Menyemaikan Islam di Pedalaman (2-habis)

Ketua Takmir Masjid Arrahman Suyatno mengaku senang dengan adanya safari dakwah yang digelar di kampungnya itu.

Pria Jawa yang sudah 14 tahun bermukim di Datah Bilang ini mengatakan, mualaf di kampungnya membutuhkan banyak bimbingan soal keislaman. “Apalagi di kampung kami ini minim guru mengaji,” ujarnya.

Di Datah Bilang hanya ada satu guru mengaji yang merangkap imam tetap Masjid Arrahman, seorang lelaki tua berusia 64 tahun bernama H Jahran. Kakek asal Banjarmasin ini sudah dua tahun menjadi imam tetap di kampung itu.

Menurut Suyatno, H Jahran butuh penerus yang akan melanjutkan misinya dalam pembinaan agama Islam di Datah Bilang. Hingga kini, belum ada satu pun yang berhasil dididik menjadi kader dakwah. Karenanya, kedatangan rombongan safari dakwah dari Pesantren Assalam juga dimanfaatkan oleh pengurus masjid untuk meminta bantuan tenaga dakwah.

Ustaz Arief berjanji akan memenuhi permintaan tersebut. Ia bahkan mendorong warga agar menyekolahkan putra-putri mereka di Pesantren Assalam untuk dikader sebagai calon dai. “Dengan adanya putra-putri Datah Bilang yang sekolah di pesantren, maka program dakwah di kampung ini akan berkelanjutan,” kata Arief.

Pengusiran membawa berkah

Bermula pada Agustus 1991, ketika Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kalimantan Timur menugaskan Ustaz Arief Heri Setyawan untuk menjadi dai pembangunan di Kecamatan Barong Tongkok, Kabupaten Kutai. Kini kabupaten ini menjadi Kutai Barat, akibat pemekaran wilayah.

Saat mengawali tugasnya, Arief bertempat tinggal di asrama tua Angkatan Darat yang dibangun sekitar 1950-an. Asrama ini dulunya merupakan markas TNI dalam peristiwa Dwikora (ganyang Malaysia).

Kondisi asrama itu bisa disebut jauh dari kata layak. Dindingnya tak utuh lagi, dan bocor di sana-sini. “Walau begitu, alhamdulillah saya bersyukur. Inilah yang memotivasi semangat dalam menjalankan tugas dakwah,” kata Arief.

Ia pun memulai dakwah dengan keliling kampung, menyampaikan tentang Islam dari pintu ke pintu rumah warga. Arief baru pulang ke asrama tentara sore hari, sambil membawa anak-anak yang mau dididik dan dibina dengan ajaran Islam. Hal itu berlangsung lebih dari satu tahun.

Tak dinyana, di tengah-tengah ramainya santri yang mengaji di sore hari, Arief didatangi salah seorang pejabat Komando Rayon Militer (Koramil) setempat. Memasuki ruang shalat tanpa melepas sepatunya, sang komandan langsung mengultimatum Arief untuk pindah dari asrama.

Tak mau berulah dan berkonfrontasi dengan pejabat militer, Arief mematuhi perintah tersebut. Ia kemudian menuturkan peristiwa itu kepada sejumlah warga yang menitipkan anak mereka di asrama. “Justru pengusiran itu berbuah hikmah,” tuturnya. “Banyak warga yang kemudian rela mewakafkan tanah untuk dijadikan pesantren.”

Setelah melalui berbagai pertimbangan, tanah di Arya Kemuning pun dipilih sebagai lokasi pesantren. Tanah wakaf yang masih berupa rawa itu dibersihkan warga secara gotong-royong. Dalam sepekan, bangunan sederhana dari kayu dan papan beratap daun nipah berukuran 8 x 8 meter persegi tegak berdiri.

Bangunan dibagi menjadi asrama dan mushala. Pondok Pesantren Assalam Arya Kemuning, demikian nama resmi yang disematkan pada pesantren. Di situlah Arief dengan intens membina para santri dan tetap melakukan dakwah keliling kampung.

Lokasi Pesantren Assalam saat itu dapat dibilang berada di tengah-tengah wilayah non-Muslim. Namun, selama pesantren berdiri, tidak pernah terjadi gesekan atau konflik dengan warga sekitar. Sebagian besar penghuni asli Kampung Barong Tongkok adalah Suku Dayak Tunjung dan Dayak Benuaq yang beragama Katolik. Ada juga warga Dayak asli yang masih teguh memegang tradisi animisme.

Kegiatan dakwah Islam saat itu sangat memprihatinkan. Beluma ada dai atau lembaga dakwah yang terlibat dalam syiar Islam di sana. Arief termasuk dai pelopor di pedalaman Kutai Barat.

“Sarana fisik dan infrastruktur belum ada dan tidak seramai sekarang. Jalan ke kampung-kampung atau penghubung antarkecamatan masih berlumpur. Bahkan, ada beberapa kampung yang hanya bisa dicapai melalui sungai,” katanya.

Perekonomian masih terpusat di Kampung Barong Tongkok. Pasar hanya buka sepekan sekali. Barang yang ada pun hanya berkisar pada kebutuhan konsumsi dan sangat terbatas. Kebutuhan lain hanya bisa didapat di Kota Samarinda, yang ditempuh dalam waktu sehari semalam menggunakan kapal motor menyusuri sungai.

“Tak heran jika kegiatan warga hanya terfokus pada satu tujuan, bagaimana memenuhi kebutuhan perut untuk bertahan hidup. Mau bicara pendidikan agama tanpa bukti dan contoh nyata, rasanya bak pepesan kosong,” ujar Arief.

Seiring perjalanan waktu, dalam kurun 22 tahun sejak pendiriannya, kini Pesantren Assalam mulai mendapatkan tempat di hati masyarakat. Pesantren ini telah memiliki lembaga pendidikan formal mulai Taman Kanak-kanak (TK) hingga Aliyah (SMA).

Pesantren Assalam tidak mengutip bayaran dari para santri alias gratis. Biaya operasional pondok berasal dari sumbangan donatur dan hasil unit-unit usaha pesantren, seperti usaha perkebunan, pertokoan dan Baitul Mal wa at-Tamwil (BMT).

Seluruh siswa atau santri yang belajar di pesantren mencapai 500 orang. Sebanyak 70 santri tinggal di pondok, sementara sisanya santri kalong, yakni tinggal di rumah masing-masing. Mereka dibina dan dididik oleh 70 tenaga pengajar.

Para pengasuh Pesantren Assalam terus berupaya meningkatkan komitmen dakwah dengan meningkatkan pengelolaan pendidikan pesantren. Selain itu, upaya pembinaan mualaf juga tetap dilakukan. “Semoga dengan upaya ini kami dapat menyemaikan cahaya Islam di pedalaman Kalimantan,” kata Arief.*

Posted in

One response to “Menyemaikan Islam di Pedalaman (2-habis)”

  1. Menyemaikan Islam di Pedalaman (1) – Catatan Silang Avatar

    […] Selain itu, dalam tiap kunjungannya di sejumlah titik dakwah, Arief selalu memberikan bantuan bagi mualaf binaan. Bantuan tersebut berupa alat perlengkapan shalat, mushaf Alquran, dan buku-buku tentang Islam. Bantuan berupa uang biasanya ia salurkan di bulan Ramadhan, bertepatan dengan pembagian zakat. (bersambung) […]

    Like

Leave a reply to Menyemaikan Islam di Pedalaman (1) – Catatan Silang Cancel reply