Sore itu, usai mengambil buku memoar 168 Jam-nya Meutya Hafid pada salah satu rak di toko buku Gunung Agung, Tunjungan Plaza Surabaya, saya menyusuri rak majalah yang terletak di bagian pinggir kiri toko, dekat dengan pintu masuk.
Pada tepian rak di bagian atas, pandangan saya terpaku kata Madina dalam warna putih yang begitu mencolok.
Ternyata itu adalah nama sebuah majalah di antara beberapa majalah Islam lain yang tertata di sana. Sketsa blur beberapa wajah bintang sinetron Zaskia A Mecca pada kulit muka tampak mengelilingi sebuah kotak biru dengan tulisan putih di tengahnya. Islam 15 Menit, demikian bunyi tulisan tersebut.
Sebelum sempat menyentuh dan membuka lembaran di dalamnya, seketika ingatan saya melayang pada sebuah kejadian di kantor Pena Indonesia, beberapa hari menjelang lebaran tahun lalu.
Kata Madina itulah yang menyeret memori saya pada sebuah percakapan dengan Farid Gaban (FG), suatu malam di bulan puasa itu. FG mengungkapkan bahwa dalam waktu dekat dia akan menerbitkan majalah Islam. “Namanya, Madina,” katanya.
Madina diambil dari sebagian nama penggagasnya, Yayasan Paramadina. Dan FG, sebagaimana ceritanya, diajak untuk turut serta dalam pengelolaan redaksinya. “Insya Allah, awal tahun depan terbit,” ujar FG.
“Wah, saya bisa ikut terlibat nih, kalau nanti keluar dari tempat kerja sekarang,” gurau saya.
Waktu itu memang saya telah mengajukan surat pengunduran diri ke Direksi di kantor, ketika bersua FG di markasnya. FG hanya tersenyum mendengar kata-kata saya itu. Kami pun terus berbincang-bincang tentang berbagai hal, terutama tentang jurnalisme.
Dan kini, di hadapan saya, Madina telah hadir. Saya berharap bahwa benar inilah Madina yang akan dikelola FG itu. Bukan Madina yang lain. Mata saya kemudian berturut-turut mengikuti beberapa tulisan di bawah delapan sketsa blur-nya Zaskia.
Budaya Pop Islam Indonesia, Dakwah ala Hanung Bramantyo, Wawancara Imam Masjid New York dan Mengenang Benazir Bhutto, tercetak pada bawah kiri kulit muka. Pada bawah kanannya tertulis, Kuliner: Makanan Favorit Rasulullah, Sepak Bola: Legion Islam di Liga Eropa, Sejarah: Piano di Pundak Unta Australia dan Ekonomi: Bank Syariah diminati non-Muslim.
Tak sabar, saya pun segera membuka lembaran Madina dan mencari box redaksi. Dan benar, nama FG tercetak jelas sebagai Pemimpin Redaksi. Dalam kata pengantar Dari Redaksi tertulis, “Izinkanlah kami menempati salah satu pojok dalam ruang baca Anda sekeluarga. Majalah ini hadir ke hadapan Anda dengan satu harapan: berbagi tentang khazanah Islam yang beragam, yang patut kita syukuri dan rayakan.”
Kemudian, “Majalah ini berharap bisa menyumbang peluang agar Islam menjadi rahmatan lil alamin, rahmat bagi alam semesta seisinya.”
Sungguh sebuah harapan yang mulia, juga penuh optimisme. Saya pun mengambil satu eksemplar Madina dan membawanya ke kasir bersamaan dengan buku memoar-nya Meutya Hafid.
Dari pengantar redaksi pula, saya jadi tahu bahwa kulit muka dengan gambar pemeran sinetron Kiamat Sudah Dekat, Zaskia A Mecca itu, ternyata bernuansa ‘pop art’ ala Andy Warhol.
Katanya, teknik Warholian khas dalam pewarnaan. Teknik seperti ini telah banyak dipakai pula untuk menampilkan ikon-ikon politik dan budaya internasional. Dan Madina menggunakannya sebagai ilustrasi cover pada edisi perdana.
Melihat ketergantungan media yang begitu besar pada keterlibatan audiens, Madina juga membentuk Komunitas Madina, sebagai sarana ‘interaktivitas’. Madina mengundang pembacanya agar dapat terlibat aktif untuk memperkaya isi majalah. Bisa dengan surat pembaca, joke, kartun, puisi, renungan inspiratif atau features lain yang menarik.
Selain nama FG, yang tercantum dalam box adalah Ade Armando, Ihsan Ali-Fauzi dan Hikmat Darmawan sebagai anggota Redaksi. Sebagai Dewan Redaksi ada nama-nama Komaruddin Hidayat, Haidar Bagir, Anies Baswedan dan Imam B. Prasodjo. Madina diterbitkan oleh PT Madina Media Publika dengan Direktur Utama Putut Wijanarko.
Selain printed edition, Madina juga ‘unjuk diri’ di dunia maya dengan membentuk Digital Madina pada situs http://www.madinamagazine.com. Di situs internet ini, pembaca dapat mendaftar untuk menjadi anggota Komunitas Madina (Madina Society) dan Klub Penulis Madina (Madina Writers Club). Inilah mungkin—yang disebut sebagai sarana perwujudan ‘interaktivitas’ itu.
Budaya Pop Islam: Islam Lima Belas Menit sebagaimana judul pada kulit muka di tengah-tengah ‘delapan wajah’ Zaskia, menempati Laporan Utama (Laput) yang dimulai pada halaman 6. Kembali, ‘Warholian’ mendominasi ilustrasi halaman tersebut dan sebagian halaman setelahnya. Artikel ditulis oleh Hikmat Darmawan dan Ade Armando.
Laput yang berjumlah 15 halaman diakhiri wawancara dengan Hanung Bramantyo, sutradara berbakat pemenang FFI 2007 (Get Married), yang baru saja usai menggarap film Ayat-Ayat Cinta. (bersambung)

Leave a reply to Ahlan wa Sahlan, ya Madina! (2-habis) | Catatan Silang Cancel reply