Wawancara:
DR KH Syukri Zarkasyi, MA (Pimpinan Pondok Modern Gontor)
Rasulullah telah mengajarkan kemandirian kepada umatnya, namun kita sebagai umat Islam terbesar di dunia masih belum bisa melakukan itu semua?
Kalau pondok pesantren menurut saya, sudah bisa mandiri, tapi bangsa ini belum. Oleh karena itulah, seluruh peradaban apa pun harus berdasarkan nilai-nilai. Komunis tidak berdasarkan nilai-nilai agama dan kemanusiaan, akhirnya hancur ketika belum mencapai satu abad. Amerika baru satu setengah abad juga hancur, karena lama-lama tidak berdasarkan nilai-nilai agama. Oleh sebab itu, dalam membangun bangsa kita harus berdasarkan nilai-nilai dan jiwa filsafat hidup yang jelas.
Pemimpin-pemimpin kita di masa revolusi bisa menyatukan rakyat dan membuat bangsa ini mandiri dan kuat, kenapa sekarang tidak?
Kalau dulu kita mempunyai musuh yang jelas, yaitu Belanda. Dan kita dalam berperang merebut kemerdekaan itu taruhannya nyawa. Sekarang apa yang kita perjuangkan? Ada orang yang terlalu hidup enak, sebagian lagi tidak. Ada orang yang mengaku mandiri, namun tidak jelas. Tidak semua orang kaya itu mandiri, dan tidak semua orang mandiri itu kaya.
Oleh karena itu, para pemimpin kita saat ini perlu bersikap mandiri. Iklim dan kondisi saat ini juga turut menentukan nasib bangsa ini. Di era globalisasi seperti sekarang ini unsur-unsur dan budaya dari luar itu begitu kuat menyerang dan kita sulit membendungnya karena kita tidak kuat. Kita lemah secara ekonomi, sistem, keuangan, politik, kultural, nilai dan lain sebagainya.
Berarti para pemimpin dan birokrat kita perlu direformasi juga?
Ya, maka para pemimpin, para birokrat baik di legislatif maupun eksekutif itu perlu direformasi karena mereka sangat menentukan dan merupakan uswah khasanah. Merekalah yang paling bertanggungjawab terhadap nasib bangsa ini. Untuk itulah mereka harus meningkatkan kapasitas diri, dibenahi dan ditingkatkan sikap kemandiriannya.
Bagaimana mengubah paradigma bangsa dan umat ini agar bisa mandiri dan tidak tergantung pada pihak lain?
Banyak hal di dunia ini yang diekonomikan. Saat ini al-Qur’an itu diekonomikan, disosialiskan. Lupa bahwa ada nilai-nilai kejuangan. Yang perlu ditanamkan bukan nilai-nilai ekonomis. Namun hal-hal yang lebih mendasar seperti nilai-nilai jiwa dan agama. Jadi, nilai dan jiwa (ruh) bangsa ini hambar sekali, karena yang dikedepankan adalah masalah sosial kemasyarakatan dan ekonomi. Masalah rokok saja, yang dikedepankan adalah nilai ekonomi. Katanya akan muncul pengangguran. Tidak pernah memikirkan masalah kesehatan di mana jutaan orang yang mati karena rokok.
Kemudian yang perlu ditingkatkan lagi adalah masalah etos kerja dan keterampilan. Kita ini termasuk negara yang kaya dengan sumber daya alam, namun jadi negara miskin. Kenapa, karena kita masih tergantung kepada negara lain untuk melakukan eksplorasi maupun produksi. Saatnya hal ini segera dihentikan dan memberikan kesempatan kepada orang-orang terbaik kita untuk melakukan proses itu.
Dan memang itu tidak, karena terkait dengan penguasaan teknologi dan lain sebagainya. Bagaimana cara kita menguasai teknologi, lagi-lagi lewat jalur pendidikan. Namun pendidikan ini tidak hanya untuk keterampilan otak semata, namun yang paling penting adalah hati (dhomir). Karena dari sinilah watak dan mental yang baik itu bisa dibentuk. Value atau nilai-nilai agama ini yang berperan penting dalam pembentukan karakter seseorang hingga ia dapat menjadi sosok yang mandiri dan tidak tergantung pada orang lain.
Apa yang dilakukan Gontor dalam menciptakan kemandirian ini?
Alhamdulillah, Gontor kini sudah mandiri. Kalau tidak, maka tidak mungkin akan dapat membuka cabang hingga 14 banyaknya. Kalau tanpa kemandirian dan ruh yang mandiri, tidak mungkin kita bisa membuka cabang-cabang itu.
Bagaimana mentransformasikan kemandirian Gontor itu kepada umat dan bangsa ini?
Tidak mudah memang. Kita ini lembaga swasta yang seperti itu. Negara punya kekuatan dan tentara. Kita juga menghadapi gerakan-gerakan anti-agama, sekularisasi, liberalisasi dan lain sebagainya. Makanya perjuangan kita masih banyak dan panjang. Masih banyak kerja keras yang harus kita lakukan, bahkan sampai mati.
Ke depannya, bagaimana menurut Anda, bisakah bangsa dan umat kita ini menjadi mandiri dan berwibawa di antara bangsa-bangsa lainnya?
Kalau beberapa hal tadi bisa dipenuhi, kemudian pemimpin kita bisa bersikap tegas dan adil, insya Allah bisa.
Adakah kaitannya dengan sistem politik tertentu?
Hal ini tidak terkait dengan sistem politik apa pun. Sistem politik apapun, kalau pimpinannya baik -tidak hanya presiden- tapi semua pemimpin (dalam segala bidang) dari pusat hingga daerah itu baik, maka akan baik. Dan jangan ada sakit hati dan dendam. Dalam sebuah hadits diriwayatkan, bahwa ada seorang mujahid yang sangat bersemangat dalam berjihad. Dia selalu berada dalam garda depan ketika perang dan selalu meneriakkan takbir ketika menghadapi musuh.
Namun, Rasulullah mengatakan bahwa yang bersangkutan masuk neraka. Tentu saja para sahabat bertanya-tanya, kenapa gerangan mujahid tersebut masuk neraka. Jawab Rasulullah, ia berperang bukan karena Allah SWT, namun karena dendam dan sakit hati. Jadi, dendam dan sakit hati tidak akan membawa manfaat dan kebaikan. Oleh karena itu, dalam mereformasi dan memperbaiki kualitas bangsa dan umat ini, hendaknya kita menyingkirkan dendam dan sakit hati.
Biodata
Nama : DR KH Syukri Zarkasyi, MA.
Tempat tanggal lahir : Gontor, 20 September 1942
Jabatan : Pimpinan Pondok Modern Gontor
- Ketua MUI Pusat
- Ketua Badan Kerjasama Pondok Pesantren (BKSPP) Provinsi Jawa Timur
Pendidikan : Pondok Modern Gontor Ponorogo 1960
- S1 Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta 1965
- S2 Universitas Al-Azhar Mesir 1976
- S3 Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta 2006
Anak : 5 orang (3 putri, 2 putra)

Leave a reply to Pendidikan adalah Politik Tertinggi (1) – Catatan Silang Cancel reply