Geliat Dakwah Mantan Pelaut (2-habis)

Dua tahun lamanya ia bergelut dengan Al-Qur’an. Bapak tujuh anak ini sadar, ilmunya tidak memadai karena bukan jebolan pesantren. Oleh karena itu, ia berkecimpung di masjid, berteman dengan para ustadz dan ulama, serta belajar dari mereka.

Andi juga mendatangi para kiai di Jawa Timur, termasuk KH Jured Mahfud, seorang ulama pakar tafsir yang cukup disegani di Surabaya. KH Jured Mahfud ini termasuk guru pertamanya. Tiap hari sehabis shalat Subuh, Andi dan kawan-kawannya mendatangi rumah KH Jured untuk menuntut ilmu.

Andi Hafid juga “nyantri” pada almarhum KH Abdurrahim Nur, salah seorang ulama dan tokoh Muhammadiyah Jawa Timur. Dialah yang mendorong Andi agar terjun ke jalan dakwah, apa pun resiko yang bakal dihadapi.

“Saya betul-betul belajar ilmu agama ini secara otodidak. Sebab tidak pernah belajar di pesantren secara formal,” ungkapnya.

Andi hanyalah lulusan Sekolah Normal Islam (setingkat Madrasah Ibtidaiyah) di Samarinda. Masa kecilnya dilewati di bawah bimbingan orangtuanya yang ketat dalam mengamalkan ajaran-ajaran Islam. Sejak usia 5 tahun ia telah fasih membaca ayat-ayat Allah. Wajar saja, sebab ibunya adalah hafidzahyang dengan keras mendidik dan mengajarnya baca-tulis Al-Qur’an.

Seringkali sang ibu menjewernya jika bacaan Qur’annya salah. Bahkan untuk memperbagus suara, Andi disuruh menyelam di laut dan berteriak-teriak di dalam air. “Darah sering keluar dari hidung dan mulut saya karena terlalu sering berteriak di dalam air,” kenangnya.

Gurunya yang lain adalah Ustadz Abdullah Said, pendiri Pondok Pesantren Hidayatullah. Menurut Andi, almarhum adalah salah seorang ulama Indonesia yang telah mendapatkan “qaulan tsaqilan”. Perjuangan Ustadz Said dalam merintis Pesantren Hidayatullah juga menginspirasinya dalam berdakwah.

Oleh sebab itu, setiap ke Balikpapan, Andi menyempatkan diri mampir di Karang Bugis, lokasi Pesantren Hidayatullah. Bersilaturahmi dan berdiskusi dengan Ustadz Said ketika masih hidup.

Kira-kira tiga tahun lamanya belajar dan mendalami Al-Qur’an, Andi pun tergerak untuk menyampaikannya kepada orang lain. “Minimal kepada keluarga terdekat saya dulu, istri dan anak-anak. Setelah itu kepada masyarakat,” ujarnya.

Dua ayat dalam dua surat Al-Qur’an itu memotivasi dirinya dan menjadi landasan langkah dakwahnya. “Saya berusaha untuk senantiasa melakukan dakwah sekecil apapun yang bisa saya lakukan.”

Berubah haluan dari pelaut menjadi dai bukannya tanpa risiko dan ujian. Suatu hari, ketika tengah berkhutbah jumat di sebuah masjid di Surabaya Barat, tiba-tiba suaranya hilang.

Berulangkali ia mencoba mengucap kata namun tak sepatah pun yang keluar. Tenggorokannya seperti tersekat oleh sesuatu yang menghambat pita suaranya mengeluarkan bunyi. Para jamaah shalat jumat terlihat tegang, bingung dengan apa yang menimpa si khatib.

Andi Hafid berdoa dalam hati, “Ya Allah jika ini (berhenti berdakwah) lebih baik bagi hamba, maka hamba akan terima. Namun jika dakwah ini harus terus hamba jalani demi menjalankan perintah-Mu dan Engkau ridha karenanya, maka kembalikanlah suara saya.”

Setelah mengucapkan doanya, Andi mengambil gelas berisi air putih yang tersedia di atas mimbar. Beberapa saat setelah meminum air tersebut, sekat yang menutupi tenggorokannya pun seolah terseret bersama aliran air. Suaranya pulih kembali, para jamaah pun lega setelah sempat tegang beberapa saat. Dari sanalah Andi berpikir bahwa Allah meridhai langkah dakwah yang ia ambil.

Pada tahun 1986, ketika tengah ceramah di sebuah masjid di kawasan Tanjung Perak, Surabaya, Andi diancam oleh seorang jamaah dengan menggunakan clurit. Rupanya jamaah tadi tersinggung karena Andi membahas masalah bid’ah yang masih dilakukan sebagian masyarakat sana.

Jamaah pengajian yang warga setempat ini tidak terima dengan penyampaian Andi. “Kalau sampeyan(anda) tidak mau turun dari mimbar saya clurit!” teriaknya lantang. Karuan saja hal itu menimbulkan kegegeran.

Andi mencoba bersikap sabar dan memandang pengancamnya dengan tenang. Ketegangan nampak pada wajah hadirin. Mereka kaget bukan kepalang dengan ancaman yang tak lazim itu.

Andi kemudian berujar, “Alhamdulillah, masih ada orang yang mau menjadikan saya syahid di jalan Allah. Cuma perlu diingat para jamaah sekalian, jika ajal saya memang sampai di sini, saya punya istri dan anak-anak yang menjadi tanggungan saya. Tolong dijaga!”

Usai berkata demikian, tiba-tiba beberapa orang anggota polisi masuk dan langsung mengawal Andi pulang. Ternyata ada salah seorang jamaah yang melapor ke pos polisi terdekat terkait dengan insiden yang terjadi di dalam masjid. Acara itu pun bubar ketika belum mencapai paruh waktu.

Pada tahun 1997 Andi dan keluarganya mengalami kecelakaan saat mengendarai mobil ke Ponorogo. Ia bermaksud menjenguk salah seorang anaknya di Pondok Modern Gontor. Andi menderita patah tulang di beberapa bagian tubuhnya.

Mobilnya ringsek dan rusak parah. Istri dan anaknya yang turut serta dalam mobil itu juga mengalami luka berat. Kecelakaan besar yang hampir merenggut nyawanya itu ia anggap sebagai ujian dari Allah.

Selain aktif ceramah dan khutbah Jumat, Andi Hafid juga membentuk kelompok kajian di rumahnya. Kajian bersama ini dibentuk beberapa saat sebelum ia mengalami kecelakaan mobil itu. Temanya khusus membahas ayat-ayat Al-Qur’an, diikuti oleh para pemuda hingga orangtua.

Sehabis pengajian, keluarga Andi menyuguhkan air minum dan kue camilan kepada seluruh hadirin. Hal ini, kata dia, dilakukan sebagai salah satu bentuk penghormatan kepada tamu.

Mula-mula, jamaah kajian membludak hingga ratusan orang. Namun, lambat-laun berkurang seiring berjalannya waktu. Lelaki berjenggot lebat ini tidak kecewa apalagi bersedih hati karenanya. “Mungkin para jamaah pergi karena keterbatasan ilmu saya dalam menyampaikan ayat-ayat Allah,” ujarnya.

Kini jamaah kajian yang aktif tinggal beberapa orang saja. Tak lebih dari dua puluh orang. Namun, bapak tujuh anak ini tetap istiqamah dan akan terus berdakwah hingga ajal menjelang.

Ia berpegang pada prinsip pendiri Pondok Modern Gontor, almarhum KH Imam Zarkasyi. “Kalau saya mempunyai 100 santri, saya akan mengajar mereka. Kalau tidak ada 100 tapi cuma 10 orang, saya akan tetap mengajar mereka. Kalau pun tidak ada 10 tapi cuma 1 orang, saya akan tetap mengajarnya. Kalau tidak ada lagi, maka saya akan mengajar dengan pena.”*

 

 

Posted in

One response to “Geliat Dakwah Mantan Pelaut (2-habis)”

  1. […] “Kalau ini (tobat) tidak saya lakukan, saya akan menyesal selamanya. Padahal Allah telah memberikan saya kesempatan untuk tidak mati dalam gelimang dosa,” kata lelaki kelahiran 5 Januari 1945 ini. (bersambung) […]

    Like

Leave a reply to Geliat Dakwah Mantan Pelaut (1) – Catatan Silang Cancel reply