Mobil yang kami tumpangi dengan perlahan keluar dari area border (perbatasan) Tak Bai. Kota Tak Bai yang termasuk dalam wilayah Provinsi Narathiwat ini merupakan pintu masuk ke Thailand dari Kelantan, Malaysia.
Penjemput saya beserta sopir yang menemaninya bergantian menuturkan kondisi selatan Thailand yang masih panas dan bergolak. Intinya, kata mereka, umat Islam kini sedang dijajah bangsa Siam.
Rakyat selatan yang mayoritas Muslim menjadi korban kebiadaban tentara kerajaan. “Tiap hari ada saja orang Melayu yang dibunuh, diculik maupun ditembak,” kata si penjemput dengan Melayu yang cukup dimengerti.
“Kita hidup tertekan dan tak bebas,” timpal si sopir.
Saya hanya mengangguk mendengar cerita mereka. Di sebuah pertigaan jalan, si sopir memelankan laju mobil, lalu belok kanan. “Kita akan ajak bapak melihat lokasi demo di Tak Bai yang menewaskan ratusan Muslim pada tahun 2004 silam,” kata penjemput yang ramah ini.
Memasuki kawasan kantor polisi Distrik Tak Bai suasana lengang menggerayangi. Jalanan sepi tanpa manusia. Di tengah jalan teronggok beberapa pagar kawat berduri, menyisakan lubang seukuran mobil di tengahnya. Kendaraan yang melintas harus berzig-zag menembus pagar kawat ini.
Di pos jaga kantor polisi tampak dua orang tentara dengan senjata laras panjang menatap tajam ke arah jalanan. Mobil yang kami tumpangi pun tak lepas dari sorot mata prajurit Siam itu. Dengan perlahan mobil terus berjalan, melewati lokasi tragedi 2004 silam, di mana ratusan Muslim meregang nyawa hanya karena berunjuk rasa.
Tragedi Tak Bai masih menyisakan luka di jalanan ini. Warga sekitar enggan melintasinya. Kenangan buruk empat tahun lalu masih membekas di memori mereka. Inilah yang membuat kawasan ini sepi dan lengang. Yang berkeliaran di jalanan hanya tentara dan polisi Kerajaan Thailand. Tak lupa dengan senjata andalan mereka, AK47 atau M16.
Di depan kantor polisi tersebut terdapat taman bermain dengan beraneka ragam sarana, mirip tempat bermain anak-anak TK (Taman Kanak-Kanak) di Indonesia. Di belakang taman bermain ini terdapat sungai lebar nan dalam. Di sanalah, 25 Oktober 2004, ratusan warga yang berunjuk rasa diikat dengan tali setelah mereka dipaksa bertelungkup dengan telanjang dada.
Warga yang sudah dikepung ratusan tentara itu tak bisa melarikan diri. Sebagian orang yang nekat nyebur ke sungai terpaksa balik ke darat setelah diberondong tembakan. Warga yang tak berdaya dan terikat tangannya di belakang punggung kemudian dimasukkan truk dengan cara ditumpuk bagai ikan asin. Dibawa menuju markas tentara di Patani yang berjarak 100 kilometer dari lokasi.
Perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh dalam waktu satu jam, sengaja diperlambat oleh tentara hingga memakan waktu lima jam. Tak ayal, akibat kelelahan dan tertindih teman sendiri, 85 orang warga tewas sebelum tiba di Patani. Belum lagi ratusan orang yang hilang dan tercebur ke sungai.
Unjuk rasa damai warga Muslim dihadapi aparat dengan semburan gas air mata, water canon dan tembakan peluru tajam. Aksi itu buyar akibat serangan brutal militer. Aparat bersenjata dengan segenap kekuatannya menggempur warga yang hanya bisa membalas dengan teriakan takbir dan tahmid.
Tragedi inilah yang menyisakan sunyi di kawasan kantor polisi Tak Bai, di mana warga enggan melintas lagi atau mengizinkan anak-anak mereka bermain di taman.
Saya meminta izin turun dari mobil untuk melihat-lihat taman dan mengambil gambar kantor polisi itu kepada si penjemput, namun dicegah. “Kita tak mau mengambil risiko, Pak,” ujarnya.
“Suasana di sini beda dengan di Indonesia. Jangan sampai askar (tentara) marah dan menembak kita hanya karena sebuah gambar.”
Saya agak terkejut mendengar kata-katanya yang dijalari mimik khawatir di wajahnya itu. Kami pun melanjutkan perjalanan ke Narathiwat melalui perkampungan kumuh di pinggiran markas polisi tersebut. Tidak melewati jalan masuk semula.
Si sopir mengemudikan cab bak (mobil double cabin) dengan kecepatan sedang. Menembus kesunyian jalan lebar dan mulus Tak Bai menuju Narathiwat, salah satu provinsi Melayu di selatan Thailand.
Di beberapa sudut dan pinggir jalan terdapat outpost (pos jaga) tentara. Patroli militer Thailand juga mendominasi jalanan. Mereka berjaga-jaga, berjalan kaki melakukan pemeriksaan juga naik motor.
Tak lupa dengan senjata hunus siap tembak. Entah siapa yang hendak mereka serang. Sesekali tampak panser dan tank melintas dalam formasi satu dua. Berkeliling dari satu ujung ke ujung jalan yang lain. (bersambung)

Leave a reply to Thailand Selatan yang Membara (2) – Catatan Silang Cancel reply