Thailand Selatan yang Membara (2)

Kurang lebih satu jam kemudian, mobil tiba di Pangkalan Kubor, perbatasan Malaysia-Thailand. Perbatasan kedua negeri ini hanya dipisahkan sungai yang cukup besar.

Usai pemeriksaan paspor di imigrasi, saya pun membeli tiket fery untuk menyeberang ke Thailand. Jangan membayangkan fery ini berupa kapal penumpang sebagaimana kapal penyeberangan di Indonesia.

Fery versi Kelantan ini adalah sebuah perahu kayu kecil, dengan mesin motor di belakangnya. Ukurannya sekitar 2 x 6 meter, memuat duabelas orang penumpang. Harga tiketnya, cukup RM 1. Untuk ukuran Indonesia, ongkos sekian cukup murahlah. Waktu tempuh ke Thailand, tepatnya Tak Bai, sekitar 5 menit saja.

Penumpang fery mungil ini kebanyakan orang-orang Melayu yang hilir mudik melintasi border (perbatasan). Dialek mereka terasa asing di telinga, tak terdengar seperti Melayu-nya orang-orang Malaysia. Tampang mereka, sangat Indonesia. Namun, jangan harap bahasa Indonesia kita bisa dengan mudah dipahami. Demikian pula kita, tak mudah memahami bahasa mereka.

Usai menyeberang ke Tak Bai, sempat bingung mau kemana. Beberapa orang menawarkan tumpangan keretanya dengan bahasa yang kurang dapat dipahami. Pelabuhan Tak Bai ini menyatu dengan pasar tradisional yang menjual aneka kebutuhan, tak jauh beda dengan pasar-pasar di Tanah Air. Lalu-lalang orang Melayu dengan bahasa yang tak dimengerti ini memang agak terasa aneh.

Tanpa tahu harus kemana, saya pun berkeliling di area pasar dan dermaga. Melihat keadaan sekitarnya dan bertanya-tanya, namun tak mendapatkan jawaban yang jelas dari orang-orang. Bertanya dalam Bahasa Indonesia yang sedikit berbau Melayu saja mereka tak mengerti, apalagi Bahasa Inggris.

Akhirnya saya pun mendatangi kantor imigrasi Tak Bai yang terletak persis di pinggir sungai. Bangunan kantor berbentuk bundar itu berhadapan dengan loket karcis dari kayu berukuran 2 x 1 meter persegi. Loket ini dijaga oleh seorang Melayu. Usia sekitar 50-an tahun dengan rambut yang sebagian telah memutih. Wajahnya berbentuk segi empat dengan rahang keras menonjol. Nada bicara pria berkulit gelap ini kasar dan cepat. Tak begitu jelas apa yang keluar dari kerongkongannya. Melayu yang dia ucapkan tak seperti Melayu Kuala Lumpur.

Di sinilah “petaka” itu bermula. Begitu saya menyodorkan paspor untuk diperiksa, dengan seringai sinis ia berujar, “Lima puluh ringgit!”

Karuan saja saya kaget, apa maksudnya dengan lima puluh ringgit. Karena biasanya pemeriksaan paspor tak dikenai bayaran. “Untuk ape ni?” tanya saya berlagak culun.

“Orang Indon tak boleh masuk ke sini. Kalau mau masuk, harus bayar RM 50,” ketusnya dengan Melayu yang bisa dimengerti.

Jengkel juga rasanya, mendengar orang Thailand ikut-ikutan menyebut Indon, bukan Indonesia. Nasionalisme saya sedikit tersinggung. “Mahal sekali, Pak. Bolehkah RM 5?” saya mencoba menawar.

“Itu harga resmi, kamu bisa tanya petugas di dalam,” ujarnya sambil menunjuk ke arah bangunan bundar. “Ini Ramadhan, saya berpuasa. Buat apa saya bohong. Kalau kamu tak mau bayar, terserah. Tapi jangan salahkan kalau nanti berurusan dengan askar (tentara) kerajaan (Thailand)!”

Mendengar kata-kata askar, nyali saya ciut juga. Apalagi ini negeri orang. Tak mau berpanjang kata dan diomeli orang tak dikenal, saya pun menyerahkan RM 50. Lelaki itu kemudian membawa paspor saya ke dalam gedung bundar. Sekitar dua puluh menit kemudian ia keluar dengan paspor yang telah distempel imigrasi Tak Bai. “Dengan visa ini kamu aman masuk Thailand,” katanya singkat.

Sambil mengucapkan terima kasih, saya terima paspor saya kembali dengan hati yang masih dongkol. Bagaimana tidak, uang sebesar Rp 130.000 terbuang percuma. Dengan gontai saya mencari tempat duduk di kantor pinggir sungai itu, lalu menelpon rekan di Kuala Lumpur agar meminta kontak di Narathiwat segera datang menjemput.

Pandangan saya berkelana ke sana-kemari, menikmati pasar, sungai dan orang-orang yang rupanya sama persis dengan saudara sebangsa namun berbeda bahasa. Sebuah keunikan yang ganjil, namun nyata. Hampir satu jam menanti, akhirnya jemputan dari Narathiwat datang jua.

Saya pun bergegas naik mobil setelah saling memperkenalkan diri. Di luar gerbang imigrasi, saya menukar uang ringgit menjadi Baht, mata uang Thailand. Kaget juga melihat duit Baht yang lebar-lebar seperti godong pisang itu. Semoga cukup dimasukkan dalam dompet. (bersambung)

Posted in

One response to “Thailand Selatan yang Membara (2)”

  1. […] Tak ada hambatan berarti di sepanjang jalan. Di berbagai sudut kota, tampak poster Menteri Besar Kelantan, Nik Aziz Nik Mat. Tulisan atau letter pertokoan, nama-nama gedung dan bangunan tertulis dalam huruf latin dan Arab. Ini merupakan ciri khas Kelantan, yang membedakannya dengan negeri-negeri lain di Malaysia. Kelantan juga terkenal dengan kelezatan makanannya. Sayang, saya tak sempat mencicipi karena tengah berpuasa. (bersambung) […]

    Like

Leave a reply to Thailand Selatan yang Membara (1) – Catatan Silang Cancel reply