Thailand Selatan yang Membara (4-habis)

Hampir tiap satu kilometer terdapat outpost, dilengkapi dengan pelindung tumpukan karung pasir, pagar kawat, juga tenda-tenda prajurit. Penampakan tentara atau askar kerajaan ini mendominasi dan bahkan lebih banyak daripada lalu-lalang penduduk biasa. 

Apalagi jarak rumah-rumah warga antara satu dan lainnya cukup jauh, sepuluh hingga lima puluh meter. Hanya satu-dua orang saja warga sipil yang tampak di jalanan. Sisanya, selain askar, hewan ternak seperti lembu dan domba. 

Bahkan, di beberapa ruas jalan terdapat rambu-rambu lalu lintas yang bergambar kawanan ternak. Si pengguna jalan diharapkan mengurangi laju kendaraan, jika terdapat hewan ternak yang sedang menyeberang atau ‘nongkrong’ di tengah jalan. Maklum, kawasan selatan Thailand ini terkenal bebas maling dan pencurian. Hewan ternak dilepas berkeliaran begitu saja tanpa kandang. 

Setelah melewati sejumlah outpost dan penjagaan tentara dengan lancar, memasuki kota Narathiwat, mobil yang kami tumpangi dicegat. Salah seorang serdadu, dengan senjata bersanding di dadanya mendekat dan bertanya dalam Bahasa Siam pada rekan penjemput dan dijawab dengan singkat saja. Tak puas rupanya si tentara itu, ia kembali bertanya dengan mimik kurang bersahabat sambil sesekali menatap ke arah saya. 

Seorang serdadu datang dari arah kanan mobil, melihat-lihat ke dalam dan memelototi ransel Eiger biru nan kucel kebanggaan saya itu. Tas itu begitu terlihat mencolok di antara jok belakang yang diduduki sopir, persis di depan saya. Si penjemput kembali berbicara dalam Siam beberapa kalimat. Entah apa yang dia katakan, namun akhirnya kami diizinkan masuk kota. Lega rasa di dada. 

Saya kemudian menanyakan apa saja yang ditanyakan sang askar, si penjemput hanya berujar singkat, “Cuma bertanya dari mana, lalu saya jawab dari Tak Bai. Yang di belakang siapa (maksudnya saya), saya jawab teman kuliah dari Indonesia.” 

Kami pun memasuki Kota Narathiwat dengan lancar.

Menjadi Siam

Konflik, di mana-mana hanya menyisakan perih dan luka. Terutama bagi warga sipil. Kawasan Thailand Selatan, yang didominasi ras Melayu telah cukup kenyang dengan konflik. Saking ‘kenyangnya’ warga seolah-olah tidak hirau lagi. Mereka pasrah saja dengan apa yang terjadi. 

“Kami sudah bosan bicara tentang kondisi Selatan,” ujar Hakim, warga Yala yang juga pejabat di kantor pemerintahan. 

“Telah berulang kali coba dilakukan rekonsiliasi atau islah dengan kerajaan, namun tanpa hasil,” lanjut pria alumnus Pondok Modern Gontor itu.

Menurut Hakim, terlalu banyak sebab yang menciptakan konflik di negerinya, sehingga sulit untuk diurai kembali. Sejarah panjang selama seratus tahun penyatuan Kesultanan Patani dengan Kerajaan Siam hingga memunculkan Thailand, telah memunculkan perlawanan rakyat yang tiada henti. 

“Tapi yang paling menyakitkan kami sebagai Bangsa Melayu adalah kewajiban untuk mengikuti budaya dan tradisi Siam,” kata Hakim. Sejak Patani diambil Siam, sejak itu pula kami harus jadi orang Siam,” tegasnya.

Kerajaan Thailand mewajibkan seluruh warga Melayu yang beragama Islam bercakap dalam Bahasa Siam, mengikuti ritual-ritual penghormatan terhadap raja yang biasa dilakukan orang-orang Siam yang beragama Buddha. 

Dalam pendidikan pun demikian, sejak pendidikan dasar hingga perguruan tinggi, anak-anak Melayu dijejali dengan bahasa dan tulisan Siam. Tak heran, jika kini mayoritas orang-orang Melayu di selatan telah lupa dengan akar kultur dan tradisinya. Mereka lebih pandai berkomunikasi secara verbal maupun tulisan dalam Siam ketimbang Melayu.

Abdul Karim, seorang pemuda Melayu-Muslim yang saya temui adalah secuil contoh. Mahasiswa Universitas Yala ini sama sekali tak bisa bercakap Melayu, apalagi Inggris. Lajang asli Patani yang pergi-pulang kuliah ke Yala ini mengaku sejak kecil sudah berbicara Siam, walau kakek moyangnya orang Melayu asli. 

“Awalnya saya tak paham kenapa harus bicara Siam, padahal kami keturunan Melayu. Namun, semenjak duduk di bangku sekolah menengah atas saya mulai paham,” tuturnya lewat seorang penerjemah. 

“Namun semua sudah terlambat. Saya sudah tak familier lagi dengan Bahasa Melayu,” akunya.

Walau demikian, sebagai Muslim, Karim tetap menjalankan tradisi Melayu yang kental dengan keislamannya. Baginya, bahasa bukanlah kendala dan pemutus mata rantai agamanya yang Islam. 

“Saya tetaplah seorang Muslim, walau berbicara bahasa Siam. Sebagaimana orang Arab tetap Islam dengan Bahasa Arab-nya,” ujarnya diplomatis.*

 

    

 

Posted in

One response to “Thailand Selatan yang Membara (4-habis)”

  1. […] Tak lupa dengan senjata hunus siap tembak. Entah siapa yang hendak mereka serang. Sesekali tampak panser dan tank melintas dalam formasi satu dua. Berkeliling dari satu ujung ke ujung jalan yang lain. (bersambung) […]

    Like

Leave a reply to Thailand Selatan yang Membara (1) – Catatan Silang Cancel reply