Gelombang rasisme menyeruak di Australia. Kali ini dengan melarang pendirian sekolah Islam di Camden, salah satu kota di pinggiran Sydney.
Hari-hari ini ketenangan warga Muslim Camden sedikit terganggu. Proposal pembangunan sekolah Islam yang mereka ajukan ke pemerintah setempat ditolak oleh dewan kota. Penolakan ini memantik kontroversi di seantero negeri.
Masyarakat Al-Qur’an (Qur’anic Society), wadah tempat berkumpulnya warga Muslim ini berencana menggugat putusan dewan kota melalui pengadilan.
Dewan Kota Camden dengan suara bulat memutuskan penolakan pendirian sekolah tersebut dalam sebuah pertemuan Selasa (27/5), yang juga dihadiri sebagian warga. Walikota Camden Chris Patterson mengatakan, penolakan pendirian sekolah itu bukan karena masalah agama, tapi atas pertimbangan dampak pada lingkungan sekitar.
“Sekolah itu akan berimbas pada arus lalu-lintas dan hilangnya tanah pertanian. Ini didasarkan atas pertimbangan tempat. Semua hal yang menyangkut isu agama dan nasionalisme tidak masuk ke dalamnya,” kata Patterson sebagaimana dikutip Sydney Morning Herald.
Anggota dewan kota juga menampik tudingan bahwa putusan yang mereka buat dipengaruhi oleh intervensi dan tekanan politik pemerintah. “Tidak ada tekanan sama sekali. Masalahnya adalah polusi dan arus lalu-lintas saja,” ujar David Funnell, salah seorang anggota dewan.
Pendapat David diamini rekannya, Fred Whiteman. “Saya tidak percaya dengan adanya tekanan. Kita telah memiliki pedoman yang baku dalam masalah penilaian tata lingkungan. Saya akan berpegang pada rencana tata ruang itu,” ujarnya.
Direktur Eksekutif Forum on Australia’s Islamic Relations (FAIR), Kuranda Seyit menganggap penolakan itu sebagai kemenangan rasisme. “Alasan dewan kota itu hanya sebuah tabir yang menutupi isu sebenarnya, yaitu pergolakan sosial bila pendirian sekolah itu disetujui,” katanya.
Masyarat Al-Qur’an yang menggagas pendirian sekolah ini tidak akan menyerah begitu saja, mereka akan menempuh jalur hukum. Lembaga ini juga menepis tudingan bahwa mereka terkait dengan gerakan ekstrimisme mana pun.
Pembangunan sekolah Islam ini bertujuan untuk menyediakan pendidikan dan pengajaran agama yang baik bagi komunitas Muslim di Sydney yang terus kini terus berkembang. Berdasarkan survei terakhir tahun 2006, Australia dihuni oleh lebih dari 340 ribu Muslim yang sebagian besar berdiam di Sydney dan Melbourne.
Dewan Islam New South Wales (NSW) menyatakan, penolakan proposal sekolah itu telah menodai citra multikultural Australia. Namun, Presiden Dewan Islam NSW, Ali Roude mengaku tidak kaget.
“Kami telah melihat sejarah reaksi penduduk lokal terhadap keberadaan tempat-tempat ibadah dan sekolah-sekolah Islam, jadi tidak mengagetkan,” ujarnya kepada Radio ABC.
Putusan itu, kata Roude, akan berdampak buruk bagi Australia. “Itu tidak akan membantu citra Australia, karena kami bangga sebagai orang Australia di mana negara ini telah sukses memberikan contoh kepada seluruh dunia, bahwa kita bisa hidup bersama,” tandasnya.
Sebagian besar penduduk Camden seiya-sekata dengan wakil mereka di dewan kota dalam hal penolakan. Kate McCulloch adalah warga Camden yang paling vokal dan dijadikan “juru bicara” oleh warga lainnya.
“Saya tidak ingin orang datang ke tempat saya tinggal, datang dari sebuah budaya yang menerima penggunaan wanita dan anak-anak untuk melakukan bom bunuh diri kepada musuh,” kata McCulloch.
Wanita 45 tahun yang jadi pengusaha di Camden ini mengaku bangga dapat melakukan sesuatu yang berbahaya demi kepentingan orang lain.
“Anda harus melihat ke negara-negara yang menerima orang-orang Arab dan orang Islam lainnya, lihat bagaimana mereka mengobarkan perang dan kampanye kekerasan untuk mengusir penduduk lokal,” sindirnya.
McCulloch juga meminta Muslim di Australia agar menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah negeri, dengan demikian mereka dapat tumbuh dengan nilai-nilai Australia.
“Dan yang lebih penting, ibu-ibu mereka juga dapat bertemu dengan ibu-ibu Australia dan melihat bagaimana mereka tidak harus betah dengan perlakuan yang kadang mereka terima,” ujarnya.
Bagaimanapun, tidak semua warga Camden berdiri di belakang McCulloch. Seorang petani tua berusia 72 tahun yang tinggal di jalan Argyle, jalan utama di Camden, mengatakan, mempublikasikan McCulloch adalah cara terbaik untuk membungkamnya. “Pada akhirnya dia akan menelan kata-katanya sendiri.”
Jasmine Darwich, warga Camden lainnya, mengaku tak ada yang perlu dikhawatirkan dengan kehadiran sekolah tersebut. Ibu dua anak ini memilih untuk tidak peduli dengan masalah rasisme atau konflik terkait dengan larangan pendirian sekolah Islam di kotanya.
“Saya berharap ketika seseorang dari Camden bertemu dengan orang lain hendaknya tidak mempedulikan warna kulit atau perbedaan keyakinan. Jika orang itu baik dan pengertian, anda akan menyukai mereka,” ujarnya.
Bola panas politik
Proposal Masyarakat Al-Qur’an yang berisi permohonan izin mendirikan sekolah Islam menjadi bola panas politik sejak 10 Oktober tahun lalu, ketika terjadi kasak-kusuk pemilihan umum. Proposal ini diajukan guna memberikan pendidikan keislaman secara resmi bagi warga Muslim Camden dan sekitarnya.
Pada 10 November, Dewan Masyarakat Nasional Anglo-Australia tiba di Camden dan membagi-bagikan pamflet anti-Islam. Malam harinya, sebuah kayu salib kecil dipasang di tanah lokasi sekolah yang akan dibangun, berisi tulisan “David dan Goliath, perang telah dimenangkan. Ini adalah raja diraja. Doa sangat penting dalam peperangan yang tengah berlangsung.”
Kampanye grafiti ini berlanjut hingga beberapa bulan kemudian. Pada sebuah batu di pojok jalan Cawdor dan Burragorang terdapat tulisan “No Muslim School” dari cat warna kuning. Sebuah rumah yang terletak dekat jalan raya, tak jauh dari lokasi, atapnya bertuliskan “Muslim F**k Off”. Sebuah bendera Australia berkibar-kibar di depan rumah itu. (bersambung)

Leave a reply to Gelombang Rasisme di Negeri Kanguru (2-habis) – Catatan Silang Cancel reply