Wawancara:
DR KH Syukri Zarkasyi, MA (Pimpinan Pondok Modern Gontor)
Luka akibat krisis yang dialami bangsa ini masih belum sembuh benar. Dan kini diperparah lagi oleh krisis keuangan di Amerika Serikat (AS) yang anehnya, berimbas jua ke negara kita.
Di lain pihak, telah sepuluh tahun lamanya reformasi berjalan, namun kemandirian sebagai sebuah bangsa yang berdaulat dan bermartabat masih jua belum berhasil ditampakkan. Adakah yang salah dengan semua ini? Lantas dari mana harus memulai perubahan?
DR KH Syukri Zarkasyi, MA, salah satu pimpinan Pondok Modern Gontor, yang kental mendidik santri-santrinya dengan semangat kemandirian menyuarakan idenya. Di sela-sela kesibukan menghadiri acara Halal Bihalal dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Jakarta akhir Oktober lalu, Pak Syukri (demikian ia biasa disapa) menerima saya untuk wawancara. Berikut petikan perbincangan dengan Pak Syukri.
Krisis yang dialami bangsa ini masih juga terjadi. Gejolak ekonomi di Amerika Serikat (AS) berimbas juga ke negara kita. Sepertinya kita masih belum bisa mandiri sebagai sebuah bangsa?
Keterpurukan bangsa ini terjadi di segala dimensi kehidupan. Dari mana sebabnya, bagaimana ia terjadi serta solusi apa yang harus dilakukan menjadi hal yang terus diperdebatkan. Tapi menurut saya, yang paling utama adalah membentuk character building, membangun mental, membangun watak. Bagaimana caranya, maka jalurnya lewat pendidikan.
Untuk itulah anggaran pendidikan kita mencapai 20% karena masalahnya di situ. Bagaimana cara membentuk character building agar kita bisa mandiri, bisa bersaing dengan bangsa lain, itu semua dilakukan di dunia pendidikan. Karena pendidikan itu adalah politik tertinggi. Dunia pendidikan itu bagi saya, tentunya di pesantren. Karena di pesantren itu banyak pendidikan watak.
Kalau di luar itu hanya sekedar gelar akademik, demi mendapat ijazah untuk mencari pekerjaan. Ini yang kurang tepat menurut saya. Oleh karena itu, di situasi yang seperti ini, di tengah ketidakpastian kurikulum dunia pendidikan, banyak masyarakat yang akhirnya menyekolahkan anaknya di pesantren atau boarding school.
Kenapa bisa demikian?
Karena lembaga pendidikan itu harus punya jiwa dan filsafat hidup berdasarkan nilai-nilai agama. Supaya dia menjadi seorang pejuang yang memperjuangkan, bisa menjadi orang yang hidup dan menghidupi, bisa menjadi orang yang bergerak dan menggerakkan, menjadi pemimpin dan lain sebagainya. Untuk itu maka diperlukan jiwa-jiwa. Dalam dunia pesantren ada jiwa keikhlasan, semuanya dilakukan karena Allah SWT. Ada jiwa kesederhanaan.
Kesederhanaan bukan berarti melarat, tetapi sesuai dengan kebutuhan dan wajar-wajar saja. Ada jiwa kemandirian, artinya mandiri secara lembaga, secara sistem dan orangnya. Karena dalam dunia pesantren semuanya diurus dan diatur sendiri oleh para santri.
Bahkan di Gontor, koperasi pelajar yang menguntungkan hingga Rp 800 juta itu dikelola oleh santri sendiri. Mereka berusaha sendiri, kulakan barang-barang dan menjualnya kembali, semua dilakukan oleh santri. Walau begitu, mereka tetap harus bayar SPP (Sumbangan Pembangunan dan Pendidikan). Itulah pendidikan kemandirian.
Gurunya juga mandiri. Mereka mengelola unit usaha sendiri untuk dimakan sendiri. Oleh karena itu, guru-guru ada yang menjaga toko, mengurus sawah, mengelola penggilingan padi, mengelola pabrik roti dan lain sebagainya. Ternyata, dengan sistem kemandirian dalam bidang ekonomi ini semua baik-baik saja.
Unit-unit usaha yang ada di Gontor memang banyak dikelola oleh guru. Gurunya mandiri, lembaganya juga mandiri. Bahkan orang-orang yang menjaga toko dan lainnya, bukan hanya sekedar mandiri tapi juga memandirikan lembaganya dan orang lain. Itulah arti kata mandiri memandirikan, bergerak menggerakkan, berjuang memperjuangkan dan hidup menghidupi.
Dalam pendidikan, hal yang seperti ini yang membentuk watak. Kalau dari segi akademis mungkin kurang, tapi anak-anak Gontor Alhamdulillah bisa berjuang di mana saja. Baik di kota besar atau kampung kecil. Dan itulah orang besar. Orang besar menurut Gontor adalah orang yang mau berjuang dengan segala keikhlasannya, meskipun di kampung kecil atau di langgar yang terpencil.
Hubungannya dengan kemandirian bangsa?
Lalu bagaimana dengan keadaan bangsa kita yang seperti ini (masih belum bisa mandiri), segala sesuatu itu menurut pengamatan saya, yang paling bertanggungjawab adalah pimpinannya. Gontor itu ada 14 cabang yang terletak di berbagai tempat dengan beraneka ragam karakter dan budayanya. Namun, tetap saja nilai-nilai Gontor itu sama. Santrinya, guru-gurunya, sistemnya maupun kemandiriannya.
Kenapa bisa demikian, karena yang berperan adalah para pemimpinnya. Masing-masing pemimpin cabang Gontor ini mampu mengaplikasikan nilai-nilai dan jiwa kemandirian Gontor. Oleh karena itu, menurut saya yang paling bertanggungjawab adalah para pemimpin, baik itu pimpinan negara, bangsa, umat, partai politik dan lain sebagainya.
Pemimpin itu harus keras dan tegas dalam menegakkan keadilan, namun bukan berarti kasar. Karena itu adalah warna yang luar biasa. Apa pun manajemennya, yang paling bertanggungjawab adalah pimpinannya. Oleh karena itulah, kita perlu membenahi segala sesuatunya, terutama pimpinannya. Dari sini, insya Allah semuanya akan bisa dilakukan dengan baik. Tentu saja, dibutuhkan keberanian untuk melakukan itu semua. (bersambung)

Leave a reply to Pendidikan adalah Politik Tertinggi (2-habis) – Catatan Silang Cancel reply