, salah seorang relawan dengan keahlian dalam bidang medical technologist. Ia bersama timnya menyusun daftar alat-alat kesehatan yang modern dan canggih dalam rangka memberikan yang terbaik bagi rakyat Palestina.
Sebagai RS Traumatologi dan Rehabilitasi, RS Indonesia memiliki empat ruang operasi yang fully equipped dengan meja operasi dan lampu operasi berteknologi LED. Juga fasilitas kamera yang memungkinkan teleconference.
Di masing-masing kamar operasi juga dilengkapi dengan instrument set bedah lengkap dengan kualitas terbaik buatan Aesculap yang diimpor langsung dari Jerman.
Dalam situasi operasi, dibutuhkan dukungan laboratorium yang tepat dan cepat sehingga ruang laboratorium RS Indonesia dirancang dan dilengkapi dengan peralatan laboratorium terkini dengan fully automatic chemistry analyzer, hematologi analyzer dan blood analyzer.
Selain ruang operasi dan laboratorium, ruang Intensive Care Unit (ICU) RS Indonesia yang berkapasitas 10 tempat tidur juga fully equipped. Masing-masing tempat tidur dilengkapi dengan patient monitor system dan ventilator yang memungkinkan setiap pasien ICU mendapatkan penanganan medis terbaik.
Ruangan yang juga penting untuk penegakan diagnosis trauma yang tajam dan akurat adalah ruangan radiologi. Ruangan ini juga dilengkapi peralatan modern CT Scan 128 slices multipurpose yang memiliki kecepatan dan resolusi tinggi serta mesin X-Ray dengan RF system atau fluoroscopy. Selain itu, tersedia juga mesin USG dengan kelebihan 3D system buatan Phillips.
Lebih lanjut, RS Indonesia juga dilengkapi dengan bank darah yang modern, central sterile yang fully automatic sterilizing system dengan kapasitas yang cukup untuk mendukung aktivitas empat ruang operasi.
Untuk pasca pemulihan, RS Indonesia memiliki ruang fisioterapi dengan peralatan modern dan lengkap buatan Enraff, Belanda yang terdiri dari 13 unit.
Kisah bangunan segi delapan
Berawal dari agresi Israel 2008-2009, Tim Medis MER-C untuk pertama kalinya akhirnya dapat menginjakkan kaki di wilayah terblokade Jalur Gaza, Palestina. Selama ini, wilayah tersebut sulit untuk ditembus.
Melihat langsung situasi Gaza yang porak-poranda dan banyaknya korban yang membutuhkan penanganan medis, MER-C menilai adanya kebutuhan akan sebuah rumah sakit yang khusus menangani korban perang.
Donasi cukup besar yang mengalir dari rakyat Indonesia melalui MER-C, makin mengukuhkan niat untuk dapat memberikan bantuan jangka panjang bagi rakyat Palestina di Gaza. Bentuknya, sebuah rumah sakit yang kemudian diberi nama RS Indonesia.
Berbekal donasi awal yang terkumpul dari rakyat Indonesia sebesar Rp 15 miliar, Tim MER-C yang dipimpin dr Joserizal Jurnalis bertemu dengan Menteri Kesehatan Palestina di Gaza dr Bassim Naim, Jumat 23 Januari 2009 silam.
Joserizal, sebagai perwakilan rakyat Indonesia, mengutarakan niat untuk membangun sebuah rumah sakit traumatologi dan rehabilitasi di Gaza. Niat ini disambut baik oleh Bassim Naim. Dan dalam pertemuan itu, MoU pembangunan RS Indonesia segera disusun dan diteken.
Menyadari Gaza adalah wilayah blokade yang sulit ditembus, MER-C langsung menugaskan relawannya, yang tergabung dalam Tim Kedua untuk menetap di Gaza, menindaklanjuti rencana pembangunan RS Indonesia.
Tim Kedua yang dipimpin dr Arief Rachman menetap hingga lebih dari tiga bulan untuk melakukan survei ke rumah sakit-rumah sakit di Gaza. Selain itu, tim ini juga melakukan survei lokasi tanah dan berkoordinasi dengan pejabat dan kementerian terkait di Palestina.
Tugas panjang selama tiga bulan di Gaza, hingga Mei 2009, membuahkan hasil manis. Perdana Menteri Palestina di Gaza kala itu, Ismail Haniya, memberikan tanah wakaf seluas 1,6 hektare untuk lokasi pembangunan RS Indonesia.
Lokasi tanah ini berada di Distrik Bayt Lahiya, Gaza utara. Berjarak sekitar 2,5 kilometer dari perbatasan Israel, wilayah ini merupakan tempat korban perang terbanyak di kawasan utara Gaza.
“Ikhtiar-ikhtiar tak kenal lelah untuk masuk ke Gaza, dengan mengirimkan relawan insinyur untuk menindaklanjuti program ini terus dilakukan. Sejak Mei 2009, baru pada Juli 2010, Tim MER-C bisa kembali menembus Gaza,” tutur Joserizal.
“Sejak itu pula, para relawan mendedikasikan diri untuk terlibat dalam jihad profesional pembangunan RS Indonesia. Mereka dengan sukarela bertugas secara rotasi dan berkesinambungan untuk mengerjakan tahapan demi tahapan pembangunan RS,” lanjutnya.
Menurut Joserizal, tak mudah melakukan pembangunan di wilayah yang terblokade. Selain proses yang panjang dan lama, kendala yang dihadapi juga beragam. Ditambah lagi, Israel beberapa kali menjatuhkan bom di sekitar lokasi RS Indonesia saat menggempur Gaza beberapa waktu lalu.
Dimulai pada 14 Mei 2011, dengan segala kendala dan lika-liku yang dihadapi, akhirnya RS Indonesia selesai dalam waktu sekitar 3,5 tahun. Pengadaan alat kesehatan juga berhasil dipenuhi, yang memakan waktu satu tahun sampai dengan Juni 2015.
“Sebuah mimpi yang menjadi nyata, desain bangunan berbentuk segi delapan yang semula hanya di atas kertas, kini telah berdiri dengan indah dan megah di bumi Gaza, Palestina. Semua dapat terwujud atas izin dan pertolongan-Nya,” kata Joserizal.
“Ini juga menjadi bukti bagi kita. Bahwa dengan dukungan dan persatuan rakyat Indonesia, baik yang mendedikasikan dirinya menjadi relawan, yang menyisihkan rezekinya dan menyelipkan doa bagi kelancaran pembangunan ini, menjadi sebuah kekuatan dahsyat yang dapat mewujudkan mimpi ini,” ia menambahkan.
“Terima kasih dan selamat kami ucapkan kepada seluruh rakyat Indonesia dengan terwujudnya RS Indonesia. Semoga menjadi amal baik yang terus mengalir bagi semua yang terlibat,” pungkasnya.*

Leave a comment