Mencetak Muslimah Salihah yang Berkualitas

Nama Pondok Modern Gontor sudah terkenal di Indonesia dan mancanegara. Selain pesantren putra, pesantren yang didirikan sejak 1926 silam ini juga memiliki asrama untuk putri. Namanya Pesantren Putri Pondok Modern Darussalam Gontor.

Pesantren Gontor untuk putri yang bernama Pondok Modern Darussalam Gontor Putri I ini terletak lebih kurang 100 km dari kampus Gontor putra Ponorogo, atau 32 kilometer sebelah barat Kota Ngawi. Tepatnya di Desa Sambirejo, Mantingan, Ngawi, Jawa Timur. 

Aktivitas dan pendidikan santriwati di pesantren seluas 6 hektare ini diorientasikan pada pembentukan sosok wanita Muslimah, salihah dan wanita serba teladan.

Sebelumnya, orang mengenal Pondok Gontor, hanya yang terdapat di Ponorogo. Pesantren khusus putra yang kini juga telah memiliki 12 cabang. Berdirinya Pesantren Putri Gontor tidak terlepas dari amanat Trimurti (tiga orang pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor) dan keputusan Sidang Badan Wakaf Pondok Modern yang ke-25 pada tanggal 7-8 Rabiul Awwal 1411 H.

Pendirian pesantren ini juga didukung oleh adanya usulan para peserta silaturahim Kyai Alumni Pondok Modern Darussalam Gontor dalam sidangnya pada bulan Muharram 1410 H  dan usulan Musyawarah Besar (MUBES) IKPM V di Pondok Modern Darussalam Gontor pada tanggal 16-17 Rabiul Tsani 1409 H.

Sebagai persiapan pembukaan pesantren putri tersebut diadakanlah beberapa kegiatan, antara lain:

  • Pembangunan gedung dan sarana yang diperlukan, dimulai pada 26 September 1988,
  • Penyelenggaraan pesantren kilat bekerja sama dengan Pusat Latihan Manajemen dan Pengembangan Masyarakat (PLMPM) bagi para siswa SLTP/SLTA, tanggal 24-31 Desember 1989,
  • Penetapan Direktur Kulliyatul Mu’allimat Al-Islamiyah (KMI), para pendidik dan pengajarnya, pengadaan Pesantren Ramadan Khusus Putri pada tahun 1410 H,
  • Pembukaan pendaftaran santri baru pada bulan Syawal 1410 H. 

Pada tanggal 6 Dzulqa’dah 1410 H bertepatan dengan 31 Mei 1990, Pesantren Putri Pondok Modern Darussalam Gontor diresmikan pembukaannya oleh Menteri Agama Republik Indonesia, H. Munawir Syadzali, M.A.

Dalam acara peresmian tersebut turut hadir Duta Besar Republik Arab Mesir, Atase Kebudayaan Mesir, Direktur LIPIA Jakarta, para undangan dari jajaran Departemen Agama RI, pejabat pemerintah, tokoh-tokoh masyarakat dan keluarga besar Pondok Modern Darussalam Gontor.

Tepat tanggal 10 Syawwal 1410, pendaftaran santriwati baru mulai dibuka. Pada awal berdirinya, Pesantren Putri Pondok Modern Darussalam Gontor menerima santriwati sebanyak 298 siswi dari 308 pendaftar, dan melibatkan 18 tenaga pengajar yang berfungsi sekaligus sebagai pengasuh dan pembimbing di dalam asrama pondok. 

Dalam perkembangan selanjutnya Pondok Pesantren Putri membutuhkan tambahan bangunan untuk asrama dan kelas sehingga mampu menerima jumlah santriwati yang lebih banyak pada tahun-tahun berikutnya.

Seluruh kebijaksanaan di Pondok Modern Darussalam Gontor Putri mengacu kepada kebijaksanaan di Pondok Modern Darussalam Gontor secara penuh. Namun, itu tidak berarti menutup kemungkinan wujudnya kreativitas dan inovasi yang muncul dari pengelolanya, terutama berkaitan dengan hal-hal yang bersifat teknis-praktis, bukan prinsip.

Sistem pendidikan di KMI Pondok Modern Darussalam Gontor Putri sepenuhnya mengacu kepada sistem pendidikan KMI Pondok Modern Darussalam Gontor; baik dalam jenjang pendidikan maupun kurikulumnya, demikian pula berbagai aktivitas dan program-programnya. Direktur KMI putri saat ini adalah KH. Sutadji Tajuddin, MA

Di luar kelas santriwati mendapat bimbingan, pengajaran, dan pengembangan diri secara intensif oleh Pengasuhan Santriwati yang bertanggungjawab menangani berbagai aktivitas ekstra kurikuler yang meliputi keorganisasian, kepramukaan, bahasa, disiplin, olahraga, ketrampilan, kesenian, akhlak, ibadah, nisaiyat, dan berbagai aktivitas keputrian lainnya. 

Bagian ini ditangani oleh seorang pengasuh, yaitu DR. KH. Ahmad Hidayatullah Zarkasyi MA, dibantu oleh beberapa staf yang terdiri dari guru-guru KMI.

Berbagai aktivitas ini, dengan beberapa modifikasi dan inovasi, juga mengacu kepada aktivitas yang diselenggarakan oleh Pengasuhan Santri di Pondok Modern Darussalam Gontor, tentu saja dengan beberapa penyesuaian untuk santri putri. 

“Mesin pendidikan, sistem dan kurikulumnya sama persis dengan Gontor putra cuma disesuaikan dengan kondisi putri. Volumenya yang berbeda atau kandungan yang harus diberikan,” jelas Pengasuh Pondok Modern Darussalam Gontor Putri I, KH. Ahmad Hidayatullah Zarkasyi.

Secara umum, lanjut Hidayatullah, Gontor putra dibuat untuk mencetak pemimpin masyarakat, sedangkan Gontor putri dicetak untuk menjadi pendamping pemimpin tersebut. Sebagai pendamping pemimpin, materi pendidikannya tidak semuanya sama, tapi sesuai dengan kebutuhan dan fitrahnya sebagai wanita. 

Pada tahun 1996 Gontor Putri I telah kewalahan menerima santri, hingga pada akhirnya tahun 1999 membuka Gontor Putri II. Santri pertama Gontor Putri II mencapai 500 orang dan setahun kemudian menjadi 1500 orang. Setelah kian berkembang dan Gontor Putri I dan II tidak lagi memadai, Pondok Gontor akhirnya membuka Gontor Putri III, pada tahun 2003. 

Selanjutnya Gontor Putri IV dan Gontor Putri V. Kini santri di seluruh Pondok Gontor Putri telah mencapai 6000 orang, dari seluruh wilayah tanah air hingga mancanegara seperti Malaysia, Australia bahkan Amerika Serikat.

Walau termasuk bagian dari suksesnya pembentukan dan pengembangan Gontor putri, Hidayatullah Zarkasyi, tidak mau berbesar kepala. Ia enggan diidentikkan dengan dengan kesuksesan Gontor putri. “Gontor putri itu identik dengan Gontor putra, tidak bisa dikatakan identik dengan saya. Saya hanya piket (petugas) saja,” ujar putra ke-8 KH Imam Zarkasyi ini.

Adik kandung KH Sukri Zarkasyi (pimpinan Gontor putra) itu menegaskan, Gontor putri seidealisme, sevisi dan semisi dengan Gontor putra. “Saya hanyalah salah seorang pengasuh saja, bersama dengan para pengasuh yang lain. Gontor putri ini tetap di bawah koordinasi Gontor putra. Tidak bisa dikatakan sayalah yang paling banyak berperan,” ujarnya merendah. 

Sebagai lembaga pendidikan Islam yang lebih menitikberatkan pendidikan ketimbang pengajaran, Pondok Gontor Putri memiliki target yang harus dicapai, yaitu menjadi lembaga pendidikan Muslimah yang unggul, yang hasil produksinya salihah dan wanita teladan untuk umat Islam.

Menurut KH Hidayatullah Zarkasyi, ia tidak memiliki kiat-kiat tertentu dalam mengembangkan dan membesarkan Pondok Gontor Putri. Ia hanya menerapkan apa yang telah diterapkan di Pondok Gontor Putra, cuma porsi dan volumenya yang berbeda. 

“Insya Allah, jika Gontor Putra saja dapat menjadi salah satu lembaga pendidikan yang diakui, kami berharap Gontor Putri juga akan demikian,” ujarnya.*

Posted in

One response to “Mencetak Muslimah Salihah yang Berkualitas”

  1. […] Pada tahun 1996 Gontor Putri I sudah kewalahan menerima santri, hingga pada akhirnya tahun 1999 membuka Gontro Putri II. Santri pertama Gontor Putri II mencapai 500 orang. Setahun kemudian menjadi 1500 orang. Setelah kian berkembang dan Gontor Putri I dan II tidak lagi memadai, kami akhirnya membuka Gontor Putri III, pada tahun 2003.*  […]

    Like

Leave a reply to Mendidik Calon Pendamping Pemimpin – Catatan Silang Cancel reply