Geliat Dakwah Mantan Pelaut (1)

Mantan pelaut ini dikenal sebagai dai yang tegas dalam menyampaikan kebenaran ajaran Islam. Ancaman dan tantangan yang menghadang tak menyurutkan langkahnya dalam berdakwah.

Beberapa orang lelaki tengah duduk membentuk halaqah di sebuah rumah malam itu. Mereka tengah khusyuk menyimak tafsir kalam Ilahi dari sang pembicara yang juga tuan rumah.

Pak Andi, demikian pria paruh baya itu biasa dipanggil, tengah membahas ayat-ayat Allah dalam Surah Al-Hijr. Kajian dalam bentuk halaqah itu rutin diadakan tiap Ahad malam.

Selain aktif membina warga sekitar rumahnya di Balongsari, Surabaya, lewat kajian bersama, Andi yang enggan disebut ustadz ini juga dikenal sebagai seorang khatib Jumat yang tegas. Suaranya serak namun lantang ketika membacakan ayat-ayat Allah di atas mimbar. 

Salah satu tema yang kerap ia sampaikan ketika berkhutbah adalah masalah TBC (takhayul, bid’ah dan churafat). “Masih banyak masyarakat yang mengamalkan ajaran-ajaran TBC ini. Oleh karena itu, saya berusaha menyadarkan mereka agar kembali kepada ajaran Islam yang benar,” ujarnya.

Ketegasan sikapnya dalam masalah TBC ini tentu saja mengundang antipati sebagian besar kalangan Muslim, namun Andi tak bergeming. Ia tetap mantap dengan pilihannya. “Saya hanya menyampaikan kebenaran, walaupun satu ayat. Tidak perlu banyak, yang penting jangan takut menyampaikan kalimah Allah,” prinsipnya.

Sebelum terjun dan mengabdikan diri di ladang dakwah, Andi Hafid Salohang dikenal sebagai sosok pelaut ulung. Sejak remaja ia telah berkecimpung dalam gemuruh ombak dan gelombang bersama pelaut-pelaut tangguh keturunan Bugis.

Anak pertama dari tujuh bersaudara ini juga kerap memburu barang-barang gaib di setiap tempat yang disinggahi kapalnya. Benda-benda yang berbau klenik seperti keris, akar bahar, kayu-kayuan, bebatuan dan lainnya ia cari untuk dijadikan azimat. Ia juga getol mencari ilmu-ilmu magis seperti kekebalan dan kesaktian.

Ke mana-mana Andi selalu membawa pisau. Suatu ketika ia pernah mengancam akan membunuh syahbandar pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya karena menolak memberangkatkan kapalnya. Dalih sang syahbandar, dokumen kapal yang dibawa Andi  tidak lengkap.

Andi pun berang dan langsung mendatangi syahbandar di ruangannya. “Kapal yang lain boleh berangkat, kapal saya tidak boleh, kenapa?” tanyanya ketus lalu mengeluarkan pisau dan menancapkannya di atas meja. Sang petugas gemetaran.

“Kalau pisau ini sudah keluar, pantang saya masukkan tanpa bersimbah darah, kecuali saudara mau memberangkatkan kapal saya!” ancamnya lagi. Syahbandar yang malang itu tak berkutik. Kapal pun mengangkat sauh dan berlayar kembali.

Puluhan tahun lamanya Andi menjalani kehidupan sebagai pelaut dan pencari barang ghaib sebelum akhirnya mendapatkan hidayah dan aktif berdakwah. Kariernya di kapal dimulai dari tingkat yang paling rendah, koki.

Berturut-turut kemudian naik menjadi muallim hingga kapten. Mulai kapal penumpang hingga kapal barang, besar maupun kecil telah ia rasakan. Pengalaman di lautnya tak diragukan lagi. Seluruh belahan bumi pertiwi telah diarungi oleh putra Bone ini, bahkan ke luar negeri.

Namun, kehidupan laut yang penuh tantangan dan kadang maksiat tak membuatnya betah.

“Bagaimana kehidupan pelaut, hampir semua orang tahu. Apalagi kalau pangkatnya sudah tinggi. Begitulah, Allah masih memberikan kesempatan saya untuk bertobat dan menutupi bermacam kesalahan dan dosa yang telah saya lakukan selama menjadi pelaut,” tutur putra pasangan Salohang Daeng Masenang dan Siti Anis (alm) ini.

Pada tahun 1973 ia keluar dari laut, kembali ke darat dan menetap di Kota Pahlawan, Surabaya. Tiga tahun kemudian ia menikah dengan gadis pujaannya, Nurmiyati Deeng. Anak pertamanya lahir setahun kemudian.

Andi mencari nafkah dengan bekerja di kantor ekspedisi setelah pensiun dari lautan. Ia kemudian menggantikan usaha ekspedisi mertuanya yang telah meninggal dunia pada tahun 1979.

Geliat dakwah

Suatu malam, pada tahun 1980 Andi Hafid membuka Al-Qur’an dan menemukan Surah Al-Baqarah ayat 151. Ia membaca kalam Ilahi itu dan langsung mencari artinya pada terjemahan. 

“Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” 

Hatinya terguncang, badannya gemetar, rasa takut akan dosa-dosa membayang di pelupuk mata. Andi tersadar dari kesalahannya selama ini. Keinginan bertobat dan mendekat kepada Allah SWT tiba-tiba muncul. 

“Seakan-akan dengan ayat itu, Allah berjanji kepada saya bahwa jika hatimu sudah suci, sering mendengarkan dan membaca Al-Qur’an maka Allah akan menyucikan hatimu. Kalau Allah sudah menyucikan hatimu, Allah akan memberitahu hikmah-hikmah yang terdapat di dalam Al-Qur’an,” tuturnya.

Tangannya kembali membuka lembaran Kalam Ilahi itu, menunjuk Surah Fushshilat ayat 33, “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” 

Setelah membaca ayat-ayat itu Andi merasa seperti orang gila. Kemana-mana membawa Al-Qur’an. Ketika naik bus atau angkot, bahkan ketika bekerja. Pernah ketika membaca Al-Qur’an di angkot, ia ditegur dan disinggung orang.

“Al-Qur’an kok dibawa-bawa begitu, Mas? Baca Al-Qur’an itu di rumah, di masjid, yang tenang. Kok di jalan begini baca Al-Qur’an?” Andi hanya mengucapkan istigfar.

Ia sadar, bahwa selama ini jalannya hidupnya salah. Ia pun bertekad memperbaiki diri, mencari orang-orang tasawuf di Surabaya dan belajar pada beberapa ulama di sana.

“Kalau ini (tobat) tidak saya lakukan, saya akan menyesal selamanya. Padahal Allah telah memberikan saya kesempatan untuk tidak mati dalam gelimang dosa,” kata lelaki kelahiran 5 Januari 1945 ini. (bersambung)

Posted in

One response to “Geliat Dakwah Mantan Pelaut (1)”

  1. […] Kini jamaah kajian yang aktif tinggal beberapa orang saja. Tak lebih dari dua puluh orang. Namun, bapak tujuh anak ini tetap istiqamah dan akan terus berdakwah hingga ajal menjelang. […]

    Like

Leave a comment