Petugas keamanan Lapas juga tampak begitu hormat kepada Amrozi. Bahkan kepala keamanan Lapas Batu, EW, tampak takzim mendengarkannya tausiah.
Di depan saya, dengan entengnya Amrozi menepuk-nepuk pundak EW dan menasihatinya, “Mau Ramadhan, perbanyak shalatmu, ibadah ditingkatkan lagi!”
Ajaibnya, si EW manggut-manggut dan berujar, “Iya Ustadz, iya Ustadz, terima kasih atas nasehatnya.”
Kepada saya dan yang lain EW berkata, “Tausiah beliau selalu saya dengarkan dan lakukan.” Kami semua pun manggut-manggut saja.
Suatu ketika pada persidangan kedua kasus bom Bali I, Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri Denpasar, I Made Karna SH, pernah ‘disemprit’ Amrozi. Ketika maju ke meja hakim untuk menandatangani berkas perkara, Amrozi berkata kepada Made Karna, “Lihat nanti, kamu yang mati duluan ketimbang saya!”
Akhirnya, si hakim yang memvonis mati Amrozi dkk, memang mati terlebih dahulu ketimbang yang divonis. Ia meninggal dunia hari Minggu pukul 19:00 tanggal 28 Oktober 2007 di Denpasar, Bali. “Kematian hakim itu (Made Karna) adalah takdir Allah SWT, bukan karena kesaktian saya,” kata Amrozi sambil memamerkan senyum khasnya.
Begitu pula dengan Jaksa Urip Tri Gunawan yang menjebloskan Amrozi cs ke penjara. Amrozi pernah mendoakan Urip ketika disidang dulu, “Kamu juga akan masuk penjara dan dihinakan.” Dan ternyata si Urip akhirnya masuk penjara juga, karena kasus suap-menyuap.
Kata-kata Amrozi yang ‘manjur’ inilah yang juga membuat sebagian petugas dan sipir Lapas Batu segan dan hormat. Padahal pria dua istri itu bergaul biasa-biasa saja dengan mereka. Konon—tapi ini belum bisa diverifikasi—hal ini juga yang memengaruhi rencana eksekusi sehingga terus-menerus ditunda dan ditunda. Para pejabat terkait takut kualat.
Bertemu dengan Amrozi akan membawa kita dalam suasana yang selalu santai, gayeng, gaul, akrab dan menyenangkan. Ia termasuk pria murah senyum dan humoris. Beda dengan kakaknya, Mukhlas, yang selalu serius dan Imam Samudera yang lebih serius dan ‘galak’.
Pertemuan dengan Imam Samudera lebih mengesankan lagi. Dengan sorot matanya yang tajam, seolah-olah menembus jantung orang di yang dilihatnya, mantan mujahidin Afghanistan ini banyak berbicara tentang jihad.
“Akhi (saudaraku) jika ana (saya) jadi antum (engkau), maka ana sudah tidak berada di sini (Indonesia) lagi. Ana akan pergi ke Afghan, Irak, Kashmir, Moro, Patani, Chechnya, Sudan dan bumi jihad lainnya. Antum masih muda ya akhi, masih banyak jalan menggapai jihad dan syahid,” katanya dengan suara tegas, bergetar sambil menepuk-nepuk paha kanan saya.
Ia terus saja bertausiah tentang keutamaan jihad, apalagi menjelang bulan Ramadhan. “Syahid adalah cita-cita tertinggi setiap mukmin sejati, dan itu hanya dapat dicapai dengan jihad di medan perang!”
Jujur saja, kata-kata Imam ini begitu terasa di hati. Membekas dan menjelma menjadi kekuatan yang memberontak untuk segera mendapatkan pelampiasan. Semangat jihad saya sontak muncul dan seolah-olah diri telah siap berperang di medan laga.
Imam sangat ahli dalam memberikan tausiah (baca: doktrin) terhadap orang lain. Kepiawaiannya merangkai kata disertai mimik, gesture dan sorot mata yang tajam, seolah mampu membuat lawan bicaranya bertekuk lutut.
Sebagaimana Mukhlas, Imam juga menyinggung pemberitaan media tentang eksekusi yang mereka minta hendaknya dilakukan dengan cara pancung atau gantung. “Ana dan ikhwan-ikhwan (saudara) tidak pernah berkata, ngomong, bicara atau meminta kami dipancung atau disuntik mati. Bagaimana kami mau menuruti hukum yang bukan hukum Allah?”
Munculnya wacana pancung-memancung ini, kata Imam, adalah ketika seseorang menanyakan pada dirinya bagaimana Islam mengatur tentang vonis hukum pidana. Maka ia menjawab, yang paling sahih adalah dengan hukum gantung atau pancung.
“Itulah yang dijadikan dasar oleh mereka bahwa kami meminta dipancung atau digantung. Kami tidak pernah meminta eksekusi. Walau demikian kami juga tidak takut mati. Kami siap dieksekusi kapan saja dan di mana saja,” tandasnya.
Imam kemudian membacakan sebuah surat yang ditujukan kepada kaum muslimin untuk dimuat di sebuah media Islam. Di sela-sela pembacaan surat itu, seorang petugas sipir mengumumkan bahwa waktu berkunjung telah usai. Para pengunjung hendaknya bersiap-siap kembali ke rumah masing-masing, dan para terpidana tentu saja harus kembali ke sel mereka.
Begitu bersalaman terakhir kali dengan Imam Samudera, ia menanyakan alamat surel saya. Katanya, dia mau mengirim email. Tentu saja saya kaget, bagaimana ia bisa mengirim email lewat jeruji besi angker seperti Nusakambangan ini? Ia hanya tersenyum, “Allah pasti akan memberikan jalan jika kita bersungguh-sungguh menjalin silaturahim, apalagi demi kebaikan,” ujarnya.
“Insya Allah, ana tunggu email antum,” kata saya lalu beranjak keluar ruangan. Mengikuti para pembesuk yang keluar teratur menuju dunia bebas, dunia tanpa jeruji.*

Leave a reply to Suatu Siang Bersama Teroris (3) – Catatan Silang Cancel reply