Suriah, ‘Negeri Sunyi’ yang Bergolak (2)

Masyarakat multiagama


Suriah yang terdiri dari beragam komunitas agama dan kelompok etnis, membedakannya dengan Mesir dan Tunisia, yang sebagian besar populasinya homogen.

Khawatir akan munculnya ketegangan berbasis agama, sebagian besar warga Suriah percaya bahwa tekanan Partai Baath yang berkuasa pada sekularisme merupakan pilihan terbaik.

“Rezim di Suriah menampakkan diri sebagai penyangga bagi berbagai komunitas, yang intinya menyatakan ‘jika kami pergi, maka anda akan diserahkan kepada serigala’. Inilah yang membuatnya mampu memobilisasi sebagian besar penduduk,” kata Houry.

Muslim Sunni mencapai sekitar 70 persen dari 22 juta populasi, namun Alawi—sekte Syiah  yang dianut Presiden al-Assad—memainkan peran yang kuat meskipun menjadi minoritas, hanya 10 persen. Kristen dan Kurdi adalah minoritas lain yang cukup besar.

Menurut Landis, Alawi dan Kristen cenderung menjadi pendukung utama al-Assad. Jika rezimnya jatuh, kebanyakan Alawi akan kehilangan pekerjaan. Mereka kembali menoleh ke belakang ketika Ikhwanul Muslimin menjadikan mereka sebagai sasaran karena dianggap kafir dan bahkan non-Arab.

Suriah pada dasarnya adalah negara satu partai, diperintah oleh Partai Baath sejak 1963. Banyak kelompok-kelompok politik dilarang.

Namun, kurangnya kebebasan politik tidak menjadi perhatian utama masyarakat. Warga Suriah enggan bicara tentang demokrasi, tapi mengeluhkan korupsi, juga menginginkan keadilan dan kesetaraan.

Generasi muda Suriah didepolitisasi, dan mereka tidak terlibat di partai politik apa pun. Mereka melihat politik sebagai sesuatu yang berbahaya, sebagaimana yang diajarkan oleh orang tua mereka.

Demo yang memantik perang


Hanya sebulan setelah kegagalan demonstrasi yang digalang di Facebook, Rabu (16/3/2011), sekitar 150 demonstran berkumpul di sebuah alun-alun di Ibukota Damaskus—tak jauh dari kompleks kantor Kementerian Dalam Negeri.

Para demonstran menuntut pembebasan ribuan tahanan politik (tapol) yang mendekam di penjara-penjara di seluruh Suriah. ”Rencana pembebasan tapol hanya rumor belaka… harapan kami sudah pupus,” teriak demonstran sebagaimana dilaporkan kantor berita Reuters.

Di tempat yang sama, tak jauh dari alun-alun, pendukung pemerintah menggelar demo tandingan. Mereka juga meneriakkan yel-yel bernada pembelaan terhadap sang presiden, “Kami membelamu (al-Assad)… dengan nyawa dan darah kami.”

Kementerian Dalam Negeri Suriah menuding para provokator mencoba membuat kekacauan. “Ada beberapa orang yang mengambil keuntungan di antara warga ini dan mencoba meneriakkan sejumlah slogan,” kata Jenderal Muhammad Hassan al-Ali, Pejabat Bagian Tuntunan Moral Kementerian Dalam Negeri.

Aparat keamanan menahan sedikitnya 35 orang karena dianggap menentang larangan berunjuk rasa yang diterapkan pemerintah Suriah.

Dua hari kemudian, Jumat (18/3/2011), demonstrasi melebar ke Kota Dara’a, Suriah selatan. Kali ini, pasukan keamanan Suriah menggunakan gas air mata dan tembakan senjata api untuk membubarkan pengunjuk rasa antipemerintah. Akibatnya, sebagaimana dilaporkan AFP, dua orang tewas dalam demo usai shalat Jumat tersebut.

Dalam waktu sepekan kemudian, unjuk rasa antipemerintah mulai merebak ke seluruh Suriah. Tak hanya di Damaskus, tapi juga Dara’a, Homs, Harasta, Latakia dan Aleppo. Demonstrasi menentang al-Assad di berbagai wilayah dalam sepekan tersebut menewaskan sekitar 30 orang.

Demonstrasi antipemerintah Suriah di Khirbet, al-Ghazaleh, Daraa. (Source: Abc.net.au)
Demonstrasi antipemerintah Suriah di Khirbet, al-Ghazaleh, Daraa. (Source: Abc.net.au)

Hal ini membuat Washington bereaksi, dan mengutuk kekerasan terhadap demonstran di Suriah. Bahkan, Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon, menyerukan penyelidikan mendalam untuk menahan mereka yang bertanggung jawab secara hukum. Presiden Bashar al-Assad juga didesak untuk melakukan reformasi politik.

Menanggapi hal tersebut, pemerintah Suriah menjanjikan reformasi politik untuk memenuhi tuntutan demonstran dan akan mengkaji kemungkinan pencabutan keadaan darurat. Suriah menerapkan keadaan darurat sejak 1963, yang memberi aparat keamanan kekuasaan yang sangat luas.

Jurubicara Kepresidenan Suriah, Bouthaina Shaaban, menuding provokator dari luar sebagai penyulut gejolak. Dia juga membantah adanya perintah kepada aparat keamanan untuk menembak demonstran.

Walau demikian, Shaaban menganggap tak ada kekeliruan dalam tindakan aparat keamanan. ”Kita tidak boleh mencampuradukkan perilaku perorangan dan keinginan serta tekad Presiden Bashar al-Assad dalam menggerakkan Suriah kepada kemakmuran yang lebih tinggi,” ujarnya sebagaimana dilansir kantor berita Suriah, SANA.

***

Unjuk rasa rakyat yang dibalas dengan tembakan senjata api hampir tiap hari berlangsung di Suriah. Dalam kurun waktu sebulan saja, hampir 130-an warga sipil tewas.

Konflik yang kian memanas dan menelan korban jiwa membuat rakyat Suriah membentuk kelompok perlawanan (oposisi) dan angkat senjata. Perang saudara (civil war) pun tak terelakkan lagi.

Jumlah korban tewas maupun luka, baik dari kubu oposisi maupun militer pemerintah terus berjatuhan. Target pembebasan tapol berubah menjadi penggulingan rezim Bashar al-Assad.

Walau demikian, Duta Besar Suriah untuk Indonesia, Bassam al-Khatib, menampik berita-berita tentang konflik berdarah yang tengah berlangsung di negerinya. Berita tentang Suriah, kata Bassam, palsu dan sengaja dibuat pihak-pihak luar yang tak ingin melihat Suriah dalam keadaan tenang dan damai.

“Seperti Anda ketahui, dunia teknologi informasi termasuk media massa dipegang oleh Barat, terutama Amerika Serikat dan Eropa. Maka, dengan mudah mereka melaporkan telah terjadi “sesuatu” di Suriah. Padahal, tidak ada apa-apa di Suriah!” tegasnya, ketika ditemui di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Menurut dia, Suriah adalah negara Arab yang kaya dengan peradaban dan kebudayaan. Memiliki sejarah panjang dalam perkembangan Islam di seluruh dunia, terutama di Eropa. Maka wajar saja jika banyak pihak yang ingin menjadikan negeri ini dalam keadaan kacau.

Di Suriah, lanjut Bassam, tidak pernah terjadi demonstrasi besar-besaran seperti yang diberitakan media-media asing. Apalagi pembunuhan terhadap rakyat.

Justru yang terjadi adalah demonstrasi yang mendukung pemerintahan Presiden Bashar al-Assad. “Presiden Bashar adalah pemimpin muda yang cerdas, cakap dan dicintai rakyat,” ujarnya.

Sayangnya, tegas Bassam, tidak hanya media asing saja yang memunculkan berita-berita palsu tentang Suriah, namun kantor-kantor berita Arab juga ikut-ikutan mempropagandakan kebohongan serupa. “Warga Suriah terdiri dari beragam agama, suku bangsa, ras, aliran politik maupun sekte. Namun, mereka adalah satu bangsa yang mencintai pemimpinnya.”

Pendukung Presiden Suriah Bashar al-Assad berunjukrasa di alun-alun Kota Damaskus. (Source: Reuters)
Pendukung Presiden Suriah Bashar al-Assad berunjukrasa di alun-alun Kota Damaskus. (Source: Reuters)

Di tengah maraknya perlawanan kelompok oposisi terhadap militer pemerintah, muncul berita mengejutkan di situs WikiLeaks.

Laman daring yang khusus mengungkap dokumen rahasia negara dan perusahaan kepada publik ini melansir sebuah kabel rahasia yang mengindikasikan keterlibatan Amerika Serikat dalam unjukrasa besar-besaran di Suriah untuk menggulingkan Presiden Bashar al-Assad.

Kabel rahasia tersebut dipublikasikan Senin (18/4/2011), yang menyebut Departemen Luar Negeri AS secara diam-diam telah mendanai kelompok oposisi Suriah dengan hampir 6 juta dolar AS sejak 2006 lalu.

Pendanaan ini dimulai sejak Pemerintahan George W Bush pada 2005, dan dilanjutkan oleh penggantinya, Barack Obama. Pada Mei 2010, Obama menguatkan sanksi yang dikeluarkan Bush terhadap Suriah dan menuduh Bashar mendukung terorisme.

Jurnalis WikiLeaks, Wayne Madsen, menyatakan AS dan negara sekutunya berusaha untuk memengaruhi pergolakan di dunia Arab. “Ada upaya sadar oleh Amerika dan sekutunya untuk memengaruhi hasilnya,” kata dia.

“Jumlah 6 juta dolar mungkin tak terlihat banyak, tapi itu merupakan puncak gunung es. Ini adalah mata uang resmi dari Departemen Luar Negeri. Kita tidak tahu berapa banyak uang yang telah dicuci melalui badan-badan lainnya,” imbuh Madsen.

Tentara Pembebasan Suriah

Perlawanan bersenjata yang dilakukan oposisi Suriah mengerucut seiring dengan terbentuknya The Free Syrian Army atau Tentara Pembebasan Suriah (FSA).

FSA kini menjadi kelompok oposisi bersenjata utama—di mana prajuritnya terdiri dari anggota militer Suriah yang membelot maupun para milisi. Secara resmi, FSA dibentuk pada 29 Juli 2011 oleh sejumlah desertir dan diumumkan melalui tayangan video di internet.

Sebulan kemudian, pemimpin FSA, Kolonel Riad al-Asaad, menyatakan FSA akan bekerjasama dengan demonstran untuk menurunkan rezim penguasa. Ia juga memperbolehkan serangan terhadap aparat militer Suriah yang menyerang rakyat sipil.

Pasukan Tentara Pembebasan Suriah (FSA). (Source: Reuters)
Pasukan Tentara Pembebasan Suriah (FSA). (Source: Reuters)

Pada Oktober 2011, Riad kembali menegaskan bahwa FSA tidak memiliki tujuan politik apa pun, kecuali penggulingan Bashar al-Assad dari tampuk kekuasaan. Walau perang saudara kian berkecamuk di Suriah, namun Riad mengklaim tak ada konflik sektarian.

Ia juga menjamin para perwira militer senior dari kalangan Alawi—namun menentang pemerintah—takkan mendapat pembalasan, jika rezim Bashar berhasil dijatuhkan.

Berdasarkan laporan sejumlah media, hingga awal Desember 2011, diperkirakan sekitar 15.000 – 25.000 serdadu Suriah yang membelot dan bergabung dengan FSA. Sementara sumber intelijen AS memperkirakan jumlah pasukan FSA lebih dari 10.000 orang. Namun, berapa jumlah pasti pejuang FSA, hingga kini belum diketahui.

FSA beroperasi di seluruh Suriah, baik di daerah perkotaan maupun pedesaan. Di wilayah barat laut, pasukan FSA aktif di Idlib dan Aleppo. Sementara di pusat, mereka aktif di Homs, Hama, dan Rastan. Untuk wilayah pesisir, FSA beroperasi di sekitar Latakia. Di selatan mereka aktif di Dara’a dan Houran, wilayah timur di Dayr al-Zawr dan Abu Kamal.

Dan kini, operasi FSA sudah mulai merambah sejumlah area di Damaskus, Ibukota Suriah. Konsentrasi besar-besaran pasukan FSA juga mulai nampak di kawasan pusat seperti Homs, Hama dan sekitarnya. Tak kurang dari sepuluh batalyon tempur aktif di sana. (bersambung)

Posted in

2 responses to “Suriah, ‘Negeri Sunyi’ yang Bergolak (2)”

  1. Suriah, ‘Negeri Sunyi’ yang Bergolak (1) | Catatan Silang Avatar

    […] Sikap keras al-Assad terhadap Israel, yang secara teknis menjadikan Suriah dalam perang, juga memberikan kontribusi pada popularitasnya, baik di dalam negeri dan di kawasan. (bersambung) […]

    Like

  2. […] Sikap keras al-Assad terhadap Israel, yang secara teknis menjadikan Suriah dalam perang, juga memberikan kontribusi pada popularitasnya, baik di dalam negeri dan di kawasan. (bersambung) […]

    Like

Leave a comment