Jalan Lapang Perempuan Pesisir (1)

Mulanya mereka hanyalah ibu rumah tangga biasa, mengurus anak dan suami. Kini, kaum perempuan pesisir ini berperan dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Aroma sedap yang menusuk hidung meruap dari wajan di sebuah rumah di Dusun Kalukue, siang itu. Di atas wajan yang mendidih, snack kacang—demikian istilah yang disematkan si empu rumah—berwarna kecoklatan tampak mulai matang.

Suriani, gadis yang menggoreng kacang, mengaduk isi wajan perlahan-lahan agar tingkat kematangannya merata. Di belakang Suriani, beberapa perempuan lain sibuk dengan dunia masing-masing.

Nur Halimah misalnya, ibu satu anak itu tampak khusyuk menggunting plastik pembungkus. Sementara rekannya yang lain memasukkan snack kacang ke dalam bungkus plastik yang telah tersedia. Perempuan satunya lagi menimbang isi plastik sesuai dengan takaran yang telah ditentukan.

Kacang yang telah dibungkus plastik kemudian dibawa ke pojok ruangan, ke sebuah alat press. Seorang ibu paruh baya yang mengoperasikan alat itu akan memasukkan label ke dalam bungkusan sebelum menekannya di mesin press. Begitulah gambaran kegiatan kaum perempuan di dusun pesisir yang terletak di Desa Tamangapa, Kecamatan Ma’rang, Kabupaten Pangkep, Provinsi Sulawesi Selatan.

Sebelumnya, ibu-ibu ini tak punya kesibukan apa pun. Hanya menghabiskan waktu mengurus rumah tangga, dan kadang ngerumpi di rumah tetangga. Semua berubah sejak tiga tahun silam, ketika mereka mendapatkan pendidikan di sekolah lapang.

Jangan mengira sekolah lapang ini macam sekolah pada umumnya. Yang dimaksud dengan sekolah lapang adalah sebuah program pelatihan dengan beragam tema, terutama tentang pemberdayaan perempuan. Biasanya diselenggarakan di balai desa, kadang juga di lapangan. Dari sinilah istilah sekolah lapang itu muncul.

Sekolah lapang ini diselenggarakan oleh organisasi bantuan kemanusiaan Oxfam Indonesia. Dalam proyek yang disebut restoring coastal livelihood (RCL), kaum ibu di Kulukue mendapatkan pelatihan tentang pengolahan rumput laut. Dusun yang mayoritas warganya berprofesi sebagai nelayan itu memang dikenal sebagai salah satu penghasil rumput laut di Kabupaten Pangkep.

Setelah mendapatkan ‘pencerahan’ dari RCL Oxfam, ibu-ibu itu pun berinisiatif membentuk kelompok dan memproduksi makanan olahan dari rumput laut. Tepat di bulan Oktober 2011, Kelompok Berkah—demikian nama yang mereka sepakati—resmi berdiri.

Rumput laut yang semula hanya dijual kering sebagai bahan baku kosmetika dijadikan makanan olahan (snack). Misalnya, kripik, dodol, kue bawang, gula-gula, dan manisan rumput laut.

Ibu-ibu yang bergabung di Kelompok Berkah sebanyak 11 orang. Masing-masing menyetorkan uang sebesar Rp 10 ribu sebagai modal awal. Dengan uang Rp 110 ribu itulah kelompok ini memulai usahanya.

Untuk memudahkan produksi, RCL Oxfam memberikan bantuan berupa kompor gas, alat press, etalase, dan peralatan memasak lainnya. Kini, dari tangan terampil kaum ibu pesisir ini telah lahir aneka produk olahan berbahan dasar rumput laut.

Pertama kali terjun ke dunia usaha, keuntungan yang diperoleh Kelompok Berkah memang tidak seberapa. Sejumlah produk seperti kripik dan dodol rumput laut kurang laku. Namun, mereka tak patah arang.

“Kami kemudian membuat olahan baru yang disebut snack kacang, dari kacang tanah dan rumput laut. Cemilan inilah yang paling laku dan menjadi andalan kami,” tutur Suriani, Sekretaris Kelompok Berkah.

Pemasaran produk yang semula hanya sebatas Pangkep dan Makassar, kini telah merambah luar pulau seperti Papua dan Kalimantan Selatan. Snack kacang produksi Kelompok Berkah benar-benar membawa berkah.

Tiap bulan, kelompok ini berhasil meraup untung sebesar Rp 3-Rp 5 juta. Setiap anggota mendapat jatah pembagian laba Rp 300 ribu per bulan. Sisanya disimpan sebagai uang kas. Selain sebagai modal usaha, uang kas ini bisa dipinjam oleh anggota kelompok yang membutuhkan.

Dalam pandangan sebagian orang, mungkin omzet usaha ibu-ibu ini terlihat kecil. Namun, bagi perempuan yang hidup di pesisir dengan belitan kemiskinan kronis, uang yang didapat sangat berarti.

“Kami dapat membantu suami mencari nafkah dan mencukupi kebutuhan rumah tangga. Kondisi perekenomian di dusun ini pun membaik. Kami punya kegiatan yang menghasilkan uang,” kata Saddi, ibu paruh baya yang menjadi Ketua Kelompok Berkah.

Posted in

Leave a comment