Ramadhan di Berbagai Penjuru Dunia (1)

Datangnya bulan suci Ramadhan, sangat dinanti kaum Muslimin di berbagai penjuru dunia. Berikut ini gambaran sekilas bagaimana umat Islam menyambut hadirnya bulan penuh ampunan itu.

Jepang

Dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan, umat Islam di Jepang saling berbagi kebahagiaan dengan saudaranya sesama Muslim. Namun jauh sebelum datangnya Ramadhan, kaum muslimin di Negeri Sakura itu telah mempersiapkan diri.

Islamic Centre Jepang misalnya, telah membentuk semacam panitia Ramadhan yang bertugas menyusun kegiatan selama bulan puasa, mulai dari dialog keagamaan, majelis taklim, shalat tarawih berjamaah, penerbitan buku-buku keislaman dan segala hal yang terkait dengan pelaksanaan ibadah puasa.

Panitia juga menerbitkan almanak Ramadhan dan mendistribusikannya ke rumah-rumah keluarga Muslim maupun ke masjid-masjid. Almanak ini juga dibagikan ke restoran-restoran halal di seantero Jepang.

Panitia ini mulai bekerja ketika telah muncul hilal dan berakhir pada saat Idul Fitri. Jika tidak nampak hilal tanda awal puasa dimulai, maka panitia mengikuti ketetapan hilal Malaysia, negara tetangga terdekat.

Austria

Terdapat sekitar 400,000 Muslim di Austria atau sekitar 4% dari 8 juta total penduduk negara itu. Agama Islam secara resmi diakui di Austria sejak 1912 dan menjadi agama kedua terbesar setelah Katolik. Sebagaimana tradisi di negeri Islam lainnya, Muslim di Austria menyambut kehadiran bulan Ramadan dengan penuh suka cita.

Mereka menjalankan ibadah shalat tarawih di sekitar lima puluh masjid di Wina dan kota-kota Austria lainnya. Umat Islam Austria juga kerap datang ke masjid secara teratur untuk mendengarkan kajian agama tentang hukum Islam, tafsir al-Qur’an dan ilmu pengetahuan lain.

Di Wina juga terdapat sebuah Islamic Center yang didirikan dan dibiayai oleh negara-negara Muslim. Islamic Center ini merupakan pusat informasi dan dakwah Islam. Kuliah-kuliah keagamaan maupun khutbah kerap diberikan oleh kelompok sarjana Muslim terkemuka dari Al-Azhar, Mesir dan tempat-tempat lain.

Shalawat tarawih di Islamic Center diadakan secara teratur. Lebih dari itu, Islamic Center ini juga menyediakan hidangan sahur dan buka puasa sepanjang bulan Ramadhan.

Menjelang bulan suci Ramadhan, Muslim di Austria biasanya menggelar kampanye pengumpulan paket lebaran untuk keluarga miskin dan hadiah lebaran untuk anak-anak yatim piatu di Palestina.

Kampanye ini dikordinir oleh organisasi kemanusiaan Palestina yang ada di Austria. Kampanye yang diberi nama Feeding Fasting Palestinians ini mendapat sambutan positif dari Muslim Austria. Mereka berlomba-lomba menginfakkan hartanya.

Untuk menyebarluaskan kampanye bantuan bagi warga Palestina ini, warga Muslim Austria menggunakan berbagai cara, seperti penyebaran poster, pemasangan iklan dan jasa pos. Semua bantuan dikirimkan melalui lembaga-lembaga sosial yang beroperasi di wilayah Palestina.

Dalam menentukan jatuhnya awal Ramadhan, Muslim Austria sepakat mengikuti Arab Saudi. Sebelumnya, selama bertahun-tahun, warga Muslim yang berasal dari berbagai etnis, seperti Mesir, Suriah dan Turki tersebut, berbeda-beda dalam menentukan jatuhnya awal bulan Ramadhan, disesuaikan dengan negara asalnya masing-masing.

Swedia

Masalah utama yang dihadapi kaum Muslimin Swedia dalam menyambut Ramadhan adalah masalah hilal. Umat Islam Swedia berbeda pendapat dalam menentukan jatuhnya awal Ramadhan karena keterbatasan lembaga agama Islam yang menjadi rujukan.

Memang terdapat Islamic Center di Swedia, namun tidak dapat menjangkau seluruh umat Islam yang tersebar di berbagai wilayah. Lagi pula, media-media di Swedia tidak memberikan bantuan menyebarluaskan tentang kedatangan bulan Ramadhan. Walau demikian, kaum Muslimin di Swedia kebanyakan mengikuti Arab Saudi dalam menentukan awal bulan Ramadhan dan Idul Fitri.

Ada suatu perbedaan besar antara cara merayakan Ramadhan di negara-negara Skandinavia dan negara-negara Eropa yang lainnya terkait dengan jumlah umat Islam. Walau mereka menjadi minoritas di Swedia, namun Ramadhan membentuk suasana spiritual berbeda yang dinanti-nanti kehadirannya dari tahun ke tahun.

Begitu mengetahui munculnya hilal, umat Islam Swedia akan saling memberi selamat satu dengan lainnya. Mereka melaksanakan shalat tarawih berjamaah di masjid-masjid terdekat atau tempat-tempat lain yang disewakan sebagai tempat ibadah, jika di sana tidak terdapat masjid.

Jerman

Ramadhan di Jerman berlangsung dalam suasana berbeda dibanding di negara-negara mayoritas Muslim lainnya. Perbedaan juga terdapat pada lamanya waktu siang hari dibanding malam pada musim panas, namun lebih pendek di musim dingin.

Terdapat sekitar 3,5 juta Muslim di Jerman, yang tinggal di Berlin atau Ruhr. Keduanya merupakan wilayah dengan komunitas Muslim tinggi di negari Hitler itu.

Karena bukan merupakan kawasan mayoritas Muslim, tak heran jika umat Islam Jerman mendapat tantangan yang cukup berat ketika sedang berpuasa.

Di mana-mana tampak orang yang makan dan minum di siang hari. Oleh sebab itu, banyak juga umat Islam yang tidak menjalankan ibadah puasa dengan alasan pribadi.

Orang Muslim yang bekerja dengan sistem shift di beberapa perusahaan tertentu akan mensiasati buka puasanya dengan mencari waktu-waktu rehat. Namun, beberapa perusahaan yang memiliki karyawan Muslim dalam jumlah besar membuat kesepakatan terkait dengan ibadah puasa, khususnya untuk waktu buka puasa.

Kebanyakan umat Islam menikmati buka puasanya di rumah, ketimbang di tempat kerja karena suasananya yang lebih nyaman. (bersambung)

Posted in

One response to “Ramadhan di Berbagai Penjuru Dunia (1)”

  1. […] Begitu menjelang hari raya Idul Fitri, kaum Muslimin Cina juga diselimuti kebahagiaan dan saling berucap selamat hari raya.* […]

    Like

Leave a reply to Ramadhan di Berbagai Penjuru Dunia (2-habis) | Catatan Silang Cancel reply