Suatu Siang Bersama Teroris (1)

Kejaksaan Agung bakal mengeksekusi trio terpidana bom Bali I akhir Ramadhan nanti. Ketiganya kini tinggal menunggu hari, kala sang maut tiba. Akankah eksekusi mengakhiri segala misteri?

Sabtu siang yang cerah itu, (30/8), saya berkesempatan menjenguk trio ‘pelaku’ bom Bali I di Nusakambangan, juga sempat berbicara empat mata dengan tiap orang dari ketiganya. 

Saya berhasil masuk ke dalam Lapas Klas I Batu Nusakambangan dan bertemu mereka dengan mengaku sebagai sepupu Imam Samudera yang datang dari Jawa Timur. Tentu saja semua ini karena pertolongan Allah jua, dan atas kebaikan hati seseorang yang mau mengizinkan saya ikut dalam rombongannya.

Liputan tentang kunjungan TPM (Tim Pengacara Muslim) dan keluarga ‘bomber’ itu memang luar biasa besarnya. Puluhan jurnalis dari berbagai media tumpah ruah di Dermaga Wijayapura, pintu masuk menuju Nusakambangan. Tampak hadir pula, sesosok jurnalis kawakan dari Metro TV yang sering saya temui ketika liputan di beberapa daerah bencana dan konflik; Desi Fitriani.

Entahlah, saya lupa sudah berapa kali bertemu dengan wartawan satu ini. Mulai di Aceh, Yogyakarta, Jawa Timur hingga Poso. Namun kami tidak pernah bertegur sapa, karena memang tidak saling kenal. 

Yang saya heran, ketika para wartawan lain sibuk mengambil gambar atau wawancara dengan TPM maupun para keluarga ketiga terpidana, si Desi malah kelihatan santai saja. Tidak terlihat kesibukan yang mencolok dari sikapnya sebagai seorang wartawan jagoan. Tentu saja hal ini mengundang tanya di benak saya. Ada apa dengan(mu) Desi?

Ternyata semua ini bermuara pada satu hal, yaitu, liputan eksklusif Metro TV dalam Lapas ketika Trio Bomber bertemu para keluarga. Kebetulan beberapa kali, gambar saya dengan Amrozi maupun dengan Imam Samudera terekam jelas dalam sorotan eksklusif itu. 

Ketika Imam Samudera membacakan surat wasiat di depan saya juga terekam jelas, dan kebetulan memang surat itu dititipkan lewat saya untuk disampaikan kepada kaum muslimin.

Saya salut dengan teman-teman Metro yang berhasil masuk Lapas dan lolos dari pemeriksaan ketat aparat keamanan, baik ketika masih Dermaga Wijayapura maupun ketika masuk ruang Lapas Batu. Padahal saya sendiri telah berupaya semaksimal mungkin menyelundupkan kamera atau alat perekam, tetap saja tidak berhasil.

Ternyata itulah jawaban atas ‘kesantaian’ seorang Desi di Wijayapura, karena memang ia telah punya ‘orang’ di dalam Lapas. Walau ia menyiarkan Live di dermaga, tetap saja Metro menayangkan “Desi laporan langsung dari Lapas Nusakambangan”. 

Padahal Wijayapura beda dengan Nusakambangan. Keduanya dipisahkan selat kecil yang menghubungkan kedua tempat tersebut. Letak Lapas sendiri masih jauh dari pintu masuk Nusakambangan, yaitu Dermaga Nusakambangan.

Begitu kapal ferry Pengayoman II berlabuh di Dermaga Nusakambangan, kami tidak serta-merta melanjutkan perjalanan ke Lapas, karena masih menunggu keluarga lain yang belum terangkut. Maklum, kapal kecil itu tak mampu memuat semua penjenguk yang berkendara dalam sembilan mobil. 

Waktu menunggu ini digunakan istirahat oleh anggota TPM maupun keluarga yang telah menyeberang. Ada yang merekam area dermaga dengan handycam, ada juga anggota keluarga yang berfoto di sekitar pulau penjara yang konon paling seram se-Indonesia itu.

Di kawasan dermaga kecil ini memang masih diizinkan membawa dan menggunakan kamera atau handycam. Hanya terdapat sebuah pos pemeriksaan kecil di bibir dermaga dan beberapa warung penjual aneka makanan dan minuman yang terletak beberapa meter di belakangnya. 

Sebuah tugu ‘proklamasi’ setinggi kurang-lebih sepuluh meter bertuliskan Nusakambangan tegak menjulang di depan perbukitan yang mengitari pulau. Tugu ini menjadi tempat favorit para pembesuk untuk melakukan foto bersama atau merekam diri lewat handycam.

Tak sampai dua puluh menit, rombongan kedua yang dijemput kembali oleh Pengayoman II pun tiba. Tanpa perlu menunggu lama, ketika semua rombongan telah lengkap, iring-iringan mobil lantas berarak menuju Lapas yang berjarak sekitar tujuh kilometer dari Dermaga Nusakambangan. Laju kendaraan dengan kecepatan sedang membelah aspal mulus di siang menjelang Zuhur itu. 

Baru beberapa putaran roda mobil berjalan, rombongan dicegat dua polisi yang berjaga di sebuah pos kecil di pinggir jalan. Mereka meminta salah seorang perwakilan pembesuk turun dan meminta daftar nama seluruh anggota rombongan. Hati saya sempat deg-degan, walau berhasil lolos pemeriksaan di pintu Wijayapura, saya agak ragu dapat lolos dalam pemeriksaan polisi kali ini.

Tak mau berpusing-pusing, Koordinator TPM Achmad Michdan segera turun mobil dan melakukan negosiasi dengan petugas tersebut. Namun mereka tetap ngotot meminta daftar rombongan.

Michdan pun memanggil salah seorang anak buahnya yang memang membawa daftar itu dan menyerahkannya. Setelah melihat-lihat ke dalam tiap mobil, Pak Polisi itu pun mengizinkan kami melanjutkan perjalanan. Alhamdulillah, kali ini lolos lagi.

Gerbang Wijayapura merupakan tempat masuk yang cukup ketat. Selain memeriksa daftar nama para pembesuk, petugas Lapas juga menatap tajam ke setiap anggota rombongan.

Kebetulan nama saya yang tercetak dalam daftar itu memang bukan dalam cetakan resmi yang disetujui Kejagung, namun berupa coretan biasa saja. Saya menggantikan salah seorang keluarga Imam Samudera yang tak turut serta karena sakit. Namanya dicoret diganti nama saya.

Begitu tiba di depan bangunan Lapas Batu, beberapa petugas menyambut rombongan. Sebuah papan berwarna putih bertuliskan “Departemen Hukum dan HAM RI Kantor Wilayah Jawa Tengah Lembaga Pemasyarakatan Klas I Batu Nusakambangan No. Telp/Fax (0282) 542XXX” yang berdiri kokoh di sebelah kiri pintu masuk, seolah-olah turut serta menyambut pengunjung. 

Tampak pula beberapa orang yang mirip intel berada di lokasi. Bahkan salah seorang bertampang intel itu dengan leluasa merekam segala gerak-gerik pembesuk yang baru turun dari kendaraan maupun ketika berada dalam ruang depan Lapas. Rekaman orang inilah yang sebagian muncul dalam liputan langsung dan eksklusif Desi Fitriani dari Lapas Batu.

Ketika saya menanyakan salah seorang anggota TPM, siapa orang yang merekam dengan kamera mirip wartawan itu? Ia menjawab, orang itu adalah intel Densus 88. Dari mana ia tahu? Jawabnya, sudah berulang kali dia menemui yang bersangkutan setiap datang ke Lapas Batu. 

Dan kebetulan, kata anggota TPM ini, komandan yang bersangkutan kenal juga dengan Achmad Michdan. Oh, jadi begitu ceritanya. Michdan juga tak menampik status orang itu. “Yang penting ia tidak boleh merekam pertemuan dengan Amrozi nanti,” ujarnya. 

Namun, tetap saja rekaman pertemuan keluarga itu lolos dan disiarkan Metro TV. Makanya, saya salut atas keberhasilan mereka menembus rintangan yang demikian ketat, hanya demi sebuah gambar bergerak. (bersambung)

 

Posted in

One response to “Suatu Siang Bersama Teroris (1)”

  1. […] “Insya Allah, ana tunggu email antum,” kata saya lalu beranjak keluar ruangan. Mengikuti para pembesuk yang keluar teratur menuju dunia bebas, dunia tanpa jeruji.* […]

    Like

Leave a comment