Memburu Pahlawan Digital 2020

Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) sebagai salah satu tulang punggung perekonomian menjadi pihak yang terpukul selama masa pandemi.

Terbatasnya sarana prasarana seperti restoran, warung makanan, toko, dan lain-lain membuat banyak UMKM mengalami penurunan pendapatan. Tercatat 56% UMKM yang mengalami penurunan pendapatan dari total 64 juta UMKM di seluruh Indonesia akibat pandemi Covid-19.

Presiden Joko Widodo meluncurkan gerakan Bangga Buatan Indonesia, agar masyarakat membeli dan mengapresiasi produk UMKM lokal. Jika konsumsi dalam negeri dimaksimalkan untuk membeli produk UMKM lokal, maka secara langsung membantu UMKM dapat bertahan dan terus berkembang di masa pandemi.

Digitalisasi UMKM menjadi salah satu faktor penting dalam menjadikan UMKM dapat berkembang dan memperluas skala bisnis dan pasar. Salah satu cara adalah dengan memanfaatkan market place dan pemasaran secara daring. Namun, saat ini tercatat baru 13% UMKM yang melakukan digitalisasi. Percepatan digitalisasi UMKM menjadi prioritas yang penting untuk dilakukan.

Di tengah harapan akan semakin banyaknya UMKM yang terdigitalisasi, ternyata selama ini banyak inovator muda yang telah membantu mendigitalisasi UMKM di berbagai sektor. Mereka membuat inovasi dalam teknologi ataupun sistem untuk membantu UMKM naik kelas’. Inovator muda inilah disebut sebagai “Pahlawan Digital UMKM”.

Di antaranya Wahyoo, yang meningkatkan daya jual warteg dengan standardisasi. Titipku, yang telah membantu belasan ribu UMKM terutama pedagang pasar go digital. Jahitin, membuat pelatihan bagi 1.000-an penjahit rumahan dalam membuat Alat Pelindung Diri (APD), masker, dan zero waste. Kemudian Warung Pintar, yang mentransformasi 2.000-an warung menjadi modern dengan Wi-Fi dan berbagai fasilitas.

Guna mengapresiasi para Pahlawan Digital UMKM dan menjaring inovator muda lain yang sudah berinovasi untuk membantu UMKM, Penggagas Pahlawan Digital UMKM, Putri Tanjung, berkolaborasi dengan Kementerian Koperasi dan UKM membuat kegiatan work shop dan talk show “Pahlawan Digital UMKM”.

Program work shop dan talk show Pahlawan Digital UMKM bertujuan untuk menemukan dan mendukung lebih banyak lagi tech start up, SaaS, dan gerakan sosial yang bertujuan untuk membantu UMKM terdigitalisasi. Target pencapaian dari kompetisi ini untuk mengumpulkan 10 pemenang terbaik yang akan menjadi mitra Kementerian Koperasi dan UKM untuk melaksanakan digitalisasi pada koperasi dan UMKM.

Work shop digelar secara daring pada Sabtu, 15 Agustus 2020 pukul 14.00-15.30 WIB. Para pembicara dalam work shop bertajuk “Inovasi untuk UMKM Go Digital” ini antara lain Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki; Penggagas Pahlawan Digital UMKM, Putri Tanjung; CEO Wahyoo, Peter Shearer Setiawan; dan CEO Titipku, Henri Suhardja.

“Kami menawarkan sebuah konsep untuk mengapresiasi para Pahlawan Digital serta mencari Pahlawan Digital baru yang mampu meningkatkan transaksi perdagangan UMKM melalui kanal digital,” sebut Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki.

Tidak hanya mencari para Pahlawan Digital, program ini juga memberikan pelatihan kepada para inovator muda untuk bisa lebih berdaya, serta memberi apresiasi para inovator-inovator yang selama ini telah membantu UMKM.

Digitalisasi warung

Wahyoo adalah perusahaan teknologi yang memberikan nilai tambah dan manfaat bagi warung-warung di Indonesia. Misi Wahyoo adalah membantu para pemilik warung agar menjadi lebih baik. Saat ini, sekitar 13 ribu warung makan telah bergabung dan menjadi bagian dari keluarga besar warung makan digital Wahyoo. Warung-warung ini tersebar di wilayah DKI Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

CEO Wahyoo, Peter Shearer Setiawan, mengatakan makanan adalah hal yang pokok dan esensial dalam kehidupan manusia. “Ketika kita buka usaha tempat makan, ketika itu nyaman, makanan murah dan enak, itu merupakan bisnis yang menguntungkan,” ujarnya.

Peter menambahkan, seraya mengutip kata-kata dari mentornya, ‘ketika kita memberi, kita tidak akan pernah kekurangan’. Karena itu, dalam bisnis Wahyoo selalu memberikan yang terbaik. “Kita memberikan waktu, tenaga, dan pikiran kita. Dan saya percaya ketika kita memberi itu akan kembali kepada kita.”

Warteg atau Warung Tegal cukup populer bagi warga Jakarta. Selain harganya yang terjangkau, warteg sangat mudah ditemukan di setiap sudut Ibukota. Namun bagi sebagian orang, warteg dianggap kurang bersih dan higienis. Karenanya, Wahyoo berupaya mengangkat kelas warung makan tradisional ini dan juga kemampuan pemiliknya.

Peter mendirikan perusahaan berbasis teknologi, Wahyoo, pada Mei 2017. Wahyoo menawarkan jasa untuk pemilik warung makan tradisional dalam membeli bahan pokok terpilih, merapikan warung makan, menetapkan standar kebersihan, serta membekali pengusaha warung makan dengan manajemen keuangan yang baik.

Jasa titipan digital

Titipku merupakan perusahaan berbasis aplikasi yang bertujuan untuk meningkatkan sektor perekonomian di Indonesia melalui UMKM. Tak dimungkiri bahwa salah satu pilar kekuatan ekonomi nasional Indonesia adalah UMKM, bahkan 60% GDP Indonesia pun datang dari mereka.

Namun dari 60 juta UMKM di Indonesia, hanya 8% yang telah mencoba memasarkan produknya melalui platform daring. Hal ini disebabkan oleh para pelaku UMKM di Indonesia yang mayoritas sudah berusia lanjut dan mengalami kesulitan untuk memahami perkembangan teknologi di era digital.

Titipku hadir menjadi sebuah solusi untuk membantu digitalisasi UMKM Indonesia melalui Penjelajah. Titipku mengajak generasi muda untuk turut peduli dengan membantu digitalisasi UMKM dengan membuat Jelajah. Dengan Jelajah, produk UMKM dapat secara luas dipasarkan melalui Titipku.

CO Founder & CEO Titipku, Hendri Suhardja, mengungkapkan perusahaannya telah membantu lebih dari 100 ribu UMKM go digital. Ia mendirikan Titipku bermula dari keresahan bahwa hanya 10% UMKM Indonesia yang sudah go digital. Dan dalam empat tahun terakhir, ada lebih dari 25% pasar tradisional yang tutup. “Oleh karena itu, kami sebagai anak muda berkumpul dan berinisiatif untuk membantu UMKM dan pedagang untuk go digital bersama Titipku,” terang Hendri.

Konsep Titipku adalah seluruh pengguna platform saling membantu dan bahu-membahu. Ada yang menjadi Penjelajah dan bertugas untuk mengunggah UMKM di aplikasi Titipku. Ada Jatiper, yaitu kurir yang membantu membeli dan mengirimkan kepada pembeli. Ada pula pembeli atau Nitiper yang menjadi langganan UMKM tersebut.

Menurut Hendri, Titipku sejauh ini sudah digunakan oleh lebih dari 150 ribu pengguna dengan lebih dari 100 ribu UMKM yang tersebar dari Aceh hingga Papua. “Selama pandemic Corona ini kami telah men-supportlebih dari 10 ribu UMKM masuk ke Titipku, yang juga meningkatkan transaksi mereka. Transaksi Titipku sendiri naik sampai 600%. Kami juga memberikan begitu banyak income pada para Penjelajah dan Jatiper,” ia menjelaskan.

Titipku bermula dari ide Ong Tek Can, seorang founder dan juga mitra Titipku. Bersama Ong Tek Can, Hendri membentuk tim yang berisi anak-anak muda dari Yogyakarta pada 2017. Kaum muda ini merasa prihatin dengan banyaknya produk UMKM Indonesia yang bagus tetapi belum masuk ke ranah digital.

Apalagi pemilik UMKM kebanyakan didominasi oleh orang-orang berusia lanjut yang tidak memiliki ponsel pintar dan kurang paham dunia digital. “Oleh karena itu, kami membentuk sebuah wadah platform di mana anak-anak muda ini bisa mendapat tambahan penghasilan saat mengisi waktu luang mereka,” beber Hendri.

Hendri berharap kaum muda Indonesia yang punya cita-cita menjadi founder start up harus mau turun ke lapangan. Kunci utama untuk menjadikan start up itu besar dan mendapatkan dana investasi dari investor adalah integritas. Seorang founder harus memiliki integritas dan kesungguhan. “Kita bisa menunjukkan hasilnya. Dan itu juga memiliki dampak yang nyata untuk masyarakat yang kita bantu,” tegas Hendri.

Selain di bidang market place, Titipku juga memiliki program dalam membantu UMKM agar berkembang lebih pesat. Titipku membantu UMKM dari sisi permodalan, branding, packaging, marketing, distribusi, serta pengembangan produk. Program-program tersebut telah diluncurkan dengan bekerja sama dengan beberapa kementerian, termasuk Kementerian Koperasi dan UKM.

Kisah si penjelajah

Joshua, Penjelajah Titipku, mengaku mendapatkan pengalaman baru saat bergabung dengan Titipku. Ia yang biasanya cuma bermain komputer, game atau membaca buku di rumah, kini bisa bertemu banyak orang. “Sekarang saya jadi tahu tentang produk dan harganya di pasar. “Jadi kita tidak cuma sibuk di rumah, tapi kita bisa coba ke pasar itu rasanya bagaimana,” kata dia.

Menurut Joshua, aplikasi Titipku itu untuk saling membantu. Misalnya, satu penjual sayur membantu penjual sayur yang lain saat dia tidak memiliki produk. Sebagai Penjelajah, Joshua mengaku mendapatkan keuntungan secara materi. Ia menjelajah sejumlah toko dan tempat untuk mendapatkan barang.

Pemuda ini berharap dapat menjelajah dari Sabang hingga Merauke, sesuai dengan hasratnya ingin berkelana ke seluruh dunia. Ia merasa Titipku dapat mewujudkan cita-citanya. “Jadi ada alasan buat keluar rumah. Selain dapat uang, kita juga dapat pengalaman baru dengan bertemu banyak orang.”

Edi Sunarpin, Jatiper (kurir), mengaku mendapatkan income yang lumayan sejak bergabung dengan Titipku. Penghasilannya sebagai Jatiper dapat menutupi kebutuhan rumah tangganya. “Susahnya kalau belanjaselalu banyak. Sayuran sampai satu karung, ayam sampai satu kresek besar. Tapi, Alhamdulillah di masa seperti ini saya masih bisa bekerja,” tuturnya.

Edi mengaku memperoleh pendapatan minimal sebesar Rp 100 ribu per hari dari lima pesanan belanja. Dia biasanya menerima pesanan belanja sayur-mayur dan lauk-pauk. Ia berangkat ke pasar menggunakan motor. Jarak antar pesanan tidak terlalu jauh, sekitar dua hingga tiga kilometer. “Saat kembali ke pasar lagi, saya biasanya mendapat orderan lagi,” ujarnya.

Edi bekerja sejak pagi hingga sore, diselingi istirahat. Dalam sehari itu ia paling banyak mendapatkan delapan order. Tak hanya sayur dan lauk-pauk, kadang ada juga pelanggan yang memesan makanan siap saji dan minuman seperti es krim.

Sosok lain yang mendapatkan manfaat positif dari Titipku adalah Heny, seorang penjual sembako di Pasar Lempuyangan, Yogyakarta. Pandemi Corona-19 sangat berdampak terhadap para pedagang macam Heny, yang menyebabkan pendapatannya menurun drastis. Heny lantas diperkenalkan pada aplikasi bernama Titipku.

“Alhamdulillah, berkat Titipku penjualan saya semakin meningkat. Orang-orang sekarang pada mengikuti aturan pemerintah untuk berdiam di rumah. Dengan adanya Titipku, orang bisa belanja dan bisa memenuhi kebutuhan di era digital sekarang ini,” ungkapnya.

Pengguna Titipku tentu saja juga termasuk pihak yang mendapatkan kemudahan dengan keberadaan aplikasi ini. Sorta, seorang ibu berusia 62 tahun, mengaku dapat memenuhi kebutuhan belanja harian melalui Titipku. Ia tak perlu capek belanja ke pasar. “Kita juga bisa menopang UMKM dan memaksimalkan potensi mereka,” kata Sorta ketika ditanya kenapa tertarik menggunakan aplikasi ini.

Menurut Sorta, Titipku sangat ramah pengguna (user friendly) dan mudah digunakan. Tak hanya urusan belanja kebutuhan dapur, Sorta berharap ke depan Titipku bisa dimanfaatkan untuk membeli obat-obatan di apotek. Ia juga menyarankan Titipku dapat menyertakan nomor telepon telepon atau WhatsApp (WA) Jatiper, sehingga memudahkan komunikasi antara pembeli dan Jatiper.*

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in

Leave a comment