Dalam struktur BRN terdapat beberapa divisi yang mempunyai tugas dan fungsi masing-masing, di antaranya divisi militer, politik dan ekonomi. Divisi militer tugasnya adalah latihan perang dan melakukan serangan atau gerilya.
Divisi politik bertugas memobilisasi massa, melakukan pemberdayaan dan diplomasi. Sedangkan divisi ekonomi berkonsentrasi dalam hal pencarian dana untuk menunjang gerak dan langkah perjuangan. Pun demikian, tiap anggota antar divisi ini tak mengenal satu sama lain, kecuali di tingkat pimpinan tertentu saja.
Sebagai pasukan gerilya yang bergerak underground, awalnya para pejuang ini bermarkas di hutan-hutan yang terdapat di berbagai wilayah selatan. Namun setelah tentara kerajaan Thailand melakukan serangan besar-besaran dengan menggunakan senjata dan peralatan tempur yang lebih modern, para pejuang akhirnya berpindah-pindah tempat.
Kini mereka tidak hanya bergerilya di bukit-bukit, tapi juga mulai masuk kota dan perkampungan. Melakukan serangan-serangan sporadis, meledakkan bom, menembakkan senapan, lalu menghilang.
Para pejuang ini tak kenal menyerah dan pantang mundur dari medan laga. Targetnya, merdeka atau mati syahid. “Tak ada istilah kalah dalam perjuangan Islam. Kalau menang kita berjaya, kalau mati kita syahid,” kata seorang gerilyawan di Patani.
Pejuang yang pernah berjihad di Afghanistan bersama Imam Samudera ini menyebutkan, terdapat keterkaitan antara pejuang Patani dan mujahidin Indonesia.
Hal ini memang sempat disinggung oleh Imam Samudera ketika bertemu saya di Lapas Batu Nusakambangan beberapa hari menjelang Ramadhan 1429 H lalu. Imam bahkan memberikan beberapa kontak di Patani.
“Mereka adalah mujahidin alumni Afghanistan. Kalau antum (Anda) bertemu mereka, sampaikan salam saya,” pesan Imam. Sayang, karena keterbatasan waktu dan kondisi yang tak memungkinkan kontak-kontak tersebut tak sempat ditemukan.
Namun laskar Islam itu berjanji akan mengantarkan saya bertemu nama-nama yang disebutkan Imam jika berkunjung lagi ke Patani. “Kami belum bisa membawa Anda ke markas sebelum kami yakin betul Anda adalah orang yang diamanahi akhi (saudara) Imam,” kata pemuda yang sehari-hari mencari nafkah dengan menyadap karet ini.
Bertemu dengan para pejuang Patani memang tidak mudah, walau mereka tersebar di tiap kampung dan kota. Selain melalui jalur dan kontak yang rumit, kita harus bisa mendapatkan kepercayaan mereka dan punya penjamin orang lokal. Maksudnya, harus ada tokoh agama atau tokoh masyarakat setempat yang kita kenal dan bisa menjamin bahwa kita adalah orang yang bisa dipercaya.
Walau sebenarnya beberapa orang yang sempat ditemui adalah para pejuang, namun mereka tidak mengaku dan enggan membuka diri. “Mereka memang tidak mudah ditemui, apalagi terhadap orang asing yang baru dikenal,” kata Abdul, warga Patani yang mengaku simpatisan pejuang.
Sayang di tengah menggebunya semangat membebaskan diri dari belenggu penjajahan, masih ada saja sebagian warga Patani yang berkhianat. Mereka rela menjadi mata-mata kerajaan demi lembaran-lembaran baht. Pihak kerajaan memberi mereka uang sebesar 4000-5000 baht untuk mencari informasi tentang gerilyawan.
Kebanyakan mereka adalah orang-orang tak punya, yang memang sengaja dijadikan SB (special brain) atau mata-mata. Selain orang-orang tak mampu, banyak juga para pejabat Muslim yang ikutan-ikutan menjadi SB. Tak heran jika orang-orang seperti ini kerap menjadi sasaran penembakan para gerilyawan.
Berharap dukungan
Kendala yang dialami pejuang Patani saat mengobarkan perlawanan adalah tidak adanya dukungan dari negara-negara Islam lainnya, termasuk Malaysia dan Indonesia. Berbeda dengan GAM (Gerakan Aceh Merdeka) di Indonesia, yang banyak menuai simpati dari luar kala mengangkat senjata dulu.
Para pejuang Patani ini miskin bantuan, baik dalam hal dana maupun persenjataan. Senjata yang mereka pakai kebanyakan hasil rampasan dari militer Thailand. Hal ini sangat disayangkan oleh kaum muslimin di sana.
Menurut Abdur Rahman, hanya ada satu negara yang menyokong perjuangan Muslim-Patani, yaitu Suriah. “Mereka banyak memberikan bantuan dana, perlindungan, suaka politik dan lainnya. Dulu ada Libya dan Iran, namun sekarang sudah hilang. Bahkan Organisasi Konferensi Islam (OKI) pun tak bisa bersuara dalam menyelesaikan masalah Patani ini,” kata tokoh agama yang juga mantan anggota National Reconciliation Commission (NRC) Komisi Rekonsiliasi Nasional.
NRC adalah sebuah komisi yang dibentuk pemerintah Thailand dengan tujuan menyelesaikan konflik namun tanpa hasil. Pemerintah Thailand ditengarai tidak pernah mau melaksanakan butir-butir rekomendasi yang dihasilkan lembaga tersebut.
Tuan Guru Haji Ismail Hari, Kadi Syar’i Majelis Agama Islam Yala, mewakili seluruh kaum muslimin di Patani berharap umat Islam di Indonesia mau memberikan perhatian dan dukungan terhadap permasalahan yang dihadapi umat Islam di Thailand Selatan.
“Karena bagaimanapun, bagi umat Islam di sini, Indonesia itu adalah bapak dan Malaysia itu kakak. Kita di sini tidak ada tempat meminta tolong dan perlindungan. Kalau bukan saudara-saudara di Indonesia dan Malaysia, kepada siapa lagi? Paling tidak, bantulah kami dengan doa,” katanya lirih.*

Leave a comment