Suriah, ‘Negeri Sunyi’ yang Bergolak (5-habis)

Quo Vadis Suriah?

Dalam beberapa pekan terakhir, dilaporkan posisi Assad agak goyah. Pasukan loyalisnya telah kehilangan kendali di sejumlah wilayah.

Pasukan oposisi yang didukung dunia internasional mampu menyerang titik-titik rawan dengan meledakkan bom dan berhasil menewaskan beberapa pejabat kunci pendukung Assad.

Di antaranya Menteri Pertahanan, Daoud Rajha; kakak ipar presiden, Asef Shawkat yang menjabat Kepala Staf Militer Suriah; dan Hassan Turkmani, mantan Menhan dan Penasihat Wakil Presiden Farouk Sharaa.

Presiden Assad segera mengangkat Fahd Jassem al-Freij, bekas Kepala Staf Militer yang pernah sukses menaklukkan Idlib di utara, sebagai Menhan baru.

Freij adalah loyalis Assad yang dikenal keras dan tegas. “Tentara (Suriah) takkan goyah, dan akan memotong setiap tangan yang mengancam keamanan bangsa dan negara,” demikian ucapan dia yang terkenal.

Walau kekuatan militer dan persenjataan tempur Suriah agak jadul dibanding negara-negara Barat, namun kemampuan tentaranya dalam peperangan tetap menjadi perhitungan AS dan sekutunya.

Kekuatan angkatan darat Suriah masih mumpuni dan sangat diperhitungkan. Walau terjadi beberapa pembelotan tentara, gudang-gudang senjata masih dikuasai loyalis presiden. Pasukan Assad cukup berpengalaman dalam sejumlah pertempuran, khususnya saat perang melawan Israel.

Menurut para analis intelijen, apabila Presiden Assad berhasil dijatuhkan, maka banyak wilayah yang akan jadi daerah tak bertuan. Tak jelas siapa yang berkuasa dan mengontrolnya. Suriah akan mirip Lebanon, ketika merebak konflik sektarian tiga dasawarsa silam. Bahkan, diperkirakan lebih parah lagi.

Pakar Timur Tengah, Vali Reza Nasr, memprediksi akan terjadi pembersihan etnis, pengungsi akan semakin mengalir ke negara-negara tetangga. “Akan terjadi bencana kemanusiaan dan tumbuh suburnya kelompok teroris Alqaedah,” katanya di laman The New York Times.

Menurut Dekan Kajian Internasional Universitas Johns Hopkins ini, upaya dan dukungan Barat untuk menjatuhkan Assad merupakan tujuan yang salah dan takkan mengakhiri perang. Korban yang akan jatuh di kalangan Syiah diperkirakan akan besar di negara dengan penduduk mayoritas Sunni tersebut.

Kejatuhan Assad juga diperkirakan akan menyebabkan pertumpahan darah yang lebih besar lagi. “Iran jelas pada posisi sulit, berada di jalan buntu, tidak dapat meninggalkan Assad. Tapi juga tidak dapat menyelamatkannya,” kata Vali.

Arus pengungsi Suriah akan tumpah ruah ke Lebanon, Yordania, Irak dan Turki. Lebanon dan Irak agak rentan, karena mereka juga memiliki persaingan sektarian dan komunal terkait dengan perjuangan Sunni-Alawi berebut kekuasaan.

“Bahkan jika Assad mundur secara sukarela pun, mesin militer Alawi dan sekutu sektariannya akan terus berjuang mempertahankan tiap keping wilayah mereka,” imbuh Vali.

Rakyat Suriah, korban keganasan perang. (Source: Photo.sf.co.ua)
Rakyat Suriah, korban keganasan perang. (Source: Photo.sf.co.ua)

Konflik hanya akan beres apabila Amerika dan negara Barat lainnya—termasuk Rusia dan Iran—bersama-sama mengelola kejatuhan Assad, sekaligus menetralisir kemungkinan meluasnya konflik ke negara-negara tetangga Suriah.

Walau demikian, intervensi AS juga diragukan bakal dapat membereskan masalah. Beberapa pihak bahkan meragukan AS berani mengirim pasukan tempurnya ke Suriah. “Konflik sektarian macam di Irak merupakan momok bagi AS,” tulis Brock Dahl dalam kolomnya di laman The Christian Science Monitor.

Mantan atase Kedubes AS di Irak ini mengaku dapat memahami mengapa saat ini Amerika ragu-ragu melakukan intervensi militer ke Suriah. “Potensi kekerasan seperti yang dilakukan Ikhwanul Muslimin di Mesir dan peperangan tiada henti di Libya—bagaimanapun—pasti menghantui pikiran orang-orang yang bertanggungjawab atas keputusan seperti ini,” ujarnya.

Sementara itu, Thomas Lauren Friedman menyebut Irak sebagai pengalaman pahit AS. Tentu saja AS tak ingin mengulang kejadian serupa di Suriah.

“Saya tidak akan menganjurkan intervensi AS di Suriah atau di negara Arab lainnya, warga Amerika juga takkan mendukungnya. Suriah akan mengejutkan kita dengan caranya sendiri menyelesaikan krisis,” kata kolumnis kenamaan The New York Times ini.

Friedman menilai para pihak yang mendesak AS melakukan intervensi di Suriah—dan mencela sikap Obama yang tak berani bertindak—sebagai kumpulan orang yang tidak realistis dengan keadaan. “Mereka tak mengerti apa yang bakal terjadi jika Amerika melakukan intervensi,” ujarnya.

Intervensi AS ke Suriah, kata Friedman, akan memicu perang sipil sebagaimana di Irak—di mana Sunni, Syiah dan Kurdi terus merecoki pemerintahan baru yang dibentuk.

Alhasil, lagi-lagi warga sipil tak berdosa yang paling menderita dan merasakan dampaknya. Pembantaian etnis akan marak dan semakin mengerikan. Minoritas Syiah akan diburu oleh mayoritas Sunni jika berhasil meraih kekuasaan. Sebagaimana di Irak, ketika mayoritas Syiah berhasil menjungkalkan minoritas Sunni dari tampuk kekuasaan, Sunni menjadi buruan Syiah.

Namun, kata Friedman, kejutan akan terjadi jika seluruh kelompok oposisi Suriah—yang dilembagakan dalam SNC—benar-benar sepakat membentuk kesatuan politik, dan mau merangkul kaum Alawi moderat dan Kristen yang mendukung Assad.

“Jika seluruh elemen ini sepakat untuk membangun sebuah tatanan baru bersama-sama, yang melindungi hak-hak mayoritas dan minoritas, maka hasilnya akan indah,” ujarnya.

“Poros tirani Assad-Rusia-Iran-Hizbullah akan digantikan oleh rezim Suriah baru yang demokratis. Bukan rezim yang mengacaukan Suriah.”

Dengan demikian, badai revolusi Arab Spring yang menghantam Suriah, tak lagi memakan korban.*

 

 

Posted in

One response to “Suriah, ‘Negeri Sunyi’ yang Bergolak (5-habis)”

  1. […] Namun, pergantian rezim di Suriah tak bakal semulus itu. Dampak penggulingan Bashar al-Assad juga harus jadi perhatian. Sejumlah kalangan khawatir jika penggulingan Assad bakal menciptakan konflik baru nan berkepanjangan ala Irak. Apalagi secara sosiokultural, Suriah sangat mirip dengan Irak. (bersambung) […]

    Like

Leave a reply to Suriah, ‘Negeri Sunyi’ yang Bergolak (4) – Catatan Silang Cancel reply