Senjata kimia hingga bisnis energi
Tahun 2011 lalu, Badan Intelijen AS, CIA, dalam laporannya ke Kongres menyatakan Suriah selama bertahun-tahun telah memiliki senjata kimia (chemical weapon).
Menurut CIA, senjata kimia yang dikuasai Angkatan Darat Suriah dapat digunakan untuk menyerang lawan lewat bom udara, rudal jarak jauh dan meriam.
Laporan serupa juga pernah disodorkan CIA kepada Kongres pada 2006 silam, di mana Suriah ditengarai memikili senjata gas Sarin yang dapat ditembakkan melalui pesawat tempur atau rudal jarak jauh.
“Suriah sedang mengembangkan senjata gas VX, yaitu senjata kimia yang lebih beracun dan mematikan. Senjata kimia ini akan digunakan Presiden Assad untuk menyerang apabila terjadi invasi asing,” kata sejumlah pengamat militer.
Ancaman tersebut merupakan upaya penangkal Suriah dalam menghadapi kemungkinan terburuk dalam menghadapi serangan negara-negara Barat. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Suriah, Jihad Makdissi, menyatakan Damaskus tidak akan menggunakan senjata kimia terhadap warganya sendiri.
“Kami tidak akan menggunakan senjata kimia atau senjata biologi… apa pun yang terjadi di kemudian hari. Saya tegaskan, tak ada penggunaan senjata kimia atau biologi,” kata Makdissi dalam konferensi pers di televisi pemerintah Suriah, Senin (23/7).
“Semua jenis senjata itu—kimia dan biologi—berada di gudang penyimpanan, di bawah pengamanan serta pengawasan langsung angkatan bersenjata Suriah. Senjata ini tidak akan digunakan, kecuali jika Suriah diserang agresi eksternal,” tegasnya.
Keputusan Suriah untuk mengungkapkan keberadaan senjata kimianya diduga karena rezim penguasa mulai putus asa dan sangat tergoncang dengan keberhasilan oposisi menguasai sejumlah wilayah di negara tersebut.
Menurut seorang pejabat Suriah yang enggan disebutkan namanya, dengan pengumuman soal senjata kimia ini, pemerintah (Bashar al-Assad) nampak berupaya untuk menekan isolasi internasional dan “menunda” kemungkinan adanya serangan dari AS, Turki maupun Israel.
Lalu, benarkah Suriah memiki senjata kimia atau senjata pemusnah massal? Masih terekam jelas dalam ingatan orang bagaimana AS dan sekutunya menginvasi Irak hanya gara-gara tuduhan palsu kepemilikan senjata pemusnah massal.
Nyatanya, walau Negeri Seribu Satu Malam itu hampir luluh-lantak, senjata pemusnah massal yang dicari-cari tak jua ditemukan di seantero Irak. Sementara, dampak agresi AS dan kawan-kawan, hingga kini belum pulih sepenuhnya. Irak menanggung beban konflik sektarian berkepanjangan.
Barack Obama dan sejumlah petinggi Negara Paman Sam—hanya berdasarkan laporan sejumlah media yang menuding Suriah memproduksi senjata kimia—berlomba-lomba memperingatkan Suriah agar tak main-main dengan senjata mematikan tersebut.
“Dunia tengah mengawasi… penggunaan senjata kimia tak bisa dibenarkan. Jika Anda (Suriah) salah menggunakannya, akan ada konsekuensi-konsekuensi yang bakal Anda terima,” ancam Obama.

Beberapa petinggi Suriah menolak tudingan bahwa militer mereka memiliki atau menyimpan senjata kimia. Qadri Jamil, misalnya. Menteri Perdagangan Domestik ini menyebut Barat hanya mencari-cari dalih untuk melakukan intervensi langsung ke Suriah. “Jika cara ini tidak berhasil, mereka akan mencari cara lain,” kata Jamil kepada Xinhua News Agency.
Sharif Shihadeh, anggota parlemen Suriah, mengatakan “jualan” senjata kimia ini takkan melebihi tekanan politik negara-negara Barat dan kawasan (negara-negara Arab) dalam upaya mereka meraih target politik dan agenda strategis.
Washington, kata Shihadeh, tahu jika Suriah tidak memiliki senjata tersebut. “Isu-isu ini bertujuan untuk memperkuat sikap Barat dalam menghadapi Rusia yang mendukung pemerintah Suriah.”
Sementara itu, Afif Delleh, pakar politik Suriah, sependapat dengan Shihadeh. Menurutnya, pembicaraan tentang senjata kimia hanyalah sesuatu yang dibesar-besarkan media untuk meraup keuntungan politik di meja perundingan.
Dalam pandangan Delleh, pemerintah Suriah takkan bertindak bodoh menggunakan senjata kimia untuk menyelesaikan pertempuran. “Selain dilarang, penggunaan senjata itu hanya akan menciptakan bencana bagi warga sipil,” ujarnya.
Menurut sejumlah analisis, AS sengaja memunculkan isu senjata kimia ini karena mengakui kemunculan milisi Alqaedah di Suriah, yang di kemudian hari bakal merepotkan sang Negara Adidaya. Apalagi jika senjata itu sampai jatuh ke tangan kelompok yang disebut AS sebagai teroris tersebut, tentu akan membahayakan Israel.
***
Satu faktor penting yang memengaruhi perpetaan geopolitik di Timur Tengah adalah peningkatan dramatis cadangan gas alam di kawasan itu.
Kontrol terhadap sumber daya gas alam tidak hanya akan memengaruhi masa depan negara-negara Arab, namun juga Rusia sebagai produsen saingan serta Uni Eropa dan Cina sebagai konsumen.
Mengapa penguasaan bisnis gas alam menjadi sangat penting untuk diperebutkan? Uni Eropa telah memandatkan seluruh negara anggotanya untuk mengurangi emisi karbon pada 2020 mendatang.
Sejauh ini, gas alam dinilai sebagai sumber energi yang paling ramah lingkungan dalam hal emisi karbon. Gas alam dapat mengurangi emisi hingga 60 persen lebih ketimbang batubara. Sementara sumber energi lain kehilangan popularitas dan mulai ditinggalkan.
Negara-negara Eropa sangat sadar cadangan minyak bumi di dunia telah menipis. Sedangkan energi nuklir mulai dipertanyakan terkait bencana pembangkit listirik tenaga nuklir di Fukushima, Jepang.
Faktor menguntungkan lain dalam penggunaan gas alam adalah soal ekonomi. Gas alam dinilai memakan biaya produksi lebih sedikit dibanding sumber-sumber energi alternatif lain.
Alhasil, permintaan terhadap gas alam di Uni Eropa meningkat tajam belakangan ini. Uni Eropa juga segera menjadi pasar raksasa bagi negara-negara produsen gas alam.
Lantas, apa kaitan bisnis gas alam ini dengan konflik berkepanjangan di Suriah? Pada Juli 2011, laman CNN melansir adanya kesepakatan kerja sama antara Suriah, Iran, dan Irak dalam pembangunan pipa gas alam.
Pipa raksasa itu menelan biaya 10 miliar dolar AS dengan masa pengerjaan selama tiga tahun. Pipa tersebut akan membentang dari Pelabuhan Assalouyeh (dekat ladang gas alam terbesar Iran, South Pars) hingga Damaskus (Suriah) melewati sebagian wilayah Irak.
Iran disebut akan mengembangkan pipa tersebut hingga pelabuhan Mediterania, Lebanon, sebagai pintu gerbang ke pasar Eropa. Dalam kesepakatan tersebut, Suriah dan Irak bisa membeli gas alam Iran yang diproduksi di South Pars. Untuk diketahui, South Pars adalah ladang gas alam terbesar di dunia dengan cadangan mencapai 51 triliun meter kubik.
Yang jadi masalah, ladang gas tersebut terletak di wilayah perairan dua negara; Iran dan Qatar. Iran menguasai 9.700 kilometer persegi, sedangkan Qatar menguasai sekitar 6.000 kilometer persegi dari total luas ladang.
Sebagai salah satu musuh bebuyutan Iran di kawasan, Qatar boleh jadi merasa terancam dengan kesepakatan proyek pipa gas alam tersebut. Sejauh ini, Qatar dituding sebagai salah satu penyuplai utama pasukan oposisi di Suriah.
Qatar juga disebut punya rencana sendiri terkait pengelolaan gas alam di South Pars, dan enggan bergabung dalam jalur pipa gas alam Iran-Irak-Suriah dengan Lebanon sebagai pintu gerbang.
Qatar lebih suka dengan jalur Turki sebagai pintu gerbang ke pasar Eropa. Selain membangun jalur Turki, Qatar juga disebut punya skenario alternatif dengan menggunakan Yordania sebagai pintu gerbang ke Eropa.

Analis terkemuka Asia Times, Pepe Escobar, mengatakan, Qatar tengah mengupayakan ekspor gas raksasa lewat Aqaba di Teluk Yordan. Qatar akan memanfaatkan gerakan perlawanan Ikhwanul Muslimin di Yordania untuk mengancam pemerintah kerajaan.
“Bisnis gas alam terlihat jelas berada di balik konflik bersenjata yang berlarut-laruh di Suriah. Tujuan utama Qatar adalah menggagalkan proyek pipa kerjasama Iran-Irak-Suriah senilai 10 miliar dolar AS itu,” demikian analisis Escobar.
“Jika ada pergantian rezim di Suriah, maka akan menjadi lebih mudah bagi Qatar. Jika Ikhwanul Muslimin dengan dukungan Qatar mampu menggulingkan rezim Assad, maka pipa gas alam Qatar akan segera berdiri dan itu akan mempermudah ekstensi pipa tersebut ke Turki,” tandasnya.
Namun, pergantian rezim di Suriah tak bakal semulus itu. Dampak penggulingan Bashar al-Assad juga harus jadi perhatian. Sejumlah kalangan khawatir jika penggulingan Assad bakal menciptakan konflik baru nan berkepanjangan ala Irak. Apalagi secara sosiokultural, Suriah sangat mirip dengan Irak. (bersambung)

Leave a reply to Suriah, ‘Negeri Sunyi’ yang Bergolak (3) | Catatan Silang Cancel reply