Ketika gelombang reformasi melanda Timur Tengah di awal-awal Arab Spring, Suriah masih tak terusik, tetap tenang dan aman. Namun kini, ‘Negeri Sunyi’ itu tak luput dari hantaman badai revolusi. Bahkan, merasakan dampak paling parah.
Hari itu, Jumat (4//2/2011), sebuah seruan protes yang akan digelar di Suriah muncul di laman Facebook. Aksi protes ini rencananya bakal berlanjut hingga Sabtu (5/2/2011), esok harinya.
Walau seruan ini mendapat sekitar 15.000 dukungan, namun gagal memobilisasi demonstran untuk turun ke jalan. Sebab, kampanye balasan secara online untuk mendukung pemerintah Suriah justru mendapatkan lebih banyak pendukung.
Ribal al-Assad, sepupu Presiden al-Assad yang diasingkan dan Direktur Organisation for Democracy and Freedom in Suriah yang berbasis di London, mengatakan orang-orang yang menyerukan aksi protes tersebut semuanya berbasis di luar negeri.
Dan, ia tak heran ketika tidak terjadi apa pun di Suriah. “Kampanyenya agak keterlaluan. Pertama, mereka memilih tanggal yang mengingatkan orang akan pemberontakan Ikhwanul Muslimin, peringatan Pembantaian Hama ke-29,” ujarnya sebagaimana dilansir Aljazeera.
Ribal menambahkan, orang-orang tidak ingin diingatkan tentang masa lalu. Mereka menginginkan perubahan dan kebebasan, namun dengan cara-cara damai.
“Simbol yang mereka gunakan di Facebook adalah kepalan tinju dengan latar warna merah seperti darah. Itu seperti orang yang mengajak perang sipil. Dan siapa orang berpikiran waras yang menginginkannya?”
Salah seorang “aktivis” Facebook yang menentang rencana protes tersebut mengaku tak bisa membayangkan, dan tak ingin unjuk rasa antipemerintah model Mesir menyebar ke Suriah.
“Saya mencintai negeri saya dan tidak ingin melihat orang-orang bentrok. Saya tak dapat membayangkan peristiwa yang terjadi di Mesir terjadi di Suriah, karena kami benar-benar menyukai presiden kami,” ujarnya.
Dalam membentuk kabinet, kata sang aktivis, al-Assad memanfaatkan 100 persen tenaga yang berasal dari semua kelompok. Tidak hanya Alawi, tapi juga Sunni, Kurdi dan Kristen. “Presiden menikah dengan Asma yang Sunni. Dia menunjukkan pada warganya bahwa kita adalah saudara.”
“Dialah satu-satunya presiden di kawasan Arab yang tidak menerima tawaran dari Israel. Saya dan sebagian besar warga Suriah tidak dapat menerima seorang presiden yang bergandengan tangan dengan Israel,” tegas si aktivis.
***
Dalam sebuah wawancara dengan Wall Street Journal akhir Januari 2011 lalu, Presiden al-Assad mengakui perlunya reformasi di Suriah, namun juga menyatakan negaranya “imun” dari kerusuhan ala Tunisia dan Mesir.
“Kami menghadapi lebih banyak situasi sulit daripada sebagian besar negara-negara Arab lain, walau demikian Suriah tetap stabil. Kenapa? Karena anda harus berhubungan erat dengan kepercayaan rakyat. Inilah inti masalah,” ujarnya.
“Ketika muncul perbedaan antara kebijakan anda dengan keyakinan dan kepentingan rakyat, maka akan muncul kevakuman yang menciptakan gangguan,” tandas Assad.
Namun, pelajaran dari Tunisia, Mesir, Yaman dan Libya nampaknya tak bisa diabaikan begitu saja. Warga Suriah telah menyaksikan apa yang terjadi di keempat negara tersebut. Kebebasan adalah perasaan yang cepat menular dan diinginkan banyak orang.

Nadim Houry, seorang peneliti Human Rights Watch (HRW) yang berbasis di Lebanon, mengatakan warga Suriah jauh lebih takut kepada pemerintahnya dan aparat keamanan ketimbang warga Mesir atau Tunisia.
“Kelompok-kelompok yang memobilisasi unjuk rasa di Suriah di masa lalu, telah membayar harga yang sangat mahal. Suku Kurdi diberangus pada 2004 ketika melakukan pemberontakan di Qamishli dan kelompok Ikhwanul Muslimin—khususnya di Hama—dibantai di awal 1980-an,” terang Houry.
Tragedi ini kemudian dikenal dengan Pembantaian Hama, di mana tentara Suriah membombardir Kota Hama pada 1982 dalam rangka menumpas pemberontakan Ikhwanul Muslimin; diyakini menewaskan sekitar 20.000 orang.
“Saya kira dalam hati warga Suriah, rezim represif diberlakukan karena diminta. Jika sesuatu (protes) terjadi, maka militer dan pasukan keamanan akan bersatu-padu memadamkannya. Inilah yang membuat kian tingginya ambang ketakutan,” kata Houry.
Di Suriah, demonstrasi dianggap ilegal berdasarkan undang-undang darurat, dan aktivis-aktivis politik ditahan secara reguler. Menurut Haitham Maleh Foundation, sebuah lembaga HAM Suriah yang berbasis di Brussels, diperkirakan sekitar 4.500 orang “tahanan opini” yang mendekam di penjara-penjara Suriah.
‘Kerajaan Sunyi’
Ketika laman Facebook menyerukan akan menggelar demonstrasi di seluruh kota di Suriah awal Februari 2011 lalu, lebih dari 10 aktivis mengadu ke HRW bahwa mereka “diteror” oleh dinas keamanan agar tidak memobilisasi massa.
“Selama bertahun-tahun, Suriah telah menjadi ‘Kerajaan Sunyi’. Ketakutan mendominasi kehidupan warga, selain kemiskinan, kelaparan dan penghinaan,” kata Suhair Atassi, salah seorang aktivis di Damaskus.
Profesor politik Timur Tengah di London School of Economics, Fawas Gerges, menabalkan Suriah sebagai salah satu negara Timur Tengah yang paling tidak mungkin dihantam protes karena struktur kekuasaannya.
Kesetiaan tentara Suriah berbeda dengan di Tunisia—di mana militer dengan cepat menjadi salah satu pendukung utama penggulingan presiden—dan di Mesir, di mana tentara tidak berpihak.
“Militer di Suriah adalah struktur kekuasaan,” kata Gerges. “Militer akan bertarung habis-habisan. Akan terjadi pertumpahan darah… tentara akan berjuang tidak hanya untuk melindungi institusinya, tetapi juga rezim itu sendiri.”
Walaupun ada orang yang berani melawan militer dan Dinas Intelijen Suriah (Mukhabarat) yang ditakuti, para pengamat menganggap selera untuk perubahan kepemimpinan negara tidak begitu besar.
Sebagian besar warga Suriah cenderung mendukung Bashar al-Assad, presiden yang berkuasa sejak tahun 2000 setelah kematian ayahnya, Hafez al-Assad—yang telah berkuasa selama 30 tahun.
“Salah satu faktor penting adalah bahwa dia populer di kalangan kaum muda,” kata Direktur Pusat Studi Timur Tengah di Universitas Oklahoma, Joshua Landis.
“Tidak seperti Hosni Mubarak yang berusia 82 tahun, Bashar al-Assad masih muda. Dan kaum muda cukup bangga padanya. Mereka mungkin tidak menyukai rezim, korupsi dan banyak hal, namun mereka cenderung menyalahkan ini pada orang-orang di sekelilingnya.”
“Saya tidak mempunyai sesuatu untuk menentang presiden. Isu-isu utama yang perlu dibahas adalah kebebasan berbicara dan berekspresi, juga hak asasi manusia (HAM). Saya percaya presiden dan istrinya sedang mengupayakan hal itu,” ujarnya kepada Aljazeera.
“Banyak hal telah berubah sejak ia berkuasa. Apakah itu terkait dengan pembangunan jalan, kenaikan gaji, dan lain sebagainya. Namun, ia (Assad) takkan mampu mengubah negara secara dramatis dalam sekejap mata,” lanjutnya.
Sikap keras al-Assad terhadap Israel, yang secara teknis menjadikan Suriah dalam perang, juga memberikan kontribusi pada popularitasnya, baik di dalam negeri dan di kawasan. (bersambung)

Leave a reply to Suriah, ‘Negeri Sunyi’ yang Bergolak (5-habis) – Catatan Silang Cancel reply