Pada awal abad ke-13, pasukan Tartar menyerbu Kota Baghdad, pusat pemerintahan Dinasti Abbasiyah. Bangsa yang dikenal bengis ini kemudian berhasil membunuh Khalifah Mu’tashim Billah dan membantai kaum Muslimin.
Pasukan Tartar juga membakar berbagai buku ilmu pengetahuan, yang telah menjadikan kekhalifahan ini mencapai kegemilangannya. Dinasti Abbasiyah runtuh karena penyimpangan yang mereka lakukan, sebuah realisasi sunnatullah dalam kehidupan manusia.
Kehancuran pemerintahan Abbasiyah bukanlah penghabisan umat Islam. Dinasti Utsmaniyah muncul dan berkuasa di muka bumi selama lima abad. Pemerintahnya mampu menjaga eksistensi kaum Muslimin dan berkali-kali menyerang pasukan Salib. Pasukan Utsmaniyah berhasil mencapai Eropa dan memperluas wilayah Islam.
Namun kekhalifahan Utsmani juga tidak terhindar dari penyimpangan, baik dalam negara atau kehidupan umat. Mereka menolak adanya ijtihad dan pembaharuan. Tak heran jika kebekuan dan keterbelakangan melanda kekhalifahan ini.
Dunia memasuki fase baru pada permulaan abad ke-17, ketika kaum Kristen Barat melancarkan perang terhadap dunia Islam. Saat itu kaum Muslimin telah menyimpang dari agama mereka dan mengalami kemunduran dalam berbagai bidang kehidupan.
Padahal Allah SWT telah mengingatkan, “Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebajikan.“ (QS Huud: 117).
Seiring perjalanan zaman dan akumulasi serangan yang berlangsung terus menerus, maka ajaran Islam secara perlahan memudar dalam kehidupan kaum Muslimin.
Sayyid Quthb dalam Hadzaddin, menyebut kondisi ini menyebabkan Islam dalam bahaya. “Agama Islam tak ubahnya gambaran di permukaan saja, yang terlepas dari ruhnya,” kata Quthb.
Penyelewengan yang kian mengganas ini akhirnya melenyapkan kejayaan Islam. Umat yang pernah meraih predikat terbaik terjungkal dari puncak ke jurang keterpurukan nan dalam.
Jika kaum Muslimin ingin kembali memimpin dunia, maka mereka harus kembali kepada perangkat-perangkat kejayaan itu sendiri; iman, ilmu, amal saleh, ibadah, dakwah dan jihad di jalan Allah.
Urusan umat ini tidak menjadi baik kecuali dengan menciptakan kondisi yang telah dialami oleh para pendahulu awal—Rasulullah dan para sahabat—pada masa–masa kejayaan.*

Leave a comment