Mesir
Di Mesir terdapat sebuah meriam tua yang digunakan sebagai penanda bulan puasa. Tiap waktu imsak dan buka puasa, meriam ini disulut hingga mengeluarkan bunyi dentuman yang keras.
Meriam yang diberinama Hajjah Fatimah ini adalah warisan dari Muhammad Ali Pasha, yang menurut cerita, adalah putri Ustman Khos Qadam, penguasa Dinasti Usmani. Walau meriam itu telah diganti, namanya tetap tak berubah.
Meriam ini biasanya ditempatkan di dataran tinggi Moqattam dekat Citadel. Empat orang ditugaskan untuk menjaganya dan menyulutnya untuk membangunkan orang makan sahur atau mengingatkan waktu berbuka puasa.
Suasana Ramadhan di Mesir berlangsung khidmat. Setiap orang, mulai dari kota hingga desa lebih betah tinggal di masjid. Wajar jika selama Ramadhan, shaf jamaah masjid tidak berkurang. Terlebih sepuluh hari menjelang Idul Fitri, masjid-masjid penuh sesak.
Hampir di tiap masjid besar Kairo, menyelenggarakan shalat tarawih cukup lama. Setiap malam sang imam menghabiskan bacaan 1 juz al-Qur’an. Hingga akhir Ramadhan, bacaannya genap 30 juz.
Salah satu masjid terkenal dan paling diminati jamaah Ramadhan adalah Masjid Amr bin Ash. Masjid ini merupakan masjid pertama di Afrika dan menjadi markas Ikhwanul Muslimin, dibangun oleh sahabat Amr bin Ash saat membebaskan Mesir pada masa khalifah Umar bin Khattab. Masjid yang agak jauh dari pusat kota ini, setiap malamnya membacakan 1 juz al-Qur’an.
Di Mesir juga terdapat tradisi Ramadhan yang disebut Maidah Rahman atau hidangan kasih-sayang. Maidah Rahman adalah hidangan makanan gratis bagi orang yang berpuasa.
Tak hanya ta’jil, tapi juga makanan berbuka lainnya. Menunya pun bermacam-macam bahkan ada yang sekelas hotel berbintang. Program ini merata di seluruh negeri Mesir dan berlangsung selama bulan puasa.
Liberia
Total penduduk Liberia sebanyak 4 juta jiwa, dimana 15 persen-nya adalah Muslim. Selama bulan Ramadhan, umat Islam di Liberia berhenti mendengarkan musik. Bagi mereka, orang yang mendengarkan musik selama Ramadhan dianggap berdosa dan menyimpang dari ruh bulan yang diberkati ini.
Ketika hilal telah tampak pertanda masuknya bulan Ramadhan, orang-orang Liberia mulai memainkan alat-alat musik dari kayu selama beberapa jam. Radio-radio lokal juga menyiarkan program-program keagamaan yang bermanfaat bagi umat Islam.
Di Liberia, orang yang biasanya membangunkan kaum Muslimin untuk makan sahur disebut Papali. Papali memulai tugasnya tiga jam sebelum fajar dan berhenti sebentar di tiap rumah, untuk membangunkan penghuninya agar makan sahur.
Biasanya dalam melakukan pekerjaannya ini, Papali menyanyikan lagu-lagu relijius lokal (sejenis nasyid) dan kalimah syahadat.
Mauritania
Pada awal Ramadhan, Muslim Mauritania terutama yang muda, bergegas menuju masjid untuk melaksanakan shalat tarawih. Usai shalat, biasanya kaum muslimin mendengarkan khutbah dan ceramah dari ustadz dan imam-imam.
Setelah shalat tarawih, mereka saling berkunjung satu sama lain dan meminum teh hijau, minuman khas di Mauritania.
Sepanjang malam Ramadhan, televisi maupun radio lokal juga menyiarkan langsung shalat tarawih dari Makkah dan Madinah. Di Mauritania, tidaklah mengherankan melihat golongan kaya, terutama yang pelit, menunjukkan simpati kepada golongan miskin selama Ramadan.
Solidaritas dan uhkhuwah islamiyah biasanya muncul dan tersebar di seantero negeri selama bulan suci.
Bangladesh
Suasana Ramadhan di Bangladesh sangat berbeda. Umat Islam, lebih banyak memanfaatkan waktu bulan puasa untuk memperbanyak membaca buku agama. Sudah menjadi tradisi di Bangladesh, tiap tahun dibuka pameran buku di bulan Ramadhan. Jadilah bulan Ramadhan bagi Muslim di negeri pecahan India itu sebagai bulan membaca buku.
Pameran buku berlangsung sejak hari pertama hingga pengujung Ramadhan. Biasanya lokasi pameran di Masjid Bait Al-Mukarram di ibukota Bangladesh, Daka. Sejak mulai diberlakukan tahun 1982, pameran buku ini dilakukan atas kerjasama antar berbagai lembaga Islam di Bangladesh dan juga Menteri Urusan Agama.
Para penerbit buku terbiasa menyediakan serangkaian kitab baru dalam pameran satu bulan berikut harga diskon untuk memancing animo pembeli. Panitia pameran kadang menyediakan sejumlah buku gratis pada jam-jam tertentu di waktu pagi atau sore.
Dalam pameran Ramadhan ini, pengunjung yang datang tidak hanya dari umat Islam saja, yang non-Muslim pun ikut memadati ruang pameran.
Cina
Dengan kian dekatnya Ramadhan, imam-imam lokal di Cina mulai memberi tahu orang-orang tentang pentingnya mengkaji al-Qur’an dan sunnah, terutama yang berhubungan dengan puasa dan akhlak. Muslim Cina terbiasa shalat tarawih 20 rakaat.
Setiap habis dua rakaat mereka biasanya berseru, “Wahai, Zat (Allah) yang mengubah hati dan penglihatan, yang menciptakan siang malam, teguhkan iman kami dalam kebenaran.”
Beragam aktivitas keislaman diselenggarakan di masjid-masjid Cina seperti kajian tafsir al-Qur’an sebelum tarawih dan memburu malam lailatul qadr.
Penganan tambahan seperti teh, gula-gula dan kurma disajikan di tiap rumah sebagai pembeda bulan penuh berkah ini dengan hari-hari biasa.
Begitu menjelang hari raya Idul Fitri, kaum Muslimin Cina juga diselimuti kebahagiaan dan saling berucap selamat hari raya.*

Leave a reply to Ramadhan di Berbagai Penjuru Dunia (1) | Catatan Silang Cancel reply