Perlawanan Rakyat Patani

Hampir seratus tahun lamanya Kesultanan Patani dianeksasi Kerajaan Siam (Thailand) sejak 1909 silam. Sejak itu pula perlawanan rakyat tak pernah henti dalam menuntut kemerdekaan.

Ustadz alumni Universitas Al-Azhar, Kairo itu baru saja tiba di rumahnya, di suatu sore sepekan menjelang Ramadhan 1429H. Tak berselang lama pintu rumahnya yang terletak di wilayah Bacho, Narathiwat, Thailand Selatan digedor orang dengan keras.

Tanpa syak wasangka pria kalem itu membuka pintu untuk mempersilakan tamunya masuk. Dor! Dor! Dor! Dor! Empat tembakan dari empat orang lelaki segera menyambutnya. Tak ayal, tubuh ustadz muda itu langsung jatuh ke lantai begitu empat butir peluru bersarang di tubuhnya.

Sang istri seketika berteriak histeris begitu mendengar suara tembakan dan melihat suaminya rebah berlumuran darah. Saat itu juga, sang ustadz (sebut saja Karim) menghembuskan nafas terakhirnya. Usai membunuh, keempat lelaki tersebut dengan santai meninggalkan rumah korban. Tetangga  sekitar bergegas menutup pintu rumah masing-masing begitu terdengar suara tembakan. Seolah sudah mafhum apa yang terjadi, tiada satupun yang berani mendekat hingga sang “algojo” pergi.

Ketika saya mencoba mencari informasi dari istri dan keluarga korban, semuanya bungkam, enggan bersuara. Demikian pula dengan para tetangga sebelah rumah. “Sudahlah, Bapak. Jangan nanti kami yang jadi korban selanjutnya. Cukup sudah apa yang dialami saudara kami itu,” ujar salah seorang tetangga Karim yang enggan disebutkan namanya.

“Kami di sini sudah cukup tertekan dan takut dengan kondisi saat ini, jangan sampai ada korban lagi,” lanjut lelaki yang juga berprofesi sebagai ustadz ini dalam Melayu yang cukup dimengerti.

Karim adalah salah satu di antara seratus ustadz, imam maupun guru yang menjadi korban penembakan, penculikan dan pembunuhan dalam kurun empat tahun terakhir. Suasana di lima provinsi di Thailand Selatan; Patani, Yala, Narathiwat, Setun dan Songkhla hingga kini masih mencekam. Status Daerah Operasi Militer (DOM) diberlakukan Kerajaan Thailand, terutama usai tragedi Tak Bai tahun 2004 silam.

Penduduk kelima wilayah ini mayoritas Bangsa Melayu dan beragama Islam, bahkan teguh memegang prinsip keislaman di tengah dominasi dan tekanan Bangsa Siam yang beragama Buddha. Mereka berbicara dalam Bahasa Melayu, tak jauh beda dengan Melayu Malaysia. Secara etnik dan kultur pun, mereka lebih dekat kepada Malaysia ketimbang dengan Siam.

Di setiap jalan, sudut-sudut kampung dan bandar (kota), maupun di wilayah-wilayah strategis seperti sekolah dan gedung-gedung pemerintahan, askar (tentara) Kerajaan Thailand melakukan patroli dan berjaga-jaga. Pemandangan dengan dominasi militer ini tak jauh beda dengan apa yang terjadi di Aceh, ketika masih berstatus DOM pada era Orde Baru (Orba) dulu.

Ledakan bom, suara tembakan, pembunuhan dan penculikan merupakan menu sehari-hari yang “dinikmati” warga. Tiap hari, dua hingga tiga orang Muslim tewas terbunuh di wilayah yang berbatasan dengan Negara Malaysia tersebut.

Kondisi inilah yang menyebabkan warga gerun (takut) dan merasa tertekan. Hingga, untuk berbicara saja mereka enggan. Beberapa orang yang mau diwawancarai meminta agar nama mereka tidak disebutkan atau disamarkan.

“Mohon pengertian Bapak,” ujar salah seorang pejabat pemerintah di Provinsi Yala. “Kami tak berani cakap (berbicara) macam-macam, takut karena kondisi sedang teruk (buruk).”

Tuan Guru Haji Ismail Hari, Kadi Syar’i Majelis Agama Islam Wilayah Yala, mengaku bisa memahami ketakutan warganya, karena situasinya memang demikian. “Umat Islam dan warga takut terhadap pemerintah. Situasinya mirip Aceh di Indonesia. Kebetulan saya juga pernah ke Aceh,” kata Ismail. “Tak kurang dari 30.000 tentara ditempatkan di seluruh Thailand Selatan ini.”

Ismail mengatakan, tak tahu siapa pelaku penembakan, penculikan, maupun pembunuhan terhadap para imam ataupun ustadz tersebut, hingga menyebabkan militer Thailand melakukan operasi besar-besaran di seluruh bekas Kesultanan Patani tersebut.

“Orang-orang hanya menuduh para pemberontak sebagai pelakunya. Siapa orangnya kita tidak tahu, tidak kenal. Tapi yang keluar beritanya adalah para pemberontak. Tidak ada yang tahu tentang masalah ini. Kalau kita tanya kerajaan, mereka jawab tidak tahu. Kita tanya warga, juga mereka tidak tahu,” jelasnya.

Menurut Ismail, kejadian seperti ini sudah terjadi ratusan tahun lamanya di wilayah selatan Thailand, tapi menemukan puncaknya sejak lima tahun terakhir.

Hakim (bukan nama sebenarnya), salah seorang pejabat pemerintah di Yala mengatakan, Ustadz-ustadz maupun imam-imam yang dibunuh adalah orang-orang yang dicurigai sebagai mata-mata kerajaan. “Mereka dianggap penghianat oleh kelompok pejuang.”

Pernyataan Hakim ini ditolak mentah-mentah oleh Rusdi Tayek, Timbalan Yang Dipertua (Wakil Ketua) Majelis Agama Islam Wilayah Patani. “Para pejuang Patani tidak akan menyerang dan membunuh sesama Muslim. Tidak benar tudingan pemerintah selama ini yang menyatakan pelaku pembunuhan para ustadz adalah gerilyawan. Para pejuang tidak akan membunuh ustadz, guru atau imam-imam,” kata Rusdi.

Menurut Rusdi, para pejuang tidak melakukan penembakan secara brutal dan membabi- buta. Kalau menyerang, targetnya pasti askar dan orang-orang tertentu yang dianggap penghianat, bukan para ustadz. “Jika ingin membunuh satu orang, maka yang ditarget saja yang dibunuh yang lain tidak. Penculikan dan pembunuhan ustad atau guru itu dilakukan oleh pemerintah,” tandasnya.

Selain ustadz dan imam masjid, penduduk sipil pun juga turut menjadi korban dalam konflik berkepanjangan ini. Berdasarkan data yang diperoleh dari pejabat pemerintah di Yala dan Narathiwat, mulai 1-31 Agustus 2008 saja telah terjadi 88 kasus pembunuhan, penculikan maupun penembakan. Korban meninggal dunia mencapai 45 orang, luka-luka 136 orang. Kasus terbanyak terjadi di Patani dengan 33 kasus, disusul Narathiwat 27 kasus, Yala 21 kasus dan Songkhla 7 kasus.

Jika dihitung sejak 4 Januari 2004 (karena mulai tahun ini suasana kian memanas) hingga 31 Agustus 2008, telah terjadi 6.942 kasus. Terbanyak di Narathiwat dengan 2.427 kasus, disusul Patani 1.968 kasus, Yala 1.533 kasus dan Songkhla 339 kasus. Korbannya mencapai 4.346 orang, meninggal dunia 1.773 orang dan luka-luka 2.573 orang. Itu baru data resmi versi pemerintah.

Jika merunut data tak resmi yang dihimpun warga dan kelompok pejuang HAM (Hak Azasi Manusia) maupun LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), lebih dari 3.000 orang Muslim yang tewas sejak 2004 lalu. Belum lagi ratusan orang yang hilang tak tentu rimbanya. Data ini diperoleh dari hasil rata-rata korban yang mencapai dua hingga tiga orang per hari dari seluruh wilayah Thailand Selatan.

Perlawanan

Warga Patani dan sekitarnya yang gerah dengan keberadaan militer Thailand akhirnya melakukan perlawanan dengan cara gerilya. Apalagi sejak ratusan tahun lamanya Patani dikuasai dan dikebiri oleh pemerintah Kerajaan Buddha tersebut.

“Orang Siam ini, kalau sudah menjadi pejabat di tiga wilayah, mereka membawa orang-orang Siam dari utara untuk bekerja menjadi pegawai kerajaan. Sementara orang-orang Muslim di sini tidak ada yang menjadi pegawai kerajaan. Inilah yang menjadi puncak kemarahan warga. Tidak ada pejabat dari penduduk asli, semuanya Siam. Padahal 90 persen warga tiga wilayah ini adalah Melayu-Muslim,” kata Ismail Hari.

Fuad, salah seorang warga Yala dengan tegas menyebut telah terjadi siamisasi di negerinya. “Bagaimana tidak, sejak ratusan tahun kami dipaksa mengikuti budaya Siam. Harus bicara bahasa Siam, harus mengikuti ritual-ritual agama berbau Siam, harus mengganti nama menjadi nama Siam. Padahal kami adalah Bangsa Melayu yang beragama Islam,” ketusnya.

“Seharusnya orang Siam yang mengikuti kultur Melayu, karena mereka minoritas di wilayah selatan ini,” tandas guru sekolah menengah di Yala ini.

Senada dengan Fuad, Yakub seorang pegawai swasta di Narathiwat, menegaskan bahwa bangsanya telah dijajah Siam sejak 1902. “Begitu Kesultanan Patani masuk wilayah Siam, nama kerajaan pun berubah menjadi Thailand. Jangan salahkan rakyat melakukan perlawanan, karena kami melawan penjajah,” kata Yakub.

Warga dan para pejuang yang tak puas dengan pemerintah tak segan-segan mengangkat senjata dan melakukan serangan-serangan sporadis. Para pejuang Patani ini ingin mengembalikan wilayah selatan ke pangkuan Melayu.

Tiap hari dan malam, terdengar letusan senjata dan ledakan bom. Tiap hari ada saja tentara yang menjadi korban, namun tidak dipublikasikan oleh pemerintah. Tahun ini saja, tiga pesawat tempur militer Thailand berhasil dirontokkan para gerilyawan.*

Posted in

2 responses to “Perlawanan Rakyat Patani”

  1. […] Orang-orang Melayu-Patani hanya ingin mengembalikan sejarah masa lalunya yang ‘hilang’, agar negeri Islam itu kembali mewarnai khazanah dan peradaban dunia.* […]

    Like

  2. […] tetaplah seorang Muslim, walau berbicara bahasa Siam. Sebagaimana orang Arab tetap Islam dengan Bahasa Arab-nya,” ujarnya […]

    Like

Leave a reply to Thailand Selatan yang Membara (4-habis) | Catatan Silang Cancel reply