Berbeda dengan kaum perempuan di Dusun Kalukue, ibu-ibu di Dusun Kasuarang, Desa Tamangapa, lebih fokus dalam budidaya tanaman organik. Mereka juga membentuk kelompok yang diberi nama Kelompok Talaswati.
Kaum ibu di Kasuarang memang mendapatkan pelatihan tentang budidaya tanaman organik di sekolah lapang. Mereka diajari tentang bagaimanana mengolah tanah yang baik dan membuat pupuk organik. RCL Oxfam memandang kawasan ini cocok dikembangkan sebagai sentra pertanian organik.
Awalnya, ibu-ibu itu bertanam sayuran organik untuk konsumsi sendiri, seperti kangkung, sawi, terong, kacang panjang, tomat, dan cabe. Namun, seiring dengan meningkatnya hasil panen, mereka berinisiatif menjadikannya ladang usaha.
“Hasilnya kami jual ke pasar sekitar Pangkep. Bahkan, kita juga memasok sayuran organik ke sejumlah supermarket di Kota Makassar,” tutur Nur Jaya, Ketua Kelompok Tani Talaswati.
Kelompok yang semula terdiri dari 15 orang itu, kini beranggotakan 30 ibu-ibu. Selain bercocok tanam di lahan masing-masing, Kelompok Tani Talaswati juga memiliki lahan bersama seluas 2.000 meter. Tiap anggota kelompok menanam jenis sayuran berbeda di sawah milik desa itu.
Melihat keseriusan dan perkembangan usaha Kelompok Talaswati, Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Makassar memberikan bantuan dana sebesar Rp 47 juta untuk pengembangan usaha. Uang itu digunakan untuk pembelian bibit, pembuatan pupuk organik, maupun kebutuhan lainnya.
Kini, para perempuan pesisir di Kasuarang memiliki kegiatan rutin. Secara tak langsung mereka telah membantu pemerintah dalam mengurangi angka pengangguran. “Ketimbang menyapu halaman saja, mending sekalian tanam sayur. Kami pun bisa membantu suami menambah penghasilan,” ujar Suruga, Bendahara Kelompok Tani Talaswati.
Project Manager RCL Oxfam Boedi Sardjana Julianto mengatakan, kemiskinan dan ketertinggalan memang sudah menjadi citra yang melekat kuat pada masyarakat pesisir. Hal ini terlihat dari kondisi kehidupan mereka yang jauh tertinggal dibandingkan dengan masyarakat di wilayah desa daratan atau perkotaan.
“Kemiskinan mereka dapat disebabkan oleh banyak faktor,” kata Boedi. “Antara lain, minimnya ketersediaan informasi dan teknologi, akses transportasi yang jauh, rendahnya tingkat pendidikan, adat dan budaya, serta kurangnya keberpihakan pemerintah pada pembangunan pesisir.”
Kaum perempuan di daerah pesisir, menurut Boedi, juga cenderung diam dan kurang berpartisipasi dalam program-program pemerintah. “Dari sinilah RCL bersama mitranya melakukan fasilitasi sehingga muncullah beberapa kelompok usaha. Usaha yang dilakukan berdasarkan sumber daya alam yang ada di wilayah masing-masing.”
Di Sulawesi Selatan, RCL membina 18 kelompok—sekitar 2.000-an rumah tangga—yang tersebar di Kabupaten Pangkep, Takalar, Maros dan Barru. Sebagian mereka telah berhasil menggali potensi ekonomi dengan beragam usaha berdasarkan sumber daya alam yang ada.
Dalam lima tahun ke depan, diharapkan pendapatan masyarakat pesisir bisa meningkat 100 persen.*
Bermula dari Sekolah Lapang
Konsep sekolah lapangan sebenarnya sudah dikenal di Indonesia sejak awal tahun 1990-an. Fokus sekolah lapangan pada waktu itu adalah pengendalian hama terpadu untuk komoditas pertanian.
Sekolah lapangan ini kemudian berkembang pesat pada tahun-tahun berikutnya karena menggunakan pendekatan yang cukup menarik. Pendekatan pendidikannya menggunakan metode ilmiah melalui penggalian daya kritis masyarakat agar dapat mengungkapkan persoalan yang dihadapi terkait dengan penghidupannya.
Pendekatan sekolah lapangan juga menggunakan metode partisipatif, dan masyarakat langsung mempelajari kondisi lingkungan sekitarnya, seperti kondisi ekologi, ekonomi dan sosial.
Tahap awal dalam sekolah lapang, yaitu peserta mengumpulkan informasi mengenai potensi sumber daya dan permasalahan utama yang dihadapi. Kemudian menganalisis, mencari solusi dan memecahkan masalah secara bersama. Aktivitas sekolah lapang sebagian besar dilakukan di lapangan, tergantung jenis kegiatannya.
Melihat keberhasilan yang telah dicapai dalam sekolah lapang, maka muncul inisiatif untuk mencoba dan menerapkan konsep tersebut ke wilayah pesisir. Diharapkan konsep sekolah lapang ini dapat memberikan pengaruh positif bagi masyarakat pesisir, terutama kaum perempuan.
Di sekolah lapang ini, kaum perempuan pesisir bertemu dan berinteraksi dengan sesamanya, membahas segala permasalahan yang terjadi di desa. Mereka juga mendapatkan bimbingan dan pelatihan tentang pengembangan berbagai usaha yang bernilai ekonomis.
Field Fasilitator Oxfam Soni Kusnito mengatakan, studi-studi ilmiah dalam sekolah lapang dikemas secara sederhana, disesuaikan dengan kondisi tingkat intelektualitas para ibu. Sebab, rata-rata ibu rumah tangga itu cuma lulusan sekolah dasar (SD).
“Sekolah lapang mendidik mereka mengejar ketertinggalan dalam hal pengetahuan umum, kepandaian berbicara, dan keterampilan rumahan yang bisa menghasilkan sesuatu yang produktif,” jelas Soni.
Hal ini diakui pula oleh Kartini, ibu rumah tangga yang merangkap Ketua Kelompok Annisa di Desa Lasitae, Kecamatan Tanete Rilau, Kabupaten Barru. Kelompok Annisa adalah kelompok usaha budidaya dan pengolahan rumput laut yang cukup berhasil mengentaskan kemiskinan di wilayahnya. “Ibu-ibu binaan sekolah lapang sekarang makin pintar ngomong dan mengemukakan pendapat. Mereka kini tidak terlalu bergantung pada suami dalam hal keuangan,” ujarnya.
Berbekal ilmu yang didapat di sekolah lapang, langkah kaum ibu di pesisir Sulawesi Selatan itu kian mantap menggapai cerahnya hari depan.
Tujuan dan Sasaran Sekolah Lapang
Tujuan
- Peningkatan pikiran dan sikap kritis masyarakat di wilayah pesisir.
- Meningkatkan kerjasama dan pengorganisasian masyarakat.
- Adanya sarana belajar bersama bagi masyarakat di pedesaan.
- Memanfaatkan sumber daya alam yang potensial untuk dikembangkan.
Sasaran
- Petani padi, ikan dan udang di daerah pesisir Kabupaten Maros dan Pangkep, Provinsi Sulawesi Selatan.
- Masyarakat, terutama perempuan pedesaan di Kabupaten Barru, Pangkep, dan Takalar.
Hasil
- Meningkatnya kapasitas petani dalam pengelolaan tanaman padi, ikan dan udang melalui pendekatan ekologi serta penerapan sistem budidaya secara organik.
- Terbangunnya kesadaran petani tentang pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan dengan penerapan prinsip budidaya yang sehat dan ramah lingkungan.
- Meningkatnya kapasitas perempuan dalam mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam untuk dikembangkan sebagai sumber mata pencaharian alternatif.

Leave a comment