Suatu Siang Bersama Teroris (2)

Begitu masuk ke dalam bangunan Lapas, petugas melakukan absensi. Setiap orang yang dipanggil harus menghadap untuk dilakukan pemeriksaan.

Kali ini rasa deg-degan kembali menggerayangi. Saya hanya berdoa berulang-ulang, “Ya Allah mudahkanlah. Jangan Kau persulit.” 

Setelah turun anak tangga dan melewati pintu jeruji besi, si petugas dengan seksama menatap raut wajah saya, mencocokkan dengan daftar nama yang dibawanya. Setelah yakin bahwa nama saya tercantum, walau hanya berupa coretan, saya diizinkan masuk. 

Begitu lega rasanya di dada. Namun ternyata, pemeriksaan itu bukanlah yang terakhir. Setelah memasuki sebuah pintu besi yang merupakan pintu utama ruang Lapas, pemeriksaan kembali terjadi.

Di sini, semua yang berbau metal, alat komunikasi, kamera, maupun handycam harus dititipkan. Setelah menyerahkan semua itu ke petugas, setiap orang diperiksa kembali dengan metal detector, dan pemeriksaan badan. Setelah lolos scanning, barulah yang bersangkutan diizinkan masuk. 

Alhamdulillah, pemeriksaan terakhir ini juga saya lolos. Saya pun bergabung dengan para pembesuk lain yang sebagian telah menunggu di ruangan berukuran sekitar 5 x 7 meter. Sebagian ruangan ini ditutupi tembok kaca yang tembus pandang. Dua buah tiang penyangga berdiri kokoh di tengah-tengah. 

Sebuah kipas angin putar ukuran sedang bertengger pada tiang kedua dari pintu masuk. Di ruangan inilah para pembesuk menunggu dengan sabar kedatangan keluarga tercinta mereka, yang sebentar lagi dijemput ajal.

Suhu udara di terik hari itu terasa kian panas dalam ruang yang disesaki enam puluhan orang lebih. Kipas angin yang terus berputar pelan tak mampu meredam sumuk yang dirasakan pembesuk. Dari dinding kaca tembus pandang yang terletak di sebelah kiri, tampak lapangan sepak bola berukuran mini. 

Di belakang dan samping lapangan terdapat bangunan yang mirip rumah-rumah petak yang dikontrakkan pemiliknya. Konon cerita, di dalam kamar-kamar petak itulah para terpidana menikmati sisa hidupnya, dalam kesendirian dan keterasingan. 

Suasana siang itu tampak sepi. Tak seorang pun Napi yang terlihat lewat atau berjalan. Penasaran rasanya ingin melihat seperti apakah manusia-manusia ‘buas’ yang dikurung di kawasan penjara yang telah ada sejak zaman Belanda ini?

Hampir sepuluh menit menatap kehampaan, akhirnya lewat dua orang Napi. Sayang, gambaran kedua orang itu tak seperti bayangan saya tentang Napi Nusakambangan; besar, berotot, brewokan dan sangar. 

Salah satu orang itu kurus tinggi dengan kumis tipis di bibirnya. Satunya lagi, pendek, kecil dan terlihat culun—sama seperti saya mungkin, yang kecil dan pendek. Sempat ragu juga, apakah benar mereka Napi kelas berat hingga harus di-Nusakambangan-kan. 

Namun tak jadi soal, toh mereka tetap saja Napi, peduli amat dengan postur dan bentuk tubuh. Sayang, sekian lama menanti dan penasaran melihat Napi Nusakambangan, yang nongol dua orang itu. Sementara, yang ‘tiga serangkai’ belum juga muncul.

Saya bergabung dengan pembesuk lain, duduk dan ngobrol ngalor-ngidur, ngabuburit waktu menunggu. Kurang lebih dua puluh menit kemudian, ‘tiga bintang’ itu pun hadir. Ali Ghufron alias Mukhlas menjadi orang pertama yang masuk ruang besuk, disusul Amrozi dan Imam Samudera. Para pengunjung pun serentak berdiri, menyalami dan memeluk mereka satu persatu secara bergantian. 

Giliran salaman dengan saya, Mukhlas sempat kaget, maklum wajah baru dalam rombongan. Saya bilang, saya Chairul dari satu media Islam. Ia tampak kaget, namun saya katakan sambil berbisik bagaimana saya masuk dan untuk apa saya datang berkunjung. Ia pun tersenyum penuh arti, “Nanti kita ngobrol banyak.” 

Ekspresi yang sama juga muncul pada Amrozi dan Imam Samudera ketika kami bersalaman. Tak lupa pula, kata-kata yang sama saya ucapkan pada mereka, dan mendapat sambutan yang sama pula. Wah, benar-benar pertemuan yang mengesankan.

Setelah bersalaman dengan seluruh anggota rombongan yang berjumlah sekitar 64 orang, ketiganya kemudian asyik-masyuk dengan keluarga masing-masing. Amrozi bercengkerama dengan ibunya (Tariyem), kedua istrinya; Khoiriyana dan Ria Rahmawati serta anak-anaknya. 

Imam Samudera juga demikian, ia bermesraan dengan anggota keluarganya, ibunya Embay Badriah, istrinya Zakiah Darajad, adiknya Lulu Jamaludin serta keempat anaknya. Mukhlas hanya bersalaman dan sungkem sebentar dengan Tariyem lalu berbaur dengan pengunjung lain. Maklum, bininya lagi di Negeri Jiran, Malaysia.

Setelah itu Mukhlas menghampiri saya dan beberapa saudaranya yang lain. Ia pun bercerita tentang kehidupannya di penjara. Tentang mimpi-mimpinya, tentang kesiapannya menghadapi eksekusi kapan saja itu terjadi, karena itu baginya adalah takdir Allah SWT. 

Di sela-sela waktu berbincang itu, saya mencuri waktu Mukhlas sebentar, mengajukan sebuah pertanyaan yang selama ini mengganjal di hati, benarkah ia dan kawan-kawannya yang melakukan pengeboman di Kuta Bali? Mukhlas menjawab benar, namun efeknya tidak pernah mereka bayangkan bisa sedahsyat itu.

Pengeboman itu mereka lakukan sebagai bentuk pembalasan atas tindakan negara-negara thagut macam AS dan sekutu-sekutunya terhadap kaum muslimin di Afghanistan dan negeri-negeri Muslim lainnya. Aksi itu adalah bentuk jihad dan pembelaan mereka terhadap Muslim yang teraniaya. 

Pertanyaan yang sama saya ajukan pada Amrozi dan Imam Samudera, dan mereka menjawab dengan jawaban yang sama. Efek ledakan bom—yang berupa bahan-bahan mercon—itu tidak pernah mereka bayangkan akan memakan korban jiwa dan bangunan sebanyak dan separah itu. 

Mereka memang sempat ‘bersyukur’ atas keberhasilan bom yang sangat dahsyat tersebut. Tak heran jika mereka mengaku karena memang benar demikian. Dan mereka pun siap menerima segala konsekuensi hukum atas tindak pidana itu.

Bertahun-tahun lamanya ketiga sekawan ini ‘mensyukuri’ hasil bom yang mereka racik, dan menganggapnya sebuah ‘keberhasilan’ yang gemilang. Hingga datang suatu masa, ketika keyakinan itu mulai goyah. 

Masukan dari beberapa pakar dan ahli bom, yang disampaikan melalui TPM, maupun dari sumber lain, mengusik keyakinan mereka yang terpendam lama. Bahwa bom yang mereka gunakan itu tidak akan mampu meledakkan Legian sedemikian parahnya, hanya dari bahan-bahan kimia yang sebagian besarnya adalah bahan baku petasan.

Oleh karena itu, TPM selaku kuasa hukum mereka telah berulang kali melakukan upaya agar pemerintah mau melakukan rekonstruksi dengan racikan bom yang mereka gunakan, namun tak pernah mendapat tanggapan. 

Hal ini untuk membandingkan, benarkah bom yang mereka buat itu, ataukah ada bom lain yang juga turut meledak? Sayang, upaya rekonstruksi ini ibarat menggantang asap. Pemerintah tak pernah mengizinkan. (bersambung)

 

Posted in

One response to “Suatu Siang Bersama Teroris (2)”

  1. […] Namun, tetap saja rekaman pertemuan keluarga itu lolos dan disiarkan Metro TV. Makanya, saya salut atas keberhasilan mereka menembus rintangan yang demikian ketat, hanya demi sebuah gambar bergerak. (bersambung) […]

    Like

Leave a reply to Suatu Siang Bersama Teroris (1) – Catatan Silang Cancel reply