Habib bin Zaid adalah salah seorang sahabat yang masih belia; pemuda yang teguh menjaga iman dari ujung rambut hingga ujung kakinya.
Pada suatu hari, Rasulullah saw mengutus Habib untuk membawa surat beliau kepada Musailamah al-Kadzzab. Begitu membaca apa yang tertulis dalam surat tersebut, rona kemarahan dan kedengkian terpancar dari wajah sang nabi palsu. Ia lalu memerintahkan pembantunya mengikat Habib untuk diinterogasi keesokan harinya.
Di waktu Dhuha, Musailamah membuka majelisnya. Di sekeliling tampak para pemuka kaum yang menjadi pengikutnya. Habib bin Zaid kemudian digiring ke hadapannya dengan tangan dan kaki terikat.
Musailamah bertanya kepada Habib, “Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah?”
Habib menjawab, “Ya, aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”
Musailamah terdiam sejenak, lalu bertanya, “Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasulullah?”
“Telingaku sedikit tuli sehingga tidak bisa mendengar apa yang kau katakan,” timpal Habib dengan nada sinis,
Musailamah berang dan memerintahkan algojonya, “Potong sebuah anggota tubuhnya!”
Si algojo menghampiri Habib lalu memotong salah satu anggota tubuhnya, sehingga bagian yang terpotong itu menggelinding di atas tanah.
Musailamah mengulang-ulang pertanyaan yang sama kepada Habib, dan dijawab dengan jawaban yang sama pula. Dan bagian tubuh Habib terlepas lagi dipotong algojo. Hingga hampir separuh tubuhnya terpotong dan berceceran, separuhnya lagi merupakan onggokan daging yang berbicara.
Tak lama kemudian, ruhnya pun meninggalkan jasad, sementara kedua bibirnya terus menyebut nama Nabi yang telah ia bai’at pada malam Aqabah; Muhammad sebagai Rasulullah.
Orang-orang yang hadir pada saat itu heran dan kagum menyaksikan menyaksikan keteguhan dan penolakan Habib terhadap Musailamah. Seorang remaja belia, dengan keyakinan mendalam, tak goyah menghadapi maut di ujung pedang.
Ketika mendengar tewasnya Habib, ibunya—Nasibah al-Maziniah—hanya berharap putranya mendapatkan balasan terbaik dari Allah.
Pada Perang Yamamah, Musailamah terjerembab di atas tanah, tertusuk pedang dan berlumuran darah. Sebagaimana Habib, sang pendusta itu pun kembali menghadap Tuhannya. Namun, tempat yang dituju keduanya jelas tidaklah sama.
Alangkah mulianya Habib dengan imannya, alangkah hinanya Musailamah dengan dustanya.*

Leave a comment