Ahlan wa Sahlan, ya Madina! (2-habis)

Budaya Pop Islam membedah tentang musik, film, buku (penerbitan) dan sinetron. Mulai dari musik gambusnya Nasyida Ria hingga Dewa dan Opick. Dari film Titian Serambut Dibelah Tujuh-nya Asrul Sani hingga Rindu Kami Padamu-nya Garin Nugroho. Dari buku La Tahzan hingga novel Ayat-Ayat Cinta.

Menginjak halaman 39, pada rubrik Arsitektur, nama sang komandan redaksi, FG tercetak sebagai penulis. FG menulis tentang Aga Khan Award 2007. Sebuah tulisan yang bagus dan inspiratif, dengan gaya bahasa khas mantan wartawan Tempo dan Republika itu. Saya jadi berpikir dan menimbang-nimbang, pasti Dari Redaksi juga ditulis oleh FG sendiri.

Feisal Abdul Rauf, Imam Masjid Al-Farrah New York, menghiasi rubrik Wawancara. Fethulleh Gulen, politikus ternama Turki yang dianggap sebagai tokoh liberal, tampil pada rubrik Profil. Buku Tuhan & Hal-hal yang Tak Selesai-nya Goenawan Mohamad (GM), hadir di rubrik Resensi Buku di halaman 84. 

Selain itu, beberapa tulisan tentang perbankan syariah, kisah sufi, anekdot atau humor, renungan spiritual dan artikel olahraga turut melengkapi daftar menu Madina.

Pada Akhir Kata, kembali FG menulis artikel berjudul Teologi Pembebasan ala Salman. Tulisan Akhir Kata yang diletakkan pada bagian akhir majalah sebelum kulit belakang ini sepertinya mengikuti jejak Tempo yang selalu diakhiri dengan Catatan Pinggir-nya GM. Dan FG, mungkin, akan selalu setia hadir pada Akhir Kata, dengan artikel-artikelnya. Semoga saja.

Sebagaimana yang disebutkan di Dari Redaksi, jejak Islam bisa kita temukan dalam beragam sistem nilai dan etika, filsafat, seni budaya, gerakan sosial-politik, sains dan teknologi sepanjang sejarah dan di berbagai pojok dunia. 

Madina pun mencoba merefleksikannya dalam rubrik-rubrik yang dikemas sedemikian rupa, demi menampilkan universalitas Islam yang melingkupi segenap dimensi kehidupan. Walau, tentu saja, tidak semua dapat ter-cover. Tapi paling tidak, ada usaha untuk menuju ke sana.

Kombinasi antara teks, foto dan ilustrasi Madina, secara keseluruhan cukup manis dan sedap dipandang. Jarak antar spasi dan kolom dengan pemilihan font dan kerapatan karakter yang tidak terlalu mepet, membuat suasana membaca menjadi nyaman. Sayang, di beberapa artikel seperti Obituari-nya Benazir Bhutto tidak tampak nama penulis. Demikian pula dengan caption dan credit title dari mana foto berasal. 

Hal serupa juga tampak pada rubrik Aktual, Internasional dan beberapa artikel lainnya. Sebagian memang ada caption fotonya, namun tidak dengan sumber fotonya. Nama penulis juga jarang ditampilkan pada sebuah tulisan. 

Saya tidak tahu kenapa hal ini terjadi. Apakah mungkin Madina mempunyai kebijakan tersendiri soal caption dan credit titlle yang tidak perlu ia tampilkan. Entahlah. Yang jelas, saya melihat adanya inkonsistensi dari ‘penampilan’ yang demikian.

Hal lain yang turut ‘memperburuk’ tampilan majalah ini adalah terlalu banyaknya salah ketik atau salah tulis pada beberapa artikelnya. Sebagai majalah yang terbit sebulan sekali, tentu saja kesempatan untuk melakukan editing jauh lebih besar ketimbang media cetak lain yang terbit mingguan atau harian. 

Namun, tampaknya hal ini kurang diperhatikan oleh redaksi Madina. Entah karena ketergesa-gesaan atau mepetnya waktu terbit, proses editing yang kelihatan sepele namun cukup berdampak ini kurang “diseriusi”. Padahal bagi pembaca kritis, salah ketik atau salah tulis adalah sesuatu yang sangat mengganggu.

Walau demikian, secara keseluruhan, Madina dengan jumlah halaman yang mencapai 96 lembar bisa menjadi bacaan Islam alternatif di tengah ‘dominasi’ majalah Islam yang dianggap sektarian, radikal, bahkan klenik dan mistik. 

Dengan kertas art paper glossy sebagai pilihan, menunjukkan Madina “mungkin” membidik segmen kalangan menengah ke atas. Apalagi jika melihat harga per eksemplarnya yang mencapai Rp. 25.000. Sebuah harga yang cukup mahal. Namun, harga sedemikian cukup sesuai dengan sajian Madina.

Bahwa pembuat majalah ini adalah Paramadina, yang kerap ditabalkan sebagian orang sebagai pembawa ‘virus’ Sepilis (sekularisme, pluralisme dan liberalisme), adalah benar. Tapi apakah dengan demikian Madina lantas ikut-ikutan liberal.

Belum tentu juga. Moderat, iya. Karena ia memang menempatkan diri pada wilayah ini dan ingin menjadi media yang terbuka dan toleran. Tidak hanya terhadap keyakinan lain dan realitas kekinian, tapi juga terhadap penafsiran dan manifestasi Islam yang beragam.

Tak heran, jika pada rubrik Aktual, Ade Armando menulis artikel bernada pembelaan terhadap Ahmadiyah dan kritikan cukup keras terhadap MUI. Demikian pula dalam rubrik serupa pada halaman yang berbeda, dengan kritis Madina menyayangkan kasus pencekalan terhadap Abu Zayd, ilmuwan Islam kontroversial asal Mesir yang dikenal sebagai salah satu tokoh liberal di Timur Tengah. Demikian pula jika menyimak Profil Fethulleh Gulen. 

Apakah dengan demikian Madina mengusung Sepilis? Apalagi jika melirik nama-nama Komaruddin Hidayat, Anies Baswedan dan Haidar Bagir, yang seolah kian ‘mempertegas’ citra liberalnya. Secara pribadi saya belum melihat itu. Entah dengan pembaca lain.

Bagaimanapun jua, Madina telah memberi warna baru pada industri pers Islam. Bagaimana kelanjutannya ke depan, apakah ia akan eksis atau tidak? Tergantung banyak faktor. Untuk saat ini, saya hanya berucap, Ahlan wa sahlan, ya Madina!”*

 

Posted in

2 responses to “Ahlan wa Sahlan, ya Madina! (2-habis)”

  1. Ahlan wa Sahlan, ya Madina! (1) | Catatan Silang Avatar

    […] Laput yang berjumlah 15 halaman diakhiri wawancara dengan Hanung Bramantyo, sutradara berbakat pemenang FFI 2007 (Get Married), yang baru saja usai menggarap film Ayat-Ayat Cinta. (bersambung) […]

    Like

  2. […] Laput yang berjumlah 15 halaman diakhiri wawancara dengan Hanung Bramantyo, sutradara berbakat pemenang FFI 2007 (Get Married), yang baru saja usai menggarap film Ayat-Ayat Cinta. (bersambung) […]

    Like

Leave a comment