Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) negara-negara yang tergabung dalam Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) 2014 tak lama lagi bakal digelar di Cina, apa saja yang disiapkan Taiwan?
Setelah empat jam membelah angkasa, pesawat Boeing B747-400 berukuran jumbo milik maskapai Eva Air yang membawa saya dari Jakarta mendarat mulus di Bandara Internasional Taoyuan, Taipei, Taiwan pukul 20.45 waktu setempat.
Kedatangan saya ke negara yang masih ‘bermasalah’ dengan induk semangnya (Cina) itu atas undangan Kementerian Luar Negeri Taiwan (MOFA). Harian Republika diundang untuk meliput persiapan Taiwan dalam menghadapi konferensi tingkat tinggi (KTT) Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) 2014 yang bakal digelar di Cina.
Taiwan menjadi anggota APEC sejak 1991 silam. Kini negara pulau itu tengah meneguhkan posisinya dalam percaturan ekonomi di kawasan regional dan dunia.
Hari pertama, Selasa (23/9), kegiatan resmi saya di Taiwan dimulai dengan mengunjungi kantor Kementerian Pendidikan Taiwan. Masalah pendidikan termasuk dalam satu agenda utama yang akan dibahas Taiwan dalam KTT APEC pada November mendatang. Selain pendidikan, Taiwan juga fokus pada isu-isu ekonomi, perdagangan luar negeri, teknologi, pertanian, dan pengembangan sumber daya manusia.
Untuk meliput seluruh kegiatan pra-APEC Taiwan, MOFA mengundang tujuh tamu; lima orang jurnalis dan dua tamu khusus. Empat jurnalis lainnya adalah Lee Seok Woo (The Seoul Daily News-Korea Selatan), Shohei Mitsuka (The Shankei Shimbun-Jepang), Melissa Masatani (San Gabriel Valley Tribune-Amerika Serikat), dan Osmin Alfredo Garcia Montano (Tiempo-Honduras).
Sedangkan dua tamu khusus tersebut adalah Prof Yury Tavrovsky (Profesor Emiritus-Russian People’s Friendship University Moscow) dan Prof Axel Berkofsky (Senior Associate Research Fellow-Instituto per gli Studi di Politica Internazionale Milan). Selain melakukan riset, kedua tamu khusus ini juga diminta memberikan masukan pada pemerintah Taiwan terkait peran negara tersebut dalam forum APEC.
Saat tiba di kantor Kementerian Pendidikan Taiwan yang terletak di No.5, Zhongsan South Road, Taipei, kami disambut oleh Deputi Politik Menteri Pendidikan Taiwan Lucia S Lin, sejumlah pejabat Kementerian Pendidikan Taiwan, dan tokoh-tokoh universitas terkemuka Taiwan.
Lucia S Lin mengungkapkan sejumlah keberhasilan yang dicapai Taiwan dalam bidang pendidikan. Menurutnya, keberhasilan Taiwan dalam bidang pendidikan inilah yang turut menyumbang kesuksesan negara itu dalam bidang ekonomi sebagaimana yang terlihat saat ini.
Menurut Lucia, pendidikan di Taiwan ditargetkan untuk mengarah dan seiring sejalan dengan standar pendidikan internasional. Kementerian Pendidikan Taiwan, kata dia, terus berupaya membangun jaringan dan kolaborasi dengan universitas-universitas terbaik di dunia. Hal ini dilakukan sebagai upaya membangun masyarakat Taiwan agar mampu bersaing di kancah global.
“Saya yakin, dengan adanya kerja sama berkesinambungan dan jaringan yang terkoordinasi dengan universitas terkemuka di dunia, maka kami dapat menyediakan pendidikan terbaik bagi pemuda, masyarakat Taiwan, maupun masyarakat global secara keseluruhan,” ujarnya.
Kementerian Pendidikan Taiwan merupakan bagian dari Executive Yuan (kabinet) yang bertanggung jawab terhadap administrasi akademik dan pendidikan nasional. Termasuk di dalamnya program perencanaan pendidikan, penetapan kebijakan pendidikan serta pengawasan sistem pendidikan.
Di Taiwan, rata-rata jenjang pendidikan ditempuh dalam jangka waktu 20 tahun lebih—mulai pendidikan dasar (SD) hingga program doktoral. Taiwan juga menerapkan wajib belajar selama 9 tahun, yakni pendidikan dasar 6 tahun dan 3 tahun sekolah menengah pertama.
Pada jenjang pendidikan menengah atas, Kementerian Pendidikan Taiwan juga menyediakan sekolah-sekolah kejuruan bagi para pelajar yang ingin mendalami satu bidang keahlian tertentu. Pendidikan kejuruan ini lebih mengutamakan peningkatan skills, terutama di bidang teknologi dan industri.
Dengan sistem pendidikan yang ada saat ini, Taiwan telah berhasil mencetak generasi muda yang siap menghadapi tantangan di masa depan. “Walau demikian, kami terus berupaya meningkatkan sistem pendidikan yang ada. Salah satu caranya adalah menjalin kerja sama dengan lembaga-lembaga pendidikan terkemuka di dunia,” kata Lucia.
Perdagangan dan investasi
Perdagangan luar negeri merupakan sumber utama ekonomi Taiwan. Karenanya, Biro Perdagangan Luar Negeri Taiwan berusaha keras menghidupkan sektor ekonomi dengan melakukan promosi dan menjadi kerja sama ekonomi bilateral dengan sejumlah negara.
Salah satu tugas penting biro ini dalam menghadapi KTT APEC 2014 di Cina adalah memperluas jangkauan perdagangan dan kerja sama ekonomi. Selain itu, Taiwan juga akan melakukan pertukaran kunjungan antarpejabat tinggi dan pebisnis dengan negara-negara lain.
Taiwan juga telah menandatangani perjanjian kerja sama ekonomi dengan 39 negara. Hal ini dilakukan guna membantu pengusaha Taiwan dalam menjalin hubungan dagang dan bisnis dengan pengusaha luar negeri.
Biro Perdagangan Luar Negeri juga mempromosikan Perjanjian Proteksi Investasi dan Perjanjian Pencegahan Pajak Ganda dengan mitra dagang demi melindungi kepentingan investor Taiwan dan mengurangi biaya operasi.

Leave a reply to Taiwan Sekilas Pandang (2-habis) – Catatan Silang Cancel reply