Sembilan belas butir rekomendasi World Peace Forum(WPF) telah dikeluarkan. Sayang, semua rekomendasi perdamaian itu masih bersifat umum, tidak satu pun yang secara khusus menyoal konflik di negara tertentu, apalagi soal agresi Israel.
Forum internasional yang digelar tanggal 14-16 Agustus 2006 di Jakarta dengan mengusung tema one destiny, one humanity and one responsibilityitu membahas isu-isu kemanusiaan dan tantangannya, masa depan manusia di abab ke 21, serta format kerja sama global.
Acara ini diikuti oleh 94 orang aktivis perdamaian dari berbagai belahan dunia, mulai akademisi, mantan perdana menteri, tokoh agama, tokoh politik, hingga duta besar. Dari dalam negeri sendiri, sejumlah tokoh penting turut hadir, di antaranya Ketua PBNU KH Hasyim Muzadi, mantan Ketua PP Muhammadiyah Syafi’i Ma’arif dan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Azyumardi Azra.
Menurut Ketua PP Muhammadiyah yang juga merangkap Ketua Pelaksana WPF, Din Syamsuddin, digelarnya forum WPF merupakan tindaklanjut dari pertemuan forum dialog antar agama (kepercayaan) yang diikuti 14 negara selama empat hari di Yogyakarta pada bulan Desember 2004 lalu.
Din berharap forum ini menjadi sebuah langkah pembuka untuk mewujudkan perdamaian dan kerukunan nasional. “Forum ini bisa menjadi pelajaran bagi bangsa kita untuk memulai langkah mewujudkan perdamaian dan kerukunan nasional,” ujarnya.
Menurut Din, peradaban dunia kini terancam oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab dan sarat dengan kekerasan komunal yang didasarkan pada perbedaan etnis dan agama. “Kekerasan tak hanya berwujud dalam bentuk konflik fisik tetapi juga bisa dalam bentuk kelaparan maupun kesenjangan,” katanya.
Walau tidak tercantum dalam sembilan belas rekomendasi yang dihasilkan WPF, agresi Israel atas Palestina dan Libanon tetap menjadi bahasan hangat para peserta. Tak jarang, kritik tajam bahkan kutukan mengemuka ketika forum membahas tentang sikap brutal negeri zionis tersebut. Bahkan beberapa peserta dengan lantang menyatakan bahwa perdamaian dunia tidak akan pernah ada selama Israel masih ada.
“Kendala terbesar untuk mewujudkan perdamaian di dunia adalah keberadaan Israel. Selama ini Israel telah menguasai dan terus melakukan pendudukan dan agresi terhadap Palestina. Selama Israel masih ada, perdamaian sulit diwujudkan,” ujar peserta asal Iran, M. Ayatulloh Ali Tasykhiri.
Walau demikian, ulama yang juga Penasehat Presiden Iran (Mahmood Ahmadinejad) ini, yakin bahwa perjuangan Hizbullah di Libanon dan Hamas di Palestina akan menang melawan Israel. “Kami percaya bahwa telah banyak kelompok-kelompok kecil dapat mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah SWT,” kata Tasykhiri.
Menurut dia, agresi yang dilakukan Israel terhadap Palestina dan Lebanon tidak dapat dibenarkan secara hukum maupun politik. Namun karena restu Amerika, Israel bisa melakukan apa saja.
“Oleh karena itu, kami yakin jika semua umat Muslim di dunia mau berjuang bersama-sama Hizbullah maupun Palestina dalam melawan Israel dan sekutunya (Amerika), maka Islam akan menang,” tegasnya.
Tasykhiri juga melihat perang melawan Israel adalah perang ideologi (agama) dan politik karena keduanya berjalan seiring dan itu telah sesuai dengan firman Allah di dalam Al-Qur’an, di mana Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah ridha kepada umat Islam, sebelum umat Islam mengikuti agama mereka.
“Padahal, sebagai umat Islam tentu saja kita tidak akan pernah rela dan ridha mengikuti langkah-langkah mereka. Sebagai umat Islam, kita harus tetap bersatu padu dalam membela agama Allah dari serangan mereka,” tandasnya.
Dubes Palestina Untuk Indonesia, Faris Mehdawi, yang juga mengikuti acara tersebut berharap WPF mampu memberikan rasa keadilan bagi rakyat Palestina dan Lebanon yang kini terus dianiaya Israel.
“Publik internasional harus bertanggungjawab terhadap apa yang kini terjadi negara itu. Pemerintah Indonesia diharapkan pula terus memberikan respons dengan mendesak agar kekuatan dunia segera dapat mewujudkan perdamaian di Palestina,” ujar Faris.
Dalam pandangan Faris, Israel bukanlah super power, namun berani bersikap arogan karena mendapat perlindungan dari negara besar. “Bila Israel ingin hidup damai, maka dia juga harus menghormati kedaulatan negara lain yang berada di kawasan Timur Tengah. Tanpa bersikap seperti ini, maka tidak mungkin Israel akan dapat hidup dengan damai,” tegasnya.
Sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia diharapkan mampu berperan dalam mewujudkan perdamaian dunia, khususnya di Palestina dan Lebanon yang kini diagresi Israel. Hal ini diungkapkan oleh Dubes Syuriah Untuk Indonesia, Mohammad Baladi.
“Kami menginginkan diberikannya keadilan kepada rakyat Palestina. Dan ini harus diberikan bila ingin membicarakan soal perdamaian. Bagaimanapun, prasyarat dasar perdamaian adalah ditegakkannya perdamaian. Apalagi Lebanon dan bangsa Palestina sudah menjadi ladang penghancuran,” kata Baladi.
Lalu bagaimana cara mewujudkan perdamaian itu? Ketua Umum PBNU, KH Hasyim Muzadi mengatakan, ajaran Islam bisa menjadi solusi dan pendorong penyebarluasan perdamaian. Islam memiliki nilai-nilai non-kekerasan (salam), adil (‘adalah), kebebasan (hurriyah), moderasi (tawassut), toleran (tasamuh), keseimbangan (tawazun), musyawarah (syura) dan kesamaan (musawah).
”Untuk memberi arti bagi implementasi perluasan kultur perdamaian, kami memang mendasarkan pada norma itu. Ini kami lakukan mulai dari unit paling kecil yakni keluarga. Kemudian diluaskan radiasinya kepada masyarkat, negara dan seluruh dunia,” ujar Muzadi.
Kini WPF telah menghasilkan sembilanbelas rekomendasi perdamaian yang disebut The Jakarta Peace Declaration. Akankah rekomendasi itu hanya sebatas ruang bagi kata-kata tanpa implikasi nyata? Sebagai Ketua Pelaksana WPF, Din Syamsuddin dengan tegas menyatakan, rekomendasi itu sendiri telah berdimensi praktis, bukan lagi teoritis.
“Sebagaimana tertuang dalam rekomendasi nomor sembilanbelas, maka Muhammadiyah dan MSC (Masyarakat Multi Cultural) mengajak elemen-elemen dan masyarakat lain di Indonesia maupun di luar Indonesia termasuk pemerintah untuk menindaklanjuti apa yang tertuang dalam rekomendasi yang sesungguhnya merupakan langkah-langkah kongkret, oleh karena itu perlu kita laksanakan,” ujarnya.
Setelah ini, kata Din, Muhammadiyah dan MSC mencoba menyusun suatu mekanisme untuk melakukan pemantauan, monitoring dan pengendalian kepada apa-apa yang telah direkomendasikan dan sebagaimana saran forum. “Kita akan melanjutkan WPF di masa-masa yang akan datang, minimal sekali dalam dua tahun,” katanya.
Semoga saja rekomendasi yang disebut The Jakarta Peace Declaration itu tidak hanya menjadi macan kertas semata, namun menjelma dalam sikap hidup dan kehidupan umat manusia.*

Leave a comment