Selain diserang lewat tulisan dan grafiti, Muslim Camden juga diteror dengan kepala-kepala babi. Pada tahun 2003 kepala babi diletakkan di sebuah gedung di Annangrove ketika umat Islam tengah beribadah.
Sebelumnya, pada 1991 kepala babi juga muncul di Minto di lokasi yang direncanakan sebagai tempat pembangunan masjid, yang akhirnya urung terlaksana karena keberatan warga setempat.
Masyarakat Al-Qur’an bertekad membawa kasus penolakan sekolah ini ke pengadilan. “Kami akan membawa kasus ini dengan cara banding ke Pengadilan Tanah dan Lingkungan,” ujar Wakil Presiden Masyarakat al-Qur’an, Issam Obeid, sebagaimana dikutip Camden Advertiser.
Ahmed Halal, seorang warga Muslim anggota Masyarakat al-Qur’an mengaku kecewa pada warga Camden yang secara nyata tidak menginginkan keberadaan umat Islam di wilayah mereka. “Jika anda membangun sekolah, berarti anda membangun pendidikan dan anda membangun sesuatu untuk masyarakat,” ujarnya.
Justru dengan adanya penolakan tersebut kaum Muslimin Australia khawatir akan muncul pendidikan Islam underground yang mengajarkan ekstremisme kepada anak-anak tanpa kontrol dan pengawasan dari pemerintah.
Presiden Federasi Dewan Islam Australia, Ikebal Patel telah memperingatkan, sekolah Islam harus diadakan agar dapat diawasi oleh pemerintah.
“Atau anak-anak Muslim akan diberikan pendidikan agama di halaman belakang atau garasi oleh guru-guru yang tidak jelas. Mungkin saja akan ada imam-imam ekstrim atau guru agama yang mengajar mereka,” katanya.
Uskup Katolik Sydney, Cardinal George Pell, mendukung pernyataan Ikebal tersebut. “Semua orang di Australia punya hak yang sama, demikian juga dengan Muslim,” kata George.
Mantan pejabat Sydney, Jeremy Bingham menentang putusan Dewan Kota Camden tersebut dan akan melakukan pembelaan terhadap Masyarakat Al-Qur’an. Ia menyebut putusan itu dinodai oleh kepentingan politik. “Jika tidak sah, penolakan rencana pendirian sekolah itu harus diuji,” ujarnya.
Bingham juga menuduh Dewan Kota Camden bermain sebagai calo guna mengais perhatian warga agar terpilih kembali pada pemilu mendatang. “Ada beberapa kelompok warga yang sangat vokal menentang sekolah ini. Ini bukanlah cara Australia dan dan bukan hukum Australia,” tandasnya.
Umat Islam Camden kini hanya berharap pengadilan dapat mengeluarkan putusan yang adil, berpihak kepada multikulturalisme Australia, agar hari-hari mereka kembali tenang.
Legenda Sang Baron
Islam telah lama menjadi bagian sejarah Camden, ketika agama itu diperkenalkan di Australia lebih dari 70 tahun lalu.
Baron Frederick Elliot von Frankenberg adalah orang yang pertama kali memperkenalkan Islam dalam bentuknya yang tidak konvensional -dengan cara sufisme- ke Camden pada tahun 1930-an. Ia menyebarkan pengajaran Hazrat Inayat Khan, salah seorang pemimpin Sufi Muslim India yang mendirikan organisasi itu di tahun 1910.
Di Camden, Baron dikenal dengan sebutan “Sang Baron”. Ia dilahirkan tahun 1889 dalam sebuah keluarga aristokratik Jerman. Ia menjadi murid Khan sesaat setelah berimigrasi ke Australia tahun 1927. Baron membeli sebuah usaha peternakan susu yang dikenal dengan nama Spring Hill di Burragorang Valley Road.
Tempat usaha itu termasuk bagian dari rumahnya yang dihias dengan mewah. Di rumah itu pula Baron tinggal dengan istrinya, perempuan Australia bernama Olive Pauline Ward Taylor, putri salah seorang tuan tanah bernama Mayor Sir Allan Taylor. Baron sering menggelar pertemuan dan kegiatan ritual keagamaan di rumah mewahnya.
Para anggota kelompok Sufi yang tinggal di rumah Baron kerap mengikuti kelas reguler dan melakukan ibadah bersama. Mereka memulai acara ibadah bersama dengan saling bertukar salam dalam bahasa Arab, membaca tulisan-tulisan Inayat Khan dan melakukan meditasi.
Dalam tesisnya tentang sejarah sufisme di Australia, DR Celia Genn menggambarkan Baron sebagai seorang figur yang kharismatik dan impresif. “Para wanita mengingatnya sebagai sosok yang ramah dan bijaksana, sedangkan para pria menggambarkannya sebagai pribadi yang hangat dan terbuka.”
Namun, para pejabat berwenang melihat Sang Baron secara berbeda. Ia berada di bawah pengawasan aparat selama beberapa tahun pada waktu Perang Dunia ke-2. Latar belakang Jerman dan keyakinan agamanya mengundang kecurigaan aparat pemerintah.
Dokumen tentang Baron tersimpan di Arsip Nasional Australia termasuk surat-surat para pengikutnya yang disita petugas keamanan. Kebanyakan dokumen dan surat-surat itu dibubuhi kata-kata “rahasia”.
Ada juga sebuah transkrip wawancara Sang Baron dengan polisi yang dilakukan beberapa saat setelah rumahnya di Camden digeledah pada 1942. Beberapa dokumen milik Baron dirampas saat itu.
Polisi meyakini bahwa Sang Baron adalah seorang “simpatisan kuat NAZI” yang mengirim dan menerima pesan-pesan dari Jerman lewat radio yang terletak di ruang bawah tanah rumahnya. Namun, tak ada radio yang ditemukan di sana.
Di antara catatan yang tersimpan, terdapat surat-surat yang berkop “Masyarakat Sufi Cabang Australia Camden NSW”. Surat-surat itu ditulis oleh aparat kepolisian yang menggambarkan sufisme sebagai sebuah “ritual” belaka.
Ada pula surat-surat dari komisaris polisi tentang investigasi yang diberi tanda “rahasia”, serta beberapa catatan yang disusun oleh anggota intelejen Angkatan Udara Australia yang dibubuhi kata “rahasia”.
Bagaimanapun juga, semua laporan intelejen polisi, tanya-jawab dan penggeledahan terhadap Sang Baron yang disebut “rencana penelitian” akhirnya dihentikan oleh pejabat direktur keamanan Australia pada bulan Februari 1945.
Mereka menganggap bahwa ritual misterius Baron dapat diterima sebagai sebuah fanatisme esoterik dan oleh karena itu dibolehkan berlanjut. Lima tahun kemudian, Sang Baron meninggal dunia dalam usia 61 tahun, demikian pula dengan gerakannya. Ia dimakamkan di Camden.*

Leave a comment