• Rafah

    Sebenarnya ia adalah nama sebuah perbatasan. Memecah dua wilayah yang dulunya satu. Tempat yang memisahkan manusia ini ditandai dengan sebuah pintu gerbang besi berjeruji. Seolah belenggu di satu sisi dan kebebasan di sisi yang lain.

    Perbatasan Rafah, demikian orang kerap menyebutnya, terletak sekitar 40 kilometer dari al-Arish—sebuah kota di utara Mesir yang tak seberapa luas. Sebagaimana halnya palang perbatasan, seharusnya ia bisa dilalui siapa saja, asal memenuhi segala syarat aturan manusia.

    Namun tidak demikian dengan Rafah. Ada kondisi tertentu yang membuatnya istimewa dan menjadi sorotan dunia. Salah satunya adalah karena ia adalah jalan masuk ke Kota Gaza, Palestina. Dan setiap yang berhubungan dengan Palestina harus diperlakukan serba lebih, karena dianggap dapat menyusahkan bangsa lainnya.

    Rafah bukanlah sembarang perbatasan. Ia dapat menjadi mesin pembunuh sekaligus pencipta kehidupan suatu kaum. Bagi bangsa Palestina, Rafah kerap memupus harapan mereka. 

    Namun bagi Israel, gerbang ini adalah salah satu sarana mempertahankan hak hidup dan menjajah orang lain. Sementara Mesir, sang pemilik gerbang, tak mampu berbuat banyak. Mereka lebih tega mengorbankan nyawa saudaranya sesama Muslim, demi menjaga kepentingan Yahudi.

    Sudah lama pintu gerbang ini dikeluhkan orang-orang Gaza karena memenjara hak asasi mereka. Namun keluhan itu hanya sekadar lenguh. Tak berbalas, juga tidak mendapatkan simpati. 

    Tak heran jika Syekh Yusuf al-Qaradhawi, Sekretaris Jenderal Persatuan Ulama Internasional, mendesak penguasa Negeri Fir’aun membuka gerbang Rafah. Karena menutup pintu perbatasan berarti membantu Israel mengekalkan blokade terhadap Gaza. “Pintu Rafah harus dibuka, karena ia berada di tangan kita. Haram bagi kita menutupnya,” kata al-Qaradhawi lantang.

    Ia juga meminta sang penguasa, Husni Mubarak—atas nama Islam dan kemanusiaan—agar tidak menghalang-halangi masuknya bahan makanan, obat-obatan dan semua yang dibutuhkan bangsa Palestina. 

    Membuka Rafah adalah sebuah kewajiban, baik menurut hukum Islam atau toleransi antara sesama manusia. Bagi rakyat Gaza, gerbang Rafah adalah paru-paru untuk bernapas. Di pintu itulah mereka menabur harap. 

    Jika jalur lalu-lintas orang dan barang ini ditutup, maka lengkap sudah bencana kemanusiaan yang mereka derita.*

  • Muhammadiyah

    Awal bulan ini, 3-8 Juli 2010 atau bertepatan dengan 22-27 Rajab 1431 H, salah satu ormas Islam tertua dan terbesar di Tanah Air—Muhammadiyah—menggelar hajatan lima tahunan; muktamar yang ke-46. (more…)

  • 12

    Judul di atas bukan untuk menyebut selusin—satuan berjumlah dua belas biji. Bukan pula menisbahkan jumlah murid Yesus, apalagi rumus togel. (more…)

  • Pembual

    Hidup di negeri pembual memang membosankan, juga menyakitkan. Bergaul dan digauli pembual sungguh tak nyaman. Pembual tak ubahnya bedebah—sebagaimana kata seorang penyair. Maka negeri para pembual adalah juga negeri para bedebah. (more…)

  • Hukum

    Di negeri ini hukum begitu mudah dibengkokkan. Ia berpihak pada yang kuat, pemegang kuasa serta kalangan tertentu yang dekat dengan kekuasaan. Bukan pada yang lemah, apalagi kebenaran. (more…)