Dalam perjuangan melawan militer Thailand, pejuang Patani menerapkan taktik gerilya. Salah satu panduannya adalah strategi gerilya yang pernah diterapkan di Indonesia.
Terdapat beberapa elemen perjuangan rakyat Patani yang melakukan perlawanan terhadap pemerintah Thailand. Di antaranya Patani United Liberation Organisation (PULO), Gerakan Mujahidin Islam Patani (GMIP), Gerakan Islam Patani (GIP), Barisan Nasional Pembebasan Patani (BNPP) dan Barisan Revolusi Nasional (BRN). BRN sendiri bertambah menjadi BRN Congress dan BRN Coordinate.
Meskipun semuanya menuntut kemerdekaan, tetapi masing-masing memiliki karakter dan identitas tersendiri. Pernah ada upaya untuk menyatukan semua gerakan perlawanan ini dalam satu atap, dengan menggunakan istilah Bersatu, namun tak efektif. Ketidakefektifan ini terjadi karena sejak awal didirikan ideologi mereka berbeda. Akhirnya mereka berjuang dengan cara masing-masing karena tidak mungkin disatukan dalam satu wadah.
Muhammad Abdur Rahman Abdus Samad, mantan Ketua Majelis Agama Islam Narathiwat yang juga tokoh masyarakat di Patani, termasuk salah seorang ulama yang menyayangkan ketidakbersatuan gerakan-gerakan perjuangan ini.
“Kalau semua unsur pejuang Patani ini bersatu, merupakan hal yang sangat bagus sekali. Perjuangan akan menjadi mudah, tidak terlalu berat. Tapi memang susah untuk bersatu dan menjadi satu ideologi,” ujarnya.
Pada tahun 2006, beberapa kelompok perlawanan menandatangani perjanjian nota rekonsiliasi Joint Peace and Development Plan for South Thailand (Perdamaian Bersama dan Rencana Pembangunan Thailand Selatan). Di antara mereka adalah PULO, BRN Congress, GMIP dan Barisan Pembebasan Islam Patani (BPIP). Namun tidak menghasilkan hal-hal yang kongkrit demi terciptanya perdamaian.
Akhirnya, gerakan-gerakan perjuangan mengangkat senjata dan melakukan perlawanan. Hingga kini yang termasuk aktif melakukan serangan adalah BRN dan PULO, namun kedua kelompok tak pernah mau mengaku. Gerilya yang mereka terapkan dilakukan secara underground dan diam-diam.
Inilah yang membuat sebagian besar warga Patani bingung. Ada serangan terhadap militer Thailand, namun tidak ada pihak yang bertanggung jawab. Semua anggota perjuangan tutup mulut. Kondisi ini tentu saja kian memperuncing keadaan, karena dengan demikian, militer Thailand dapat melakukan serangan-serangan agresif dan pembunuhan semaunya.
Mumpung trennya begitu, tak ada pihak yang mengaku, otomatis sasaran tudingan akan mengarah kepada kelompok-kelompok perlawanan. Ibaratnya, militer kerajaan dapat memancing di air keruh, di tengah ketidakpastian situasi yang mendera. Hal ini sebenarnya disayangkan oleh sejumlah ulama dan tokoh masyarakat Islam di wilayah selatan, karena yang kerap menjadi korban adalah warga sipil tak berdosa.
Seorang pejabat pemerintah di Provinsi Yala yang enggan disebutkan namanya mengatakan, terdapat banyak kelompok perlawanan di selatan Thailand, namun tidak ada yang mengaku sebagai pelaku serangan.
“Di sini beda dengan negara-negara lain, di mana pelaku penyerangan atau pemboman biasanya mengaku dan menyebutkan diri. Di sini tak ada yang mengaku, padahal jelas-jelas mereka yang melakukan serangan terhadap askar (tentara) kerajaan,” katanya.
Berdasarkan informasi yang beredar secara terbatas, yang termasuk getol beraksi adalah kelompok BRN. Mereka pula yang kerap merepotkan tentara kerajaan dengan aksi-aksi “siluman”, menyerang secara hit and run.
Pasukan kerajaan sendiri bingung bukan kepalang. Mereka mengibaratkan diri melawan hantu yang tak tampak, namun terasa benar efek serangannya. Telah banyak korban dari pihak tentara akibat serangan bom maupun tembakan sniper (penembak jitu). Namun pemerintah Thailand tak pernah mempublikasikannya.
‘Warisan’ negeri seberang
Taktik gerilya para pejuang BRN terkenal cermat, penuh perhitungan, terorganisir rapi dan matang. Tentara Kerajaan Thailand jarang sekali berhasil menangkap para pelaku. Ketika melakukan serangan, para gerilyawan selalu memperhitungkan kapan patroli kerajaan lewat di suatu wilayah, lalu melepaskan tembakan atau melempar bom dan melarikan diri.
Senjata kemudian diletakkan di suatu tempat yang telah ditentukan lantas diambil oleh pejuang lain untuk disembunyikan. Pelaku tembakan segera bersembunyi ke arah lain, kenudian muncul laskar berbeda berpakaian sipil mendatangi tempat serangan semula untuk mengelabui militer Thailand.
Ketika tentara mengejar pelaku serangan, yang mereka dapatkan adalah pejuang berpakaian sipil yang lain. Tentu saja militer kerajaan ini tidak mendapatkan apa-apa ketika melakukan pemeriksaan.
Mereka juga tidak berhasil mengejar pejuang yang melakukan serangan karena telah menghilang. Tak heran jika sebenarnya tentara kerajaan menderita stres dan paranoid karena berperang dengan musuh yang tak tampak.
Yang lebih mengagumkan, ternyata taktik dan siasat perjuangan gerilyawan Patani didapatkan dari Indonesia. “Kami belajar taktik gerilya dari buku bapak Abdul Haris, seorang jenderal Indonesia yang ternama,” ujar salah seorang pejuang BRN yang enggan disebutkan namanya. Maksudnya adalah Jenderal AH Nasution, ahli perang gerilya dan penulis buku fenomenal, Strategy of Guerrilla Warfare.
Kelompok terkecil milisi terdiri dari lima orang yang disebut arkeke. Salah satunya menjadi ketua kelompok. Tiap komandan arkeke ini hanya kenal dengan komandan arkeke lain, tidak dengan anggotanya. Koordinasi hanya dilakukan lewat ketua saja. Pun, tiap ketua kelompok terkecil ini juga merupakan sebuah kelompok dari kelompok di atasnya. Mereka juga terdiri dari beberapa orang dan dikomandani oleh seorang ketua. Demikian seterusnya hingga puncuk pimpinan.
Dengan sistem sel yang rapi dan terkoordinir ini, membuat gerak dan langkah perjuangan jarang bocor. Bahkan masyarakat pun tak tahu siapa-siapa yang menjadi anggota maupun simpatisan pejuang. Padahal para pejuang ini hidup membaur dengan masyarakat. Mereka adalah warga kota dan kampung-kampung yang bekerja dan mencari nafkah sebagaimana layaknya anggota masyarakat lain.
Ada yang bekerja sebagai petani, nelayan maupun pegawai pemerintah dan swasta. Kadang seorang pejuang tidak mengetahui kalau tetangga sebelah rumahnya adalah pejuang juga, yang terdaftar pada kelompok lain. Demikian pula sebaliknya. (bersambung)

Leave a reply to Suatu Siang Bersama Teroris (4-habis) | Catatan Silang Cancel reply