Ramadhan bagi kaum Muslimin di Thailand Selatan adalah anugerah yang harus disyukuri, walau mereka menjalaninya di antara ledakan bom, desing peluru, cucuran darah dan intaian maut.
Pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 820 itu mendarat mulus di Kuala Lumpur International Airport (KLIA) pukul 13.20 waktu Malaysia. Lalu-lalang dan hiruk-pikuk manusia dari beragam bangsa dan negara segera menyemut di terminal imigrasi bandara yang tiga kali dinobatkan sebagai bandara terbaik di dunia itu.
Kemegahan dan kemewahan serta nuansa modern dengan sistem hi-tech begitu mendominasi KLIA. Orang-orang pun tampak enjoy dan asyik saja walau harus berjibaku dalam antrean panjang di counter-counter imigrasi yang berjumlah belasan pintu.
Kedatangan saya ke Negeri Jiran ini sebenarnya hanya transit sementara untuk menuju Thailand, tepatnya wilayah selatan yang sedang bergolak. Media tempat saya bekerja berkeinginan memotret secara khusus suasana Ramadhan di tengah konflik berkepanjangan di bekas Kesultanan Melayu Patani itu. Penduduk di wilayah selatan yang berbatasan dengan Malaysia tersebut hingga kini masih dicekam kengerian karena didera perang dan maut.
Dan hal ini jarang terungkap ke publik, terutama di Malaysia dan Indonesia sebagai jiran terdekat, yang juga serumpun dan seagama. Akses informasi yang tertutup rapat karena blokade militer menyebabkan informasi tentang “genosida” sistematis di wilayah yang ketat dalam tradisi keislamannya itu menjadi kurang begitu diperhatikan. Hilang tertelan hiruk-pikuk kasus korupsi, kudeta maupun peralihan pemimpin pemerintahan Thailand.
Saya memang tidak langsung menuju Bangkok dari Jakarta, karena ada urusan yang harus diselesaikan di Kuala Lumpur sebelum bertolak ke Thailand. Begitu proses imigrasi usai, saya langsung beranjak keluar bandara dan mencari jemputan yang telah menunggu. Karena telah melakukan kontak sebelumnya dari Jakarta, memudahkan saya mencari sang penjemput.
Sebuah mobil sedan “cap” (baca: merek) Proton keluaran terbaru segera membawa saya menuju Hotel Concorde Inn di Sepang. Di hotel yang dekat dengan sirkuit Sepang ini, saya rehat sejenak dan bertemu dengan beberapa rekan. Mereka mem-briefing saya tentang kondisi terkini Thailand Selatan dan segala sesuatu yang berkaitan dengan kondisi umat Islam di sana.
Dua jam kemudian saya kembali ke bandara, tapi bukan ke KLIA namun ke Low Cost Carrier Terminal (LCCT) alias bandara tiket murah untuk membeli tiket Air Asia tujuan Kota Bharu, Kelantan. Dari Negeri Kelantan inilah saya akan masuk Thailand lewat jalur darat, menyeberangi perbatasan Pangkalan Kubor.
Mulanya saya akan masuk Thailand via Bangkok, namun melihat efisiensi dan efektifitas perjalanan, akhirnya diputuskan lewat Pangkalan Kubor saja. Di LCCT yang masih dalam wilayah Sepang ini, saya juga membeli kartu perdana lokal. Harganya, cuma RM 8 plus voucher pulsa senilai RM 90. Cukup digunakan selama di Malaysia, entah nanti di Thailand.
Bandara tiket murah ini sepertinya monopoli maskapai penerbangan Air Asia yang memang berbasis di Malaysia. Sama dengan di KLIA, LCCT juga melayani beragam rute penerbangan, dalam dan luar negeri. Ribuan manusia dari beragam bangsa tumplek-blek di pusat gedung LCCT, tempat keluar masuknya orang. Aparat dan petugas bandara tampak begitu ketat dan awas dalam memeriksa tiap penumpang yang keluar maupun masuk ke bandara. Walau demikian, suasana tertib, rapi dan tenang begitu terasa.
Usai buka puasa dan shalat Maghrib, saya bergegas ke LCCT dan langsung check in pesawat. Suasana bandara tak seramai siang sebelumnya. Lalu-lalang bermacam manusia tak begitu padat. Pemeriksaan petugas bandara pun tak seketat siang hari. Malah petugas keamanan bandara terlihat malas-malasan melakukan tugasnya. Entahlah, apa karena mereka terlalu kenyang habis buka puasa.
Pesawat yang saya tumpangi take off pukul 21.15 waktu Malaysia, dan mendarat di bandara Kota Bharu (KB) lima puluh menit kemudian. Sebuah taksi yang saya cegat membawa diri ini ke Hotel Royal Guest House dengan kecepatan tinggi. Saya tiba di hotel yang tak seberapa besar namun terkesan mewah dan terletak di depan Istana Kelantan ini, kurang lebih empat puluh menit kemudian.
Esok hari pukul 07.45 pagi saya check out. Sebuah kereta (mobil) sewaan yang telah saya pesan menunggu di depan hotel. Tanpa basa-basi sang sopir langsung menggeber kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Heran juga, rata-rata para sopir di Negeri Jiran ini doyan banget ngebut. Entah karena jalannya yang memang sepi atau karena kebiasaan.
Pagi itu suasana KB masih segar, di jalan-jalan masih tampak orang-orang dengan pakaian Muslim yang menikmati Sabtu pagi. Kaum Muslimin, laki dan perempuan baru saja menunaikan shalat Subuh berjamaah di Masjid Muhammadi, salah satu masjid terbesar dan bersejarah di KB.
Kota yang asri ini masih lengang dan sunyi. Belum tampak geliat kehidupannya yang asli. Mobil terus melaju kencang menembus pagi, menuju perbatasan Kelantan-Thailand, pelabuhan Pangkalan Kubor.
Tak ada hambatan berarti di sepanjang jalan. Di berbagai sudut kota, tampak poster Menteri Besar Kelantan, Nik Aziz Nik Mat. Tulisan atau letter pertokoan, nama-nama gedung dan bangunan tertulis dalam huruf latin dan Arab. Ini merupakan ciri khas Kelantan, yang membedakannya dengan negeri-negeri lain di Malaysia. Kelantan juga terkenal dengan kelezatan makanannya. Sayang, saya tak sempat mencicipi karena tengah berpuasa. (bersambung)

Leave a reply to Thailand Selatan yang Membara (4-habis) – Catatan Silang Cancel reply